14

1.1K 57 8
                                        

Sarah duduk di tepi ranjang dengan perasaan tak tenang. Ia memilin jemarinya yang lembap. Matanya menatap nanar pada jendela besar yang tertutupi tirai krem keemasan. Beberapa saat lalu, masih ada siluet jingga yang menyeruak melalui sudut-sudut kaca itu. Namun, kini tampaknya seserpih senja pun tak sudi lagi untuk mampir. Sarah mampu menerka-nerka waktu melalui kenyataan pahit itu.

Wanita itu memejamkan matanya erat begitu mendengar derit pintu yang nyaring. Tak ada permisi. Tak ada ketukan. Tak berizin. Namun, Baron sudah masuk tanpa adab ke dalam ruangan yang Sarah huni. Wanita itu paham bahwa tempat ini bukan haknya, bukan miliknya. Bahkan ia tak memegang kunci atas ruangan ini. Namun, perlakuan seperti itu kerap membuat Sarah takut. Ia merasa tak aman.

Baron menuju meja rias. Ia menyimpan sebuah kotak di atas sana. Pria itu tampak kesal mendapati Sarah yang hanya bergeming di tempatnya. "Mau sampai kapan Anda di sana?" ujarnya, sinis.

Tak ingin sesuatu yang buruk terjadi, Sarah terpaksa menghampiri Baron. Pria paruh baya itu menendang tumit Sarah yang masih dilimpahi bekas luka kemerahan setelah insiden terakhir kali. Bahkan, lukanya belum sempat diobati. Sarah spontan meringis nyeri, bersamaan dengan tubuhnya yang limbung dan berakhir duduk di atas kursi.

Baron membuka kotak yang dibawanya. Sebuah sepatu hak tinggi berwarna putih tergeletak indah di dalam sana. Sarah sempat terpesona dengan kecantikannya, sebelum Baron melempar benda itu dengan kasar ke pangkuan.

"Pakailah."

Sarah mengernyit mendengarnya. "Tapi--"

"Yang harus kautahu, Nona. Jika sekarang kau menolak, kau tidak menolakku. Namun, kau menolak kehendak Tuan Armand."

Sarah meremat sepatu itu. Jika Armand yang telah memerintah, tak seorang pun mampu membantah. Jika pun Sarah berpikir untuk melakukannya, wanita itu tahu pasti akan ada segudang petaka yang menghampirinya kelak. Petaka yang Armand kerahkah untuk menyengsarakannya lebih dalam lagi.

Sarah menyorot kakinya nanar. "Apakah boleh jika aku meminta kaus kaki?"

Baron terkekeh mengejek. "Anda pikir--"

"Aku akan menurutinya," sergah wanita itu, "tapi tolong berikan kaus kaki ...," lirihnya.

"Kau akan tahu betapa harapanmu sia-sia setelah memakainya, Nona," cibir Baron, mengundang geliat bingung melalui pancaran mata Sarah.

"Saya akan menunggu di depan pintu. Anda hanya punya waktu 3 menit," tutur Baron sebelum akhirnya berlalu.

Sarah terdiam, hanya mampu mengangguk dengan lesu. Ia menaruh benda itu di atas ubin, lalu menarik napas pelan. Dengan gerakan ragu, ia mencoba menyelipkan kakinya ke dalam sepatu. Namun, rasa sesak segera menghentikannya, seolah sepatu itu enggan menerima kehadirannya.

Sarah segera meraih benda tersebut. Matanya menelisik heran pada bagian dalam sepatu. Di sana, tercetak sepasang angka berukuran kecil, bertuliskan '36'. Dua tingkat lebih kecil dari ukuran kaki Sarah.

Sarah tersenyum pahit. Armand benar-benar kejam, bahkan dengan segala kemuliannya.

Berkali-kali wanita itu mencoba memakainya. Namun, belum seluruh bagian dari kakinya terbalut sempurna, Sarah lebih dulu melepaskannya. Ia tidak mampu menahan rasa sakitnya. Segera, wanita itu menuju ke toilet dan mengguyur kakinya yang terasa perih.

Baru saja Sarah selesai dari toilet, ia langsung disuguhkan dengan wajah murka Baron. Pria itu segera menarik pergelangan tangan Sarah kasar dan mendorongnya untuk duduk di atas kursi.

"Kaupikir setelah 3 menit berlalu akan ada waktu tambahan, Nona?" geram Baron seraya berlutut.

Baron meraih sepasang sepatu tersebut dan memakaikannya dengan paksa pada kaki Sarah. Sarah memohon berhenti kepada Baron, tapi berkali-kali pria itu malah mencelanya. Pada akhirnya Sarah hanya diam seraya meringis samar, menikmati beberapa goresan luka dengan titik-titik kemerahan yang merembes melalui kulitnya dan bertengger pada putih di sepatu itu.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang