Your Beginning is My Apocalypse #23

1.9K 240 380
                                        

"Kita berdiri bagai bidak catur di atas papan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kita berdiri bagai bidak catur di atas papan. Kau melawan dan aku kalah. Kau memulai dan aku hancur seketika."



...




Jeno terlahir dengan nama Lee Joon, diambil dari nama asli mendiang ayahnya -Lee Joonhyuk- yang Agung. Dia punya kisah hidup yang membingungkan bahkan untuk dirinya sendiri. Takdir membuatnya lahir dalam keluarga kaya raya, terlalu kaya hingga mampu menguasai sebuah negara di jaman dulu. Telah mengalir cairan gelap dalam darahnya berkat semua hasil kotor pendahulunya. Dia sempat makan dan minum dari uang haram itu meski hanya sesaat.

Perang yang terjadi antara keluarganya dengan keluarga Hwang Chansung di musim gugur tahun 2050 memberi akhir yang tragis. Semua yang menduduki rantai jabatan dalam ekosistem shadow economy Lee tewas di tempat. Hanya dirinya seorang yang selamat berkat perlindungan dari Choi Hakyeon, bawahan Joonhyuk yang setia luar biasa. Pria itu menyelamatkan Jeno dan mengangkatnya sebagai anak di bawah atap rumahnya.

Saat itu Jeno baru berusia tiga tahun dan tidak memahami keadaan sekitar dengan baik. Banyak hal terlihat abstrak bagi balita itu. Membuatnya tumbuh tanpa menyadari bahwa kehadirannya membuat rumah tangga sang ayah angkat justru hancur berantakan. Dia tidak pernah tahu bahwa Paman Choi yang sangat diseganinya itu pernah memiliki istri dan seorang anak laki-laki, darah dagingnya sendiri. Dia tak pernah tahu apapun.



Setidaknya sampai hari ini.

Setelah melakukan diskusi dengan para Guardians dan muncul kecurigaan aneh pada Lucas, Jeno memilih beranjak dari rapat dan masuk ke dalam ruangan miliknya. Untuk sesaat, dia merasakan momen yang membuat bulu kuduknya merinding.

Entah mengapa, dia baru menyadari bahwa Lucas terlihat begitu mirip dengan Paman Choi. 

Dari bentuk wajah, matanya yang besar, bibirnya yang tebal, alisnya yang bergaris tajam juga ekspresi yang muncul begitu saja. Mereka terlihat seperti sepasang ayah dan anak yang terpisah. Dan hal itu membuat Jeno memutuskan untuk bergerak mengikuti instingnya, daripada bertahan dengan tanda tanya.

Ya, dia akan menghubungi Paman Choi secara spontan.



"Jeno!" Suara itu mengucap namanya dengan intonasi lembut dan mampu menciptakan gelenyar rindu yang beberapa tahun sudah dipendam Jeno dalam-dalam.

"Paman Choi, maaf tiba-tiba menghubungimu begini," ucapnya dengan senyum tipis.

"Hei, tidak masalah, aku punya banyak waktu untuk mengobrol denganmu. Sudah lama kau tidak meneleponku. Bagaimana kabarmu, Nak?" Pertanyaan itu meluncur diselingi tawa khas pria paruh baya.

703Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang