The Perks of Being a Wallflower #15

3.8K 480 147
                                        

"Dialog dan epilog punya prolog di dalamnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dialog dan epilog punya prolog di dalamnya. Kisah kita berdua, punya cerita panjang mengawalinya."




...




Keluarnya Britania Raya dari Uni Eropa melahirkan sebuah ultimatum bernama Referendum Brexit. Banyak yang menduga bahwa peristiwa itu bisa membuat 1,7 juta masyarakat terkena dampak keruntuhan ekonomi masal. Prediksi dari para ahli nyatanya hanya berakhir menjadi prediksi belaka. Ekonomi dunia memang sempat terguncang, namun tidak ada gelombang kelaparan seperti yang sempat digembor-gemborkan oleh media.

Saat itu akhir tahun 2016 dan sebuah organisasi pembelot dari Uni Eropa mulai menampakkan tanduknya di dunia bisnis bawah tanah. POFWAR atau Perks of Being a Wallflower  yang dipimpin oleh ketua shadow economy dari Jerman, keluarga Schwarz. Organisasi itu menyatakan perang pada Inggris atas keputusan kerajaan yang menguasai sebagian besar suara demokrasi rakyat, seolah-olah warga Inggris memang punya suara atas kebencian mereka pada Eropa. Padahal, rencana itu hanya akal bualan dari para anggota kerajaan dan pejabat tinggi yang merasa geraknya dikekang oleh negara bagian lain. Keluarnya Inggris sempat mengubah tata aturan hukum dan sistem perdagangan yang mengakibatkan para pebisnis ilegal semakin kesulitan menjalankan aksi. Di lain sisi, POFWAR juga punya tujuan untuk memecah Eropa menjadi negara-negara independen. Sekalian, kata mereka.


Lantas mengapa penguasa shadow economy begitu terpacu untuk memecah sebuah komunitas raksasa yang sudah berusia puluhan tahun?

Jawabannya singkat saja. Karena bisnis dunia bawah tanah akan jauh lebih mudah berkembang jika negara-negara besar tersebut tidak terkekang dalam satu perjanjian hukum. Mereka bisa membangun kartel narkoba di Eropa secara terbuka, menjual pasokan senjata dari negara lain tanpa harus meminta ijin pada negara "sahabat" yang mungkin punya dendam pada pihak yang bersangkutan, serta banyak keuntungan lain.

POFWAR menarik minat dari banyak konglomerat di seluruh Eropa, dan tanduk yang semula hanya serupa mahkota domba kecil itu kini mulai terlihat seperti milik iblis. Sinyal-sinyal pemberontakan mereka juga diterima oleh banyak negara adidaya lain seperti Amerika dan Rusia. Rusia yang begitu menginginkan Eropa pecah pun ikut mendanai POFWAR secara besar-besaran. Keluarga shadow economy tertua di Rusia milik Yegor Kozlov adalah pemberi suntikan dana paling besar. Hal itu membuat mereka menjadi pemimpin cadangan dalam organisasi.

Seiring berjalannya waktu, tujuan itu pun berhasil. Pada tahun 2031, Uni Eropa akhirnya benar-benar pecah.

Sayangnya, 14 tahun setelah POFWAR berjalan, mulai bermunculan para pengkhianat yang menusuk dari belakang. Mereka datang dari keluarga pengusaha di Italia dan Prancis. Banyaknya fitnah yang mengepung mereka akhirnya membuat POFWAR mulai runtuh karena hilang kepercayaan dari anggota lainnya. 

703Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang