"Jaemin adalah masa lalunya yang indah. Bertemu dalam dusta yang dikepung oleh kuasa. Waktu berdentang, bergerak mengalahkan detak yang berpacu. Mengalahkan keinginannya untuk lari, lari yang jauh."
NOMIN 18+
Jaeyong, Markhyuck, Luwoo
MAFIA
DARK
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ketika penjahat berteriak pada penjahat."
...
"Kata siapa aku masih membencinya?" tanya Jaemin tanpa gentar.
Situasi kali ini begitu canggung karena dia baru saja menjadi saksi dari badut sirkus paling jenius bernama Lucas Benjamin.
Tawa meremehkan yang terdengar dari sang lawan bicara membuat Jaemin berjengit. Kini dirinya mulai merasakan aura kejahatan dari hacker itu dan ingin sekali berteriak memanggil Yuta.
"Kau pikir aku tidak punya cara lain?" Suaranya hampir seperti bisikan dan entah bagaimana membuat seisi ruangan seolah kosong dan dingin.
"Kau sendiri adalah umpan paling besar dalam misi ini, kau tidak pernah tahu bahwa ada banyak mata terpasang di belakang punggungmu dan mengincar dagingmu seperti kawanan predator. Na Jaemin, kalau kau berpikir bahwa tunduk pada Jeno adalah pilihan yang tepat, maka kau salah besar. Jeno memang punya kendali dan kuasa penuh atas Stone Cold, tapi dia tidak tahu bahwa senjataku bisa meruntuhkannya dengan sekejap mata. Kau tahu apa itu?" katanya dengan seringai di wajah.
Nafas si pemuda Na hampir tercekat dan dia merasakan udara menekan di dalam dadanya, sukar dihembus keluar. Seolah seluruh otot dan tulangnya dirajut dalam ikatan tali mati dan membuat tubuhnya kaku tak bisa berkutik. Ibarat ada moncong peluru yang ditodong di atas kepalanya sendiri sebagai ancaman.
Situasi ini benar-benar menegangkan, pun kini dia menyadari bahwa Lucas tidak bercanda. Ada sorot dalam matanya yang menyatakan kebenaran, kepercayaan diri yang tak mampu digali habis saking penuhnya. Jaemin berada di posisi checkmate. Skak mat. Tidak ada jalan lain selain mengikuti alur permainan pria itu atau semua akan hancur sia-sia.
"Aku tanya padamu, apa kau tahu senjataku untuk melawan Jeno?" desaknya lagi, kali ini tanpa ekspresi.
Yang ditanya hanya bisa menggeleng patah-patah. Bunyi suara tercekat keluar dari mulutnya dan dia semakin ketakutan.
"Kau!"
Dalam hitungan beberapa detik ucapan pria itu berhenti. Mereka saling menatap dengan dua maksud yang berbeda. Ibarat predator dan mangsa yang sudah berada di klimaks cerita.
"Kau adalah umpan dan juga senjataku, Na Jaemin. Aku tahu semua hal tentang dirimu dan apa yang bisa kau lakukan untuk membuat Jeno terjatuh. Bahkan hanya dengan kehadiranmu di sini, semua rencanaku sudah melangkah setengah jalan. Aku sangat berterima kasih padamu dan pada latar belakangmu yang sangat mengesankan. Membuatku punya bantuan paling kuat yang tak pernah bisa dibayangkan Jeno sekalipun."