"Jaemin adalah masa lalunya yang indah. Bertemu dalam dusta yang dikepung oleh kuasa. Waktu berdentang, bergerak mengalahkan detak yang berpacu. Mengalahkan keinginannya untuk lari, lari yang jauh."
NOMIN 18+
Jaeyong, Markhyuck, Luwoo
MAFIA
DARK
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Serigala memusatkan hidup mereka pada kawanan. Bersatu dalam lingkar cerita yang mengikat kepercayaan."
...
Ditemani degup jantung yang tidak karuan, pemuda Lee berlari menjauhi sudut gedung berwarna abu-abu itu dan segera menuju gedung lain yang lebih kecil berplakat 703.
Nafasnya hampir habis karena berlari seperti orang kesetanan. Rasanya setiap langkah yang dipijak sudah melewati beberapa menit dan membuat kepalanya hampir pecah. Haechan tidak tahu jika sebuah kejutan bisa memberi efek sebegitu hebatnya. Dia benar-benar berada di posisi tanpa tapak apa pun yang bisa jadi tempatnya mendarat. Peristiwa yang baru saja disaksikan kedua matanya tadi ibarat serangan rudal dari musuh tanpa aba-aba.
Kim Jungwoo dan Lucas adalah komplotan pengkhianat. Jika informasi itu tidak membuat siapa pun terkejut, maka Haechan tidak percaya.
Haechan masuk menerobos pintu 703 dengan tergopoh-gopoh. Matanya menangkap sosok penghuni lain yang kini ikut menatapnya kaget.
"Haechan-ah, ada apa?" tanya salah seorang penghuni yang masih memegang dadanya karena terkejut.
Haechan tidak menjawab dan langsung menelisik seluruh isi rumah mungil itu dengan nafas masih tersengal-sengal. Bahkan untuk duduk sejenak saja dia tidak mampu.
"Jaemin!"
Pemilik nama itu mengadahkan kepalanya dan bertemu tatap dengan sahabatnya selama se-persekian detik. Entah dorongan darimana yang datang tiba-tiba, Haechan langsung jatuh memeluk tubuh si pemuda Na amat sangat erat.
"Haechan, kenapa?" Suaranya menghantarkan nada khawatir karena kebingungan setengah mati. Posisi duduknya menjadi sedikit tidak nyaman karena harus menopang tubuh Haechan.
"Jaemin, aku tidak tahu bahwa hidupmu serumit ini," katanya lirih, hampir seperti bisikan. Tangannya kini bergerak mengelus belakang kepala sahabatnya dengan penuh perhatian. Empatinya sedang bermain dan menunjukkan sedikit kasih sayang bukanlah hal yang salah.
"Kau sedang bicara apa, sih?" Kali ini Jaemin mencoba untuk menyelipkan guyonan dalam kalimatnya. Pemuda itu juga terkekeh meski jantungnya bertalu-talu.
Dia merasa bahwa semua yang dikatakan Haechan berkaitan dengan hal yang selama ini disembunyikan oleh dirinya sendiri. Bahwa dia diikat oleh banyak ancaman.
Pelukan itu terlepas dan menampakkan wajah Haechan yang hampir menangis. Jaemin mengernyitkan dahi keheranan, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jujur saja, untuk meluruskan segalanya di depan Haechan juga bukan hal yang mudah. Dia belum siap.