Jemari Armand semula bertengger di kedua sisi rahang Sarah. Sempat mengepal kuat sebelum merambat ke tengkuk sang wanita dan memilin helai rambutnya yang tergerai. Tarian dari belah bibirnya semakin lihai menyapu kelopak mawar di antara rongga mulut Sarah. Rasanya hangat dan lembut, nyaman sekaligus membuat gusar.
Armand benar-benar tak menemukan perlawanan apa pun. Sarah sama sekali tak membalas ciumannya, tapi juga tak berusaha bertahan. Ia hanya diam dan membiarkan. Armand mampu mendengar beberapa rintihan kecil yang lolos dari Sarah ketika ia mencicipinya terlalu ganas. Barulah saat bahu Sarah menegang, napasnya kian tercekat seolah dadanya tenggelam, Armand akhirnya melepaskan wanita itu.
Armand tak sempat memastikan apa pun tentang wanita di hadapannya. Ia melingkarkan tangannya di belakang tengkuk dan lutut Sarah, membawa si perempuan ke dalam gendongannya yang terkesan sangat memaksa. Sampai di ranjang, Armand membanting tubuh ringkih itu tanpa aba-aba.
Pelupuk mata Sarah terasa sesak kala Armand mengambil posisi tepat di atasnya. Netra legum itu benar-benar kabur, menggelap, seperti sarang iblis. Lengan kokoh Armand berjaga di kedua sisi tubuh Sarah, menegaskannya bahwa ia sudah tak tertolong.
"Kali ini jangan menangis, Sarah," ujarnya dengan nada rendah.
Deru napas Armand terasa berat, berayun di bulu mata Sarah yang basah. Wanita itu menegang kala Armand mengecup telinganya. Ia menggigit bibirnya kuat.
Armand mengukir senyum miring. "Kau ingat caranya mendesah?" tanyanya dengan maksud mengejek, "Lakukan sesukamu."
Sarah mengepalkan tangannya. Keningnya bergelombang nyata. Kelopak matanya terbuka, terpaku pada langit-langit kamar. Tubuhnya ada di sana, tapi ingatannya berkelana jauh sekali.
Armand membenamkan wajahnya di ceruk leher Sarah. Cumbuannya membakar kulit, sampai rasanya Sarah ingin mengguyur seluruh raga dengan sebejana air.
Kepala Sarah berputar. Mencoba menghilangkan jejak darah yang terlalu membekas. Sekeras apa pun Sarah mencoba melupakan, sisanya tetap ada. Potongan-potongan langit malam itu masih tersimpan di memori terdalam Sarah, yang seharusnya sudah terkubur lama dan tak akan muncul lagi.
Di sela siasat kejinya, Armand berkata, "Kenapa diam saja?" ucapnya sinis, "Ayo lakukan, sampai rahimmu luruh sekali pun," lanjutnya, menekan setiap kata dengan pesan kejam.
Sarah tercekat. Ia merasa mual. Wajahnya lambat laun berubah pucat. Genangan di sudut matanya kian menumpuk. "Apakah kau marah karena aku ... masih hidup?" lirih Sarah, ia diliputi perasaan takut hanya untuk satu kalimat.
Armand terkekeh sumbang. Ia menyesap bibir Sarah lebih dulu sebelum menimpali, "Aku benar-benar keberatan."
Sarah terkesiap kala jemari kokoh itu menyusup ke balik gaunnya. Semakin jauh. Semakin jauh. Semakin jauh. Menari di pangkal paha Sarah, benar-benar menghardiknya dengan perlakuan paling menjijikan.
Sarah menggeleng kaku. Tangannya yang gemetar hebat menahan lengan Armand. "K-kau tidak--"
Payah. Sarah merasa sangat tidak berguna. Ia bahkan tak punya nyali untuk berkata dengan tegas. Tak punya keberanian untuk melerai Armand tepat di wajahnya. Sarah tak bisa menyangkal bahwa dirinya sangat takut.
Apakah ada kesempatan untuk menolak?
Apakah akan baik-baik saja jika ia bicara?
Deretan pertanyaan itu menggedor kepala Sarah. Namun dari banyaknya ide cemerlang, tak ada satu pun yang cukup kuat untuk Sarah lakukan. Sejatinya, ia yang tidak berdaya untuk itu semua. Jauh di sudut batinnya, Sarah menghardik dan menyesali dirinya sendiri untuk hidup menjadi perempuan yang bermasalah dan tak bisa diandalkan.
Sarah memejamkan matanya erat kala jemari pria itu berusaha menusuk kelopak mawarnya yang gemetar. Bahu Sarah menegang tanpa kata. Kedua tangannya mengepal kuat menahan perih. Ia terjerat dalam situasi yang paling tidak diridainya.
Namun, Armand adalah sosok apatis. Lebih jelas, pria kejam yang sama sekali tak pernah Sarah kenal dan bayangkan. Armand tetap mengentaknya, bahkan semakin intens. Sarah berusaha merapatkan pahanya, tapi Armand menahannya untuk tetap terbuka.
Sarah menutup wajahnya dengan kedua punggung tangan, ia berusaha menahan tangis. "Aku tidak melakukan ini selain bersama suamiku," ujarnya parau, "Tinggalkan aku," lirihnya dengan perasaan tak aman yang menelan rongga dada.
Armand mengangkat sebelah alisnya. Ia memasang wajah bingung, lantas terkekeh hambar sebelum akhirnya berucap dengan nada mengejek, "Apakah kau yakin kau wanita yang mulia?"
Armand menjeda aksi bejatnya. Pria itu mengangkat tangannya dan mencekik rahang Sarah, memaksa bibirnya untuk terbuka. Ketika Sarah tak bisa melawan, Armand membenamkan jari tengah dan jari manisnya yang berbalut lendir bening ke rongga mulut wanita itu. Mendorongnya hingga Sarah tersedak berkali-kali.
"Apakah itu yang dilakukan wanita setia dengan seseorang yang bukan suaminya, Sarah?" hardiknya sarat akan kebencian. Ia menatap Sarah dengan penuh kejijikan.
Sarah mencengkeram pergelangan tangan Armand. Ia menggeleng lemah, berusaha menyingkirkan penyiksaan itu. Namun, Armand tetap melakukannya sampai ia merasa bahwa Sarah sudah mencapai batas kemampuannya.
Terisak-isak, Sarah bertanya, "Apa lagi yang kaumau dariku? Bukankah tak ada yang bisa kuberikan padamu?" Air matanya luruh begitu cepat.
Armand menyingkap anak rambut di pipi Sarah yang lengket. Ia tersenyum miring. "Karena itu, aku ingin membuatmu rebah di piring makanku dan membiarkanku menyelesaikan yang lainnya."
Sarah tak habis pikir dengan perkataan paling mengerikan yang baru dirinya dengar di sepanjang hidupnya itu. Hanya dengan satu kalimat, Armand mampu merendahkan Sarah serendah-rendahnya. Pria itu mampu memberikan banyak luka dalam sekali tikaman.
"Tapi aku sudah tak bersisa apa pun, Armand!" pekiknya diikuti gelombang tangis yang semakin hebat.
"Kau sudah membunuh sebagian dari diriku!" jerit Sarah, "K-kau membunuh ... sebagian dari dirimu!" sambungnya parau, diikuti rintihan nelangsa.
Armand menegang mendengarnya. Pria itu mengetatkan rahang. Fokusnya terganggu. Ia beranjak naik dan menjambak akar rambut Sarah, menahannya beberapa saat agar wajah sang wanita tak berpaling.
Sarah menangis hebat. Ia merasa sangat sesak. Sosok yang kini dirinya lihat adalah orang yang dahulu sangat Sarah andalkan. Sayangnya, kini Sarah bahkan tak mengenalnya sama sekali. Ia tak tahu siapa yang sedang menatapnya sarat akan dendam dan keangkuhan. Ia tak kenal siapa yang telah memperlakukannya tanpa penghormatan sama sekali. Sungguh Sarah merasa benar-benar terluka atas itu semua.
"Apa yang baru saja kau katakan, Sarah?"
Sarah bergeming. Bibirnya menggigil.
"KAU BILANG AKU PEMBUNUH!?"
Sarah terkejut mendengar bentakan itu. Salivanya berubah menjadi kerikil yang menyesakkan. Armand benar-benar hilang kendali atas dirinya.
Tak lama terjerat dalam kesunyian, pria itu terbahak sumbang. "Harus bagaimana aku katakan kepada semua orang bahwa sebenarnya perempuan setia ini adalah pembunuh?"
Armand mengetatkan jambakannya. Jemari Sarah yang berkeringat mencoba menahan tangan pria itu. Sarah melirihkan sakit.
Ia menggeleng lemah, "Aku tidak tahu bahwa kita tidak saling mengenal, Armand."
Armand tersentak oleh bisikan lelah itu. Ia melepaskan cengkeramannya dan menjauhkan tubuhnya dengan kaku. Senyum licik di wajahnya luntur. Ekspresinya berubah kosong. "Kau lupa menyatakan bahwa kau seorang penipu, Sarah."
Armand membeku di tempatnya, menyaksikan Sarah beringsut ke pojok ranjang. Ia berusaha merapikan gaunnya, menutup leher jenjangnya yang penuh bercak kemerahan dengan selimut. Rembesan darah dari luka goresan di sekujur tangannya menembus ke seprai yang semula putih bersih. Ia menekan lekukan di antara pangkal pahanya yang terasa perih. Setelahnya, Sarah menatap Armand nyalang sekaligus penuh luka. Bibirnya menggigil dan ia belum bisa menyelesaikan isakannya yang semakin meledak.
***
Hai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomansaSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
