29

418 32 9
                                        

Sarah memilin jemarinya. Ia baru bangun dari tidur panjang selama perjalanan. Wanita itu melempar tatapan pada jendela mobil. Ferdinand telah mengemudi begitu lama, dari pertama kali matahari menyembul hingga timbulnya goresan senja di langit.

"Ferdinand, ini di mana?"

Ferdinand menoleh sejenak. "Nona, kita meninggalkan ibu kota. Saya khawatir Tuan akan menemukan Anda jika kita berdiam di sana."

Sarah merasa tak puas dengan jawaban itu. "Maksudku, ke mana?"

"Kota X."

Sarah menganga. "Itu tempat yang jauh," komentarnya.

Ferdinand hanya mengangguk singkat.

"Kaumau aku menyetir? Aku bisa menggantikanmu," tawar Sarah.

Sang pria terkekeh kecil. "Kautahu rutenya?"

Sarah menggeleng. "Ponselmu? Aku akan menggunakan Maps."

"Ponselku kehabisan daya."

Sarah menunduk lesu di kursi.

"Tak apa, Nona. Kita hampir sampai."

Ferdinand berbelok dari jalan raya. Pria itu mulai menyusuri jalan kecil yang hanya cukup untuk satu mobil. Tak satu pun lampu jalan yang terpasang di sepanjang jalur itu.

Sarah menengok ke samping. Hanya ada sedikit rumah di kedua sisi jalan. Setiap rumah berjarak saling berjauhan. Mereka terlihat seperti bangunan-bangunan yang sederhana.

Ferdinand berhenti mendadak. Pria itu menahan napas. "Hampir saja."

Sarah segera berpaling ke depan. Sebuah pohon besar dengan dedaunan lebat mengadang di sana. "Ini jalan buntu?" tanyanya bingung.

"Turunlah Nona, kita sudah sampai."

Sarah mengernyit. "Apa?"

Ferdinand mengarahkan telunjuk pada jendela di sampingnya. Di sisi kanan jalan, tepatnya bersebelahan dengan pohon besar, terdapat sebuah rumah sederhana. Lampu depannya menyala redup. Catnya yang berwarna abu-abu mulai mengelupas.

Sarah menahan ujung hoodie Ferdinand ketika pria itu hendak turun. "Ini rumahmu?"

"Tidak, Nona."

"Ini milik siapa?"

"Kakakku."

Sarah mengikuti Ferdinand yang telah keluar lebih dulu. Pria itu mengetuk pintu kayu di hadapannya. Tak lama, seorang perempuan berparas kebarat-baratan muncul di hadapan mereka. Kulitnya sawo matang dengan rambut panjang cokelat tua dan iris cokelat. Tubuh tingginya yang ideal hanya berbalut hot pants serta atasan tanpa lengan.

Sosok itu perlu merendahkah tubuhnya lebih dulu untuk menatap mata Sarah di level yang sama. Wajahnya penuh selidik. "Namamu Sarah?"

Sarah mengangguk kaku. "Ya," timpalnya seraya mengulurkan tangan.

"Aku Ingrid," ujar wanita itu menerima jabatan tangan Sarah.

Sarah dan Ferdinand diperkenankan masuk. Tempat itu terbilang sempit dengan perabotan yang cukup menyesakkan. Tepat di samping pintu masuk terdapat sebuah sofa kecil untuk menyambut tamu. Area ruang tengah menyatu dengan dapur. Terdapat dua kamar tidur sederhana yang saling bersebelahan.

Ingrid membuka salah satu pintu kamar. "Nah, kau bisa tidur di sini, Sarah."

Sarah melirik Ferdinand ragu. Lelaki itu memberikan anggukan kecil.

Ingrid yang menyadari interaksi di antara mereka terkekeh samar. "Aku akan tidur bersama Ferdinand di kamar lain," ujarnya, "atau kaumau bersamanya?"

Ferdinand berdecak. "Ingrid," tegurnya tajam.

Ingrid tertawa ringan. "Aku bercanda," ucapnya seraya mencubit dagu Sarah singkat.

Sarah memasuki kamar. Ingrid sudah berlalu lebih dulu. Ferdinand meraih ponselnya ketika merasakan benda tersebut bergetar di saku celana.

Ferdinand, di mana aku harus menemuimu?

Ia hanya membaca pesan itu melalui notifikasi. Tanpa memberi balasan apa pun, pria itu mematikan ponselnya total.

***

Armand kembali pada masa damai--seperti sebelum ia mencengkeram Sarah ke dalam wastunya. Pria itu menyelesaikan hari tanpa kesan--tak ada hal yang membuatnya terpantik--memang seharusnya begitu. Hanya roda yang motonon. Pukul 08.00 hingga pukul 19.00 menyelesaikan pekerjaan, lantas kembali ke wastu dengan benak yang ringan.

Baron baru saja menyajikan masakan di atas piring sang Tuan. Armand menyampingkan ponselnya. Ia meneguk sedikit air sebelum mulai melahap makanannya.

Armand menukikkan sebelah alis mendapati Baron yang masih berpaku tak jauh di dekat bangkunya. "Ada apa, Baron?" ucapnya seraya menyiapkan suapan baru.

Baron meneguk ludahnya kasar. Ia menahan napasnya ketika berucap, "Tuan, sudah berlalu tujuh hari."

Armand sempat menatap Baron bingung. "Apa? Rapat manajemen?" ujarnya asal.

Baron tak percaya mendapat jawaban itu. "Bukan, Tuan," lerainya, "semenjak kepergian Nona."

Armand mengangguk singkat. "Baiklah," katanya, "Omong-omong, itu bukan hal penting. Kau tak perlu mengingatkanku."

Baron tertegun. "Bukankah kita harus mencari tahu keberadaannya?"

Armand menjeda kunyahannya. "Menurutku tidak. Dia yang memutuskan untuk pergi."

Baron mengumpulkan cukup keberanian sebelum ia berucap, "Setidaknya mengetahui apa dia baik-baik saja, Tuan."

Armand menghentikan suapan. Ia membasahi tenggorokannya yang kering dengan air. "Itu merepotkan."

"Sesedikitnya mendapat kabar Nona," usul Baron ragu.

"Untuk apa?" timpal Armand, nadanya meninggi. "Kabarnya untuk apa?"

Baron termangu mendengar sentakan itu. Ia tak bisa menjawab apa pun.

Armand menjatuhkan alat makannya begitu saja. Dentingan piring memekakan telinga. "Ayolah, ini suapan terakhirku dan kau mengacaukannya," tuturnya tajam.

Baron segera membungkukkan tubuhnya. "Mohon maaf, Tuan."

Armand bangkit dari duduknya. Ia berdiri tepat di hadapan Baron. Jari telunjuknya mendorong bahu pria itu berkali-kali. "Kau itu ajudanku. Kau ajudanku!" peringatnya.

"Ajudan dilarang memerintah. Ajudan dilarang melangkahi!"

Armand meraih kerah Baron. "Lihat aku, Bedebah."

Baron membalas tatapan Armand. Sudut mata pria itu terlihat gentar. "Saya mengerti, Tuan."

"Kauingin berhenti?" tanya Armand. Nadanya rendah namun menusuk.

"Tidak, Tuan," jawabnya kaku.

"Bagus."

Satu pukulan mendarat di rahang Baron.

Satu pukulan menghantam pipi kirinya.

Satu pukulan mengoyak hidung pria itu.

"Itu untuk tiga kalimat kurang ajarmu."

***

Baron membasuh wajah. Sorot mata tajamnya menatap pantulan dirinya di cermin. Rahangnya mengetat. Ia merasa murka hanya dengan menatap matanya sendiri.

Baron menghantam kepalanya berkali-kali. Pria meredam geraman kesakitannya. Kepalanya pening luar biasa.

Baron keluar dari toilet. Ia kembali mengecek ponselnya yang tak berguna. Jemarinya mengetik di layar itu.

Kubunuh kau, Ferdinand.

Itu adalah pesan yang terus Baron kirim sejak seminggu yang lalu. Namun, tak satu pun dari mereka mendapat balasan.

Baron mengusak rambutnya frustrasi. "Kau benar-benar bodoh, Baron ..., kau benar-benar bodoh!" makinya pada diri sendiri.

***

Hai.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang