🔞 BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN ( ゚ー゚)
***
Sarah menginjak kuat kaki pria di hadapannya. Ia menggeleng tak percaya mendapati hal tersebut sama sekali tak membuat sosok itu gentar, justru mengundang tawa remeh mengerikan. Cekikan di leher Sarah tak kunjung melonggar. Kepalanya mulai pening. Ia masih mencoba melepaskan jeratan itu dengan sisa-sisa tenaga.
"Lepas--" ujarnya dengan napas yang melemah.
Bibir Sarah terbuka. Ia hendak mengucapkan satu kalimat lagi, tapi terasa sangat sulit. Dadanya seperti ditenggelamkan. Sorotnya jatuh melewati bahu lebar sosok itu. Di ambang pintu kamar, seorang wanita tak berbusana tampak bersandar santai tanpa malu. Tak ada rasa simpati di wajahnya ketika menyaksikan Sarah nyaris mati.
Sudut mata Sarah memberat. "T-tolong aku, Ingrid ...."
Ingrid terkekeh hambar. Pria jahat itu juga terbahak sumbang. Sarah hanya bisa menitikkan air mata menerima perlakuan kurang ajar itu.
"Baiklah, hentikan. Dia hampir mati," ujar Ingrid setelah puas melihat Sarah.
Sarah merosot di atas ubin ketika cekikan dilepas. Ia menunduk dalam. Wanita itu meraup napas rakus. Ia menepuk dada beberapa kali.
Ctik!
Sakelar lampu ditekan. Seisi ruangan yang semula gelap menjadi terang. Pria itu seketika berlutut di hadapan Sarah.
"Bodoh, lihat aku," perintahnya.
Sarah tak membalas. Ia masih menatap jalinan jemarinya yang berkeringat. Bahunya berguncang hebat.
Sebuah decakan terdengar, lalu Sarah merasa rahangnya ditarik paksa. Ia hendak menjerit sebelum kembali menelan suaranya sendiri. "K-kau ...," ujar Sarah tercekat.
Sarah terpaku di tempat. Cahaya lampu membantu penglihatan. Sosok itu memiliki rambut cokelat terang dengan pahatan wajah tegas kebarat-baratan. Bentuk matanya begitu mirip dengan Armand, tapi karakter wajah dan warna rambut mereka sangat berbeda. Sarah tak mengenalnya sama sekali. Ia tak pernah melihat wajah asing itu dalam hidupnya.
"Oh, manisnya ...," ujar sang pria seraya menyeka jejak air mata di pipi Sarah.
Sarah menyeret tubuhnya bergeser. Ia memberikan tatapan nyalang. "Jauhkan tanganmu," tegasnya.
Pria itu tersenyum miring. "Ingrid," panggilnya tanpa menoleh, "Kunci pintunya," titahnya tak terbantahkan.
Ingrid pergi menuju pintu masuk. Wanita itu menguncinya. Seluruh jendela di rumah memiliki teralis, tapi Ingrid tetap memastikan tak ada satu pun yang terbuka. Setelah merasa yakin, langkahnya kembali menuju dapur. Tubuh molek itu bersandar di bahu kokoh sang pria.
Ingrid berbisik sensual, "Kau merindukanku, Hugo?" Bibir hangatnya melumat telinga Hugo.
Hugo sempat memejamkan mata sebelum kelopaknya kembali terbuka. Sorot pria itu berubah sayu. Tatapannya terkunci pada seorang wanita di hadapannya yang tersudut pada dinding. Ia tak henti-hentinya menahan isak tangis, dan itu benar-benar menggoda Hugo.
Jemari kokoh Hugo menahan dagu Sarah. Ia mengunci iris madu yang ketakutan itu. "Aku menginginkanmu malam ini," balas Hugo. Nadanya rendah dan terdengar berbahaya.
Hugo berdiri dan menyambar bibir Ingrid di sampingnya. Pagutan mereka sangat intens. Suara decapan basah menyeru ke sudut-sudut ruangan. Sentuhan pria itu menggerayangi dada Ingrid yang tak terbalut apa pun.
Ingrid dan Hugo berjalan menuju kamar tanpa melepas ciumannya, sementara sebelah tangan Hugo menjambak surai legum Sarah dan menyeret perempuan itu.
Sarah berusaha melepas jeratan Hugo hingga beberapa helai rambutnya berjatuhan. "Lepaskan aku ...," isaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomanceSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
