15

1.1K 58 12
                                        

Armand duduk di kursi kebesarannya dengan wibawa yang pekat. Kursi itu berlapis kulit hitam dengan sandaran tinggi, nyaman namun tetap mempertahankan kesan formal. Ia menyimpan kepalan tangannya di atas meja kerja besar yang mengilap. Tumpukan berkas tertata rapi di satu sisi, sementara laptop terbuka dan sebuah lampu meja modern menemani di sisi lainnya.

Ruangan itu luas, dindingnya berwarna abu-abu gelap, memberikan kesan elegan. Lampu gantung minimalis menjuntai dari tengah langit-langit, sementara lampu lantai berdiri di sudut ruangan. Karpet tebal berwarna gelap melapisi lantai, meredam setiap langkah kaki yang berpijak di atasnya.

Jendela besar di sisi kanan memperlihatkan pemandangan jalanan yang sepi. Tirai sebagian terbuka, membiarkan sedikit sinar matahari masuk, menciptakan bayangan samar di lantai.

Tepat di sisi belakang punggung Armand, sebuah lemari kaca besar berdiri megah, berisi deretan piala, plakat penghargaan, dan sertifikat yang tertata sempurna. Sedangkan di seberang pria itu, kursi tamu berlapis kulit hitam berada di depan meja kerjanya, menjadi tempat duduk bagi seorang pria paruh baya berbalut jas formal yang kini tengah menatap Armand searah garis lurus.

Paruh baya berbadan kokoh itu melemparkan senyuman tipisnya. Ia terlihat santai, tapi tak menghilangkan kesan dominannya. "Bagaimana kabarmu?" ujarnya, memulai percakapan.

"Pa--" Armand baru hendak merespons, tetapi kalimatnya terpotong saat pria itu tiba-tiba bangkit tanpa permisi.

Ia melangkah ke sisi ruangan, lalu menyalakan dan mematikan lampu lantai tanpa sebab. Armand mengerjapkan matanya, merasa pening dengan ulah aneh itu.

Sayangnya, pria itu belum selesai. Ia berjalan ke belakang kursi Armand, jari-jarinya menyapu permukaan lemari kaca yang berisi deretan penghargaan. Gerakannya lambat, seolah menikmati setiap sentuhan. Kemudian, tanpa tergesa-gesa, ia kembali duduk di kursi tamu, memasang ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa.

"Garesha Corp beruntung memiliki direktur operasional sepertimu, Nak," ucap pria itu. Suaranya rendah, nyaris bergema di ruangan luas itu, membawa sesuatu yang lebih dari sekadar pujian.

Armand menghela napas, menyandarkan tubuhnya ke kursi. Meski posturnya tampak santai, ada ketegangan halus di garis bahunya. Tatapannya lurus searah pria di hadapannya. "Apa yang membawa kau ke sini, Pa?" tanyanya, dengan suara tetap sopan--terlalu sopan.

Arjuna berdecak samar, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja di antara mereka. "Aku datang bukan sebagai papamu, Nak. Aku membawa perintah."

Armand tersenyum tipis, tapi matanya tidak tersenyum. Ada jeda sejenak sebelum ia merespons, mempertimbangkan kata-katanya. "Baiklah, Tuan Presdir. Apa hal penting yang membuatmu datang padaku secara tiba-tiba tanpa mengabari."

"Aventis Corp mengundangku untuk menghadiri perayaan ulang tahun mereka," ucapnya dengan nada ringan, seolah itu hanya undangan biasa.

Armand mengangkat sedikit alisnya. "Kita tidak pernah memiliki hubungan bisnis dengan Aventis. Mereka hanya ingin menaikkan citra dengan mengundangmu," komentarnya tanpa basa-basi.

Pria di hadapannya tersenyum tipis, tatapannya tajam dan mengamati setiap detail ekspresi Armand. "Benar. Kehadiran Garesha sebagai pemimpin industri teknologi memberi mereka validasi di mata industri."

Armand mengetuk-ngetukkan jemarinya di permukaan meja, mencoba berpikir jernih di bawah sorot mata pria itu. "Kita menjaga relasi, tanpa mengubah posisi," katanya, suaranya tetap stabil.

Arjuna mengangguk perlahan, seolah sudah memperkirakan jawaban itu jauh sebelum Armand mengatakannya. "Tepat. Kau yang akan mewakili," katanya, suaranya terdengar mantap--bukan sekadar pernyataan, melainkan keputusan yang sudah diambil untuknya.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang