23

1.1K 64 18
                                        

Baron memasuki kamar itu tanpa sepatah kata pun. Ia membawa nampan berisi seporsi nasi dan sup ayam hangat. Wajah datarnya langsung tertuju pada Sarah yang semula tengah bersandar di kepala ranjang, lantas ia langsung memasang posisi waspada ketika dirinya masuk. Tatapan wanita itu yang gemetar, wajahnya yang berbalut pucat, serta pelipis dan lehernya yang banjir keringat tak lekang dari perhatian Baron.

Sang pria meletakkan barang bawaannya di atas nakas. Ia meraih termometer digital. Ketika dirinya mendekat ke arah Sarah, ia segera beringsut menjauh.

Baron menarik napas jengah. "Baiklah. Lakukan sendiri," ujarnya sinis seraya menyodorkan benda itu pada Sarah.

Sarah menerimanya, lantas ia mengapitnya di antara ketiak. Ketika termometer berbunyi, wanita itu menariknya. Benda tersebut menunjukkan bahwa suhu tubuhnya adalah 39° celsius.

"Suhu Anda tinggi sekali. Segera habiskan makanannya. Saya sudah menyimpan beberapa butir obat di nampan itu," instruksinya, "Saya akan menyiapkan kompres air hangat," ujarnya, sebelum ia berlalu meninggalkan kamar.

Selepas kepergian Baron, Sarah kembali merilekskan punggungnya pada kepala ranjang. Perutnya memang kosong. Ia merasa lapar, tapi entah mengapa sama sekali tak selera makan. Sarah hanya menyimak obrolan kepulan-kepulan asap yang mengambang di atas mangkuk. Mereka seperti menyorakinya dengan beberapa ejekan kasar sebelum akhirnya lenyap begitu saja.

Sarah mengernyit. Ia tak suka mendengarnya. Tanpa pikir panjang, jemari kosongnya menyeret nampan itu hingga membentur dinding. Pecahan kaca dan makanan berserakan ke sudut ruangan.

Dari luar kamar, suara pantofel yang tergesa-gesa terdengar mendekat. Baron terkejut mendapati kekacauan yang baru saja terjadi. Ia segera meletakkan wadah air dan handuk yang dibawanya ke atas nakas.

Pria itu melempar tatapan nyalang kepada Sarah. "Kau bajingan, Nona. Apa kautahu seberapa ingin saya menghabisimu saat ini?"

Sorot Sarah langsung mengunci dua telapak tangan Baron yang terangkat di udara. Wanita itu segera meraih bantal, lantas melindungi tubuhnya. Namun setelah kalimat mematikan itu, Baron tak melakukan serangan apa pun. Ia hanya mengusak rambutnya kasar, lalu berlutut dan membersihkan kekacauan yang Sarah perbuat. Terdengar embusan napas jengkel berkali-kali, tapi Baron tetap menyelesaikannya tanpa kata lain.

"Baiklah, apa yang Anda inginkan?" tanya pria itu, "Makanan mewah? Tidak mau sup seperti itu?" lanjutnya, menuntut jawaban.

Sarah mengeratkan cengkeramannya pada selimut. Kepalanya yang teramat berat menggeleng kaku. "Aku tidak mau makan."

Baron terkekeh pahit mendengarnya. "Itulah sebabnya flu Anda tak kunjung sembuh, dasar bodoh!" makinya, "Sudah terhitung 6 hari, tapi kondisimu bahkan tak berubah!" sentaknya kemudian.

"T-tapi makanan itu pahit," timpal Sarah, suaranya bergetar.

"Tapi itu lebih baik daripada mati konyol hanya karena tidak kuat melawan flu. Pikirlah dengan akal sehatmu," geram pria itu.

Sarah tahu ia tak bisa melakukan apa pun. Maka, dengan segala keengganan hati, wanita itu mengangguk singkat.

"Baiklah, tunggu. Saya akan membawakan porsi yang baru," putus Baron. Setelahnya, ia hendak meninggalkan ruangan sebelum sebuah gumaman sempat menarik perhatiannya.

"Tapi supnya bilang bahwa aku pembunuh."

Baron memilih untuk berpura-pura tak mendengar.

***

Sang pria baru saja mengangkat nampan di telapak tangan ketika ponsel yang bertengger di saku rompinya bergetar. Mengetahui dengan pasti siapa yang menelepon, dirinya memilih untuk kembali menyimpan nampan di meja dapur. Dengan segera, ia menerima panggilan.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang