19

891 61 8
                                        

Ferdinand mengulurkan tangan, ragu tapi tulus. Ia menyentuh perlahan sepasang jemari Sarah yang masih menutup rapat telinganya--seolah dunia di luar begitu menyakitkan hingga harus dibungkam. Dengan hati-hati, ia menariknya turun, menautkan jari mereka dalam keheningan yang rapuh.

Namun begitu suara musik klasik dari luar kembali merembes masuk--lirih, tapi tajam seperti pecahan kaca--Sarah tersentak. Ia menepis tangannya dan buru-buru kembali membungkam telinga sendiri. Napasnya tercekat. Kepalanya tertunduk dalam, seolah suara itu menampar balik luka yang belum kering.

Ferdinand menahan geraknya. Tak marah. Tak memaksa.

Ia hanya duduk kembali di lantai dingin, diam dan menunggu--karena beberapa luka, ia tahu, tak sembuh oleh tangan, tapi oleh waktu yang diberi ruang.

"Kau masih tak suka, Nona?" Suaranya lirih, seolah bicara pada bayangan yang bisa pecah jika disentuh.

Sarah menggeleng. Pelan.

"Kenapa?" tanyanya, masih lembut.

Gelengan kedua. Lebih pelan. Lebih berat. Wanita itu memilih bungkam.

"Sudah lama ia membuatmu seperti ini?"

Sarah tak menjawab segera. Hanya matanya yang berkedip lambat, seolah mencoba membaca sesuatu dari masa lalu yang tak ingin dibuka. "Aku tidak tahu sudah berapa lama. Rasanya lama sekali."

Ferdinand mengangguk, hendak mengorek lebih dalam. Lalu dengan nada yang nyaris seperti orang bergumam, ia bertanya, "Kapan pertama kali ia menemukanmu?"

Sarah mengernyit. "Malam itu. Aku pulang larut karena pekerjaan." Suaranya tenggelam, seperti perahu kecil di laut yang tenang tapi dalam.

"Pekerjaan?"

"Ya. Aku menyelesaikan pesanan buket bunga pernikahan."

Ferdinand mendongak sedikit. "Pernikahan .... Coba ingat tanggalnya. Kau bilang, kau sudah menyelesaikannya malam itu, kan?"

Sarah mengangguk. Ragu.

"Itu artinya, bunga itu dipakai esok harinya. Tanggal acaranya?"

Diam. Pandangannya perlahan naik. Mata yang masih basah menatap Ferdinand, seakan kalimat itu sedang dia serahkan--bukan karena ingin, tapi karena akhirnya harus.

"4 Juli 2024," bisiknya.

Ferdinand tak perlu bertanya lebih. Ia menarik simpulnya sendiri. "Jadi ... malam sebelumnya adalah 3 Juli 2024. Malam di mana ia menemukanmu."

Sejenak, udara mengendap. Tak ada gerak. Tak ada suara. Hanya tanggal itu yang menggantung di udara, seperti jarum jam yang menolak bergerak--membeku di satu titik yang tak ingin diingat.

"Tahun lalu ... 3 Juli 2023," lirih Sarah, lebih kepada dirinya sendiri. "Itu sidang kedua perceraian kami."

Setahun yang lalu, aku tidak pernah berharap kita akan hadir di tempat yang sama bukan karena rindu, melainkan sebagai penggugat dan tergugat.

Sarah terdiam. Untaian kata mengerikan itu berputar tanpa perintah di benaknya. Ucapan yang pernah Armand lontarkan dengan tajam, nyaris seperti serangan belati yang menusuk pelan namun dalam. Kalimat yang dilemparkan ketika Sarah terjebak di ruang gelap tempatnya dulu dikurung dan dipatahkan tanpa ampun.

"Armand mengaku bahwa kami bertemu sebagai penggugat dan tergugat."

Ferdinand mengangkat sebelah alis. "Lalu?"

"Tapi dia tidak hadir. Tidak di sidang pertama, tidak pula di sidang kedua."

Pria itu meringis pelan. Tangannya terangkat, mengusap rambutnya yang mulai kusut karena lembap dan waktu. "Nona ... aku pernah bekerja sebagai ajudan pribadi Tuan Armand lebih lama daripada kau mengenal, mencintai dan menikah dengannya. Jika ia berkata demikian--maka demikianlah adanya."

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang