13

992 54 8
                                        

Sedari awal hingga berakhirnya pertunjukan Geri hanya fokus menjalankan tugas. Ia menaruh tubuhnya untuk berjaga di samping gerbang yang kokoh menjulang dengan posisi sigap. Di ujung sana, tepatnya di undakan anak tangga berbalut marmer yang terhubung dengan pintu belakang wastu, Geri menyadari bahwa Armand melambaikan tangan ringan kepadanya sebagai sinyal akan suatu perintah. Lantas tanpa menunggu Geri menghampirinya, Armand memasuki wastu begitu saja dan meninggalkan daksa Sarah yang kerap tergeletak tak berdaya.

Ketika Geri hendak menghampiri wanita itu, sebuah teriakan yang menyeru namanya dari balik punggung mengurungkan niat Geri. Pria itu berbalik dan mendapati Baron setengah berlari ke arahnya.

"Geri, tunggu," ujar Baron setengah terengah, sesaat setelah ia berpijak di hadapan Geri.

"Ada apa, Baron?" Geri menimpali.

Baron menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang berbalut kain merah bermotif sapuan emas. "Barang yang tertinggal."

Geri menerimanya. "Terima kasih."

Geri dan Baron pada akhirnya berjalan beriringan di hamparan taman hijau. Mereka tak perlu melalui jalur hitam dengan kaki telanjang seperti yang dilakukan oleh Sarah. Keduanya sampai bersamaan di tepi teras, tapi Baron dapat masuk terlebih dahulu sebab Sarah dibebankan kepada Geri.

Sarah merasa tubuhnya tidak berdaya ketika Geri mengangkatnya ke dalam gendongan. Ia terlihat sangat kacau dengan taburan luka di mana-mana, khususnya pada telapak kaki yang memerah. Wanita itu hanya meringkuk kaku di sela dekapan Geri tanpa sedikit pun berpegangan padanya.

Lantas kedipan mata Sarah melambat. Napasnya kian tenang. Tubuhnya semakin rileks ketika Geri mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki wastu. Sarah rasa ia sudah tak mampu menahan beban di kepalanya yang nyaris meledak dan kantuk yang kian merajalela.

Sarah menyerah.

***

Sarah mengerjapkan mata beberapa saat ketika tubuhnya merasa bahwa masa tidurnya telah cukup. Ia menguap ringan dan mengusap wajahnya lembut, mencoba mengusir rasa kantuk yang masih menggantung. Sarah menggosok matanya kasar ketika ia melihat langit-langit sebuah kamar yang terkesan asing, seolah-olah baru saja terbangun dari mimpi yang tak pernah ia kenali.

Perlahan, matanya terbiasa dengan pencahayaan lembut yang menyelimuti ruangan. Kamar itu, dinding-dindingnya dicat putih bersih, memberikan kesan luas dan sejuk. Di sudut-sudutnya, furnitur elegan terbuat dari kayu berwarna terang, dengan garis-garis minimalis yang menciptakan nuansa modern. Sebuah tirai panjang menggantung dengan anggun, menari tertiup angin yang masuk melalui jendela besar. Sementara di sudut ruangan terdapat sebuah lemari besar--serasi dengan meja rias yang bertengger di sampingnya. Setiap detail di kamar itu terkesan sempurna, seolah dirancang untuk menenangkan jiwa yang lelah.

Sesi kagum Sarah buyar ketika hidungnya menangkap wangi lezat yang memenuhi udara, menggoda indra penciumannya. Bau harum itu mengalir lembut, mengundang rasa lapar yang sudah lama Sarah tahan. Dengan perlahan, matanya melirik ke arah nakas yang terletak di samping ranjang, di mana seporsi makanan terhidang rapi.

Wanita itu beringsut mendekati nakas. Perutnya keroncongan. Hidangan yang disajikan sangat sederhana--lagi-lagi semangkuk sup krim dan segelas air putih. Namun, perutnya benar-benar butuh asupan. Di situasi seperti ini semuanya menggugah selera, bahkan makanan paling membosankan sekalipun.

Sarah membawa nampan itu ke atas pangkuannya. Tanpa bersabar lagi, ia menyendok makanan dan membawanya ke dalam mulut. Rasanya lezat, tapi tak istimewa. Sarah sangat bersyukur karena hidangan ini setidaknya mengulur kematiannya.

Ketika mendengar derit pintu, wanita itu segera menyimpan makanannya kembali ke atas nakas. Dengan gesit ia memposisikan tubuhnya untuk berbaring dan menyelimuti diri. Sarah mengatur napas, matanya sengaja ia pejamkan--berpura-pura tidur.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang