The First Night #35

302 20 2
                                        

"Dan mimpi itu pun menjadi pembuka malam pertama kita yang sebenarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dan mimpi itu pun menjadi pembuka malam pertama kita yang sebenarnya."



...



Suasana panas yang tadi cukup membara nyatanya hanyalah pembuka bagi penghujung hari mereka berdua. Jeno dan Jaemin jatuh dalam satu memoir lama atas nama nostalgia. Seluruh kenangan indah di masa yang telah lalu itu akhirnya datang lagi, menari-nari diiringi lagu cinta. Mungkin kata rindu pun tidak cukup menggambarkan segalanya.

Masih berada di dalam bangsal rumah sakit yang kosong ditemani sinar jingga yang masuk melalui lubang-lubang dinding. Seolah memberi kabar bahwa malam akan segera tiba, mereka diburu waktu.

Bagai dejavu, peristiwa ini mengingatkan Jeno pada mimpinya beberapa waktu lalu. Terlalu mirip hingga ia merasa adegan bunga tidur itu sedang berpindah dimensi menjadi realita. Tapi ia tak terlalu ambil pusing dan memilih fokus menikmati momen ini. Melupakan sejenak puncak klimaks dari masalah yang kapan saja bisa terjadi. Melupakan jika ada bom yang bisa meledak kapan saja. Suasana rumah sakit yang sepi seolah memberi kesempatan bagi mereka berdua. Kesempatan untuk bertemu dengan perasaan asing yang baru pertama kali datang. Kesempatan untuk hanyut dalam hasutan gelap bernama nafsu.

Kamar dengan bau obat menyengat itu mulai terasa panas. Pendingin ruangan yang sudah bekerja keras hanya bisa menyerah. Ia kalah pada ketegangan seksual yang terjadi antara dua insan di sana.

Na Jaemin yang mulai ikut hanyut dalam hasrat yang Jeno bagi akhirnya ikut jatuh. Tatapan matanya yang sayu memandang sepasang kristal lain, bertemu dalam satu diskusi batin. Jeno juga sama kacaunya. Ingin menyuarakan semua imajinasi kotor yang saat ini berputar di kepala, tapi yang muncul hanyalah diam.

Entah siapa yang memulai, pemuda Na sudah berada di atas pangkuan pria itu. Jeno duduk di samping ranjang rumah sakit yang empuk. Beban tubuh kekasih hatinya bukan masalah besar, justru dia ketagihan. Menarik pinggang ramping Jaemin untuk semakin menempel. Mereka tidak terpisah oleh jarak apa pun. Ketika Selatan bertemu dengan Selatan yang lain, tumbuh lah menara dari dasar tanah yang kini berdiri tegak. Entah apa itu.

Tangan si cantik bertengger pada bahu kokoh lawan mainnya. Jari-jarinya bergerak tanpa arah, kadang menyentuh rambut Jeno, kadang mengelus tengkuknya, atau hanya melayang pasrah. Hawa panas melingkupi tubuh mereka karena kulit yang bertemu hanya dipisah lembaran kain, seolah ada lem perekat di antara keduanya.

Sudah beberapa menit mereka berada pada posisi itu dengan wajah yang hampir bersentuhan. Dua pasang telinga bisa mendengar masing-masing detak jantung yang tidak beraturan. Terpaan nafas kian bertabrakan, berlomba untuk jadi siapa yang paling cepat menyerahkan diri. Siapa yang paling cepat kalah dalam permainan ini.

703Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang