Prolog

4.8K 610 19
                                        

Prolog

"Ibunya dihadapkan pada kegelapan untuk membangkitkan kerajaan dan ayahnya bertahan hidup seratus tahun demi keadilan. Anehnya, anak mereka bukan mengikuti jalan kedua orang tuanya." Seorang pedagang berceloteh hingga mulutnya berbusa. Dia bahkan tak memedulikan pembelinya yang ingin cepat-cepat pergi dari tokonya itu.

Demi menghargai usaha keras sang pedagang bercerita, pembeli itu menanggapi, "Lalu, apa yang dilakukan anaknya?"

Pedagang itu menimbang daging sapi, mengukur beratnya, lalu memotongnya hingga menjadi bagian-bagian kecil. "Anak itu, tugasnya hanya mencari bagian yang hilang. Entah apapun itu artinya."

"Dia lahir saat Matahari kembali bersinar begitu gerhana usai," gumam si pedagang, "seluruh pemimpin dari empat kerajaan sudah berkumpul dan menantikan pembacaan takdir hidupnya, tapi tak ada apapun. Peramal terhebat istana saja tak tahu apa yang akan menanti anak itu."

Sejenak pedagang daging itu berhenti untuk menghela napas. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Dia mendekat pada telinga sang pembeli, berbisik, "Peramal itu hanya mengatakan satu kalimat saja. Dia mengatakan bahwa anak itu memiliki beban bagaikan Matahari yang menjadi patokan kelahirannya."

"Aku tidak mengerti," desah si pembeli.

"Begitu pun kami semua," kata si pedagang itu seraya menyerahkan sekantong daging. "Jika ibarat Matahari, itu berarti dia akan melalui semuanya sendirian. Bersinar sendirian, dan tenggelam sendirian. Aku tidak ingin kehilangan raja dan ratu yang sekarang jika pikiran terburukku ternyata benar. Sudah tujuh belas tahun, mungkin memang bukan seperti yang kupikirkan. Semoga pangeran baik-baik saja hingga seterusnya. Kerajaan ini mungkin sudah lama, namun sekaligus masih asing bagi kami orang baru. Jeda seratus tahun, lalu tiba-tiba ingatan leluhur kami kembali, mau tak mau kami harus kembali ke sini. Jadi, kami tak ingin ada masalah apapun itu. Apalagi sekarang aku harus mengurus putriku yang sakit. Tidak ada waktu untuk hal lain. Tugas seorang ibu memang berat."

Mengganti arah pembicaraan, pedagang itu berfokus pada pakaian yang dikenakan si pembeli. Pakaiannya berbalut jubah panjang berwarna hijau tua. Pembeli itu berkulit putih pucat dan warna rambutnya putih keperakan tertutupi oleh tudung jubahnya. Netranya berwarna kehijauan senada dengan pakaiannya. Sangat asing. "Apa kau pengembara? Pakaianmu tidak cocok dengan pakaian orang Roshelle. Aku pernah ke timur Iridis, namun pakaian mereka juga tidak sepertimu, lebih sederhana. Ratzell di selatan berpakaian terbuka karena dekat laut, tapi pakaianmu cenderung tebal. Dan orang-orang barat seperti Frautzell selalu beraksesoris banyak dari ujung kepala hingga kaki, tidak sepertimu. Tuan, kalau boleh tahu... dari mana?"

Pembeli itu meraih kantong yang diberikan sang pedagang dan memberikan beberapa keping koin perak. "Masih di tanah Zelvallace ini."

Pedagang itu mengangguk. "Ah, tapi kerajaan mana?"

"Elfian."

Pedagang itu kembali mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau begitu, semoga perjalananmu baik-baik saja."

Dengan seulas senyum, pembeli itu berlalu. "Baik, semoga dagangan Anda juga lancar."

Pedagang itu melambaikan tangan. Orang asing yang ramah, pikirnya. Ia pun kembali meraih pisau jagal dan menghitung uang. "Dia juga memberikan uangnya terlalu banyak."

Menyadari sesuatu terlewatkan, pedagang itu kembali berpikir.

"Tunggu, dia bilang dari kerajaan mana?"

Ketika pedagang itu berbalik, hendak kembali mengamati, orang itu sudah tidak terlihat lagi. Padahal jeda waktu mereka tidak terlalu lama.

Dengan napas tercekat, pedagang itu kembali mengamati koin perak yang diterimanya. Akan tetapi, koin itu sudah berubah menjadi sekuntum bunga yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Dia terkejut bukan main.

Lalu dia menyadari ada sebuah catatan yang menyertai bunga itu.

Gunakan untuk mengobati putrimu.

***

The Next King - White || BlancTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang