Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

The End of The Story #40

710 40 2
                                        

"Dan kita pun bersatu bagai sejoli dalam akhir puisi."



...



Tubuh seorang Johnny Suh kini hanya terkapar tak terbentuk setelah Jeno membombardir serangan padanya. Pukulan, tendangan, tikaman belati tajam dan diakhiri dengan tembakan peluru pada tiga titik paling vital. Padahal Johnny sudah tewas sejak tengkoraknya retak, tapi Jeno tidak berhenti menyiksa tubuh tak bernyawa itu tanpa moral.

Tawa mengerikan terus saja berkumandang keras dari mulutnya yang ikut menyeringai lebar. Dia seperti raja psikopat saat ini.

Seluruh pakaiannya bersimbah darah segar milik musuh bebuyutannya sendiri. Bukti bahwa dia adalah orang terakhir yang berdiri sebagai pemenang. Dia yang punya kuasa lebih tinggi dan jalan lebih terang.

Menggunakan kedua kaki yang masih tertatih-tatih karena tenaga yang dipangkas habis oleh adrenalin, pria itu melangkah turun ke bawah menara. Perlahan-lahan seolah menikmati puncak kejayaan yang sudah berada di bawah kakinya. Ia masih bisa mendengar suara tembakan dan riuh redam pertarungan dari luar meski tidak seramai beberapa waktu yang lalu. Entah pasukan siapa yang punya sisa nyawa paling banyak, Jeno tetap bahagia luar biasa karena Johnny sudah terbunuh.

Langit yang tadinya gelap pun semakin gulita. Hanya ada hitam di atas sana, bintang dan bulan ikut takut dan sembunyi dalam dingin yang mencekam. Pertumpahan darah paling besar di abad itu telah menjadi bukti bahwa Lee Jeno menang.

Senyumnya kembali terpatri saat dia melihat pasukan yang selama ini berlatih di bawah kuasanya adalah orang-orang yang masih berdiri tegak di atas tanah. Beberapa dari mereka masih terus menembakkan amunisi pada pihak lawan yang sudah terlalu jauh kalah jumlah.

Meskipun masih ada pasukan distrik pusat, Jeno tahu encounter paling tepat untuk melawan mereka. Hanya Na Jaemin seorang. Itu adalah rencana mereka sebelum berangkat malakukan misi tersebut. Sebagai putra semata wayang Suh Kangjoon yang selama ini dicari-cari, Jaemin tentu punya peran paling penting untuk menolong sisa sandera Stone Cold agar bisa selamat.


"Kau adalah passcode untuk masuk ke zona bebas, Na!" kata Jeno memecah hening di sana.

Mereka semua masih berdiri mematung di samping pintu keluar tempat Lucas terbunuh. Jasad pria itu bahkan masih terdampar di atas ilalang kering yang kini ikut tersiram merahnya darah.

Sang ketua yang menemukan ide cemerlang itu tak kunjung berhenti bicara. "Bukankah akan menjadi hal tolol untuk Kangjoon membiarkanmu tak bisa masuk ke dalam zona bebas lalu terinfeksi virus? Ayolah, dia mencarimu selama ini, bukan? Orang itu bahkan rela membantu misi Lucas dengan iming-iming keselematan nyawamu sebagai anaknya. Kau adalah pewaris seluruh tahta dan aset Suh Kangjoon, Nana!"

Semua mata memandang Jeno dengan tatapan tak bisa diartikan. Perkataan itu terlalu penuh kepercayaan diri. Bisa saja Kangjoon tidak peduli dengan Jaemin, bisa saja dia membiarkan seluruh sandera Stone Cold menunggu sia-sia di luar zona bebas, atau justru dibunuh secara massal oleh pasukan distrik pusat.

Apa yang dilakukan Jeno saat ini tak selebihnya sebuah gambling.


...


Permainan rumus peluang di luar ilmu matematika itu akhirnya berlangsung. Sekitar 71.127 sandera Stone Cold yang masih hidup berjalan beriringan mengikuti arahan ketua divisi masing-masing. Pada baris paling depan -baris yang berhadapan langsung dengan gerbang zona bebas dan pasukan militer distrik pusat- berdirilah seorang Na Jaemin.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 24, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

703Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang