26

577 44 15
                                        

Baron menghentikan motornya pada sebuah pohon besar di sisi trotoar yang sepi. Pria itu melirik ponselnya--pukul 20.15. Cukup terdenger mustahil rasanya untuk sampai di Perumahan Flamboyan dalam waktu sesingkat itu. Namun, mengingat Baron yang berkendara dengan kesetanan membuatnya masuk akal.

Tepat di seberang trotoar, berdiri kokoh sebuah rumah bertingkat dengan cat putih yang memudar. Tak ada sedikit pun pencahayaan, menjadikannya terlihat mencekam. Pilar-pilar gagah yang menjulang di teras rumah telah habis ditumbuhi tanaman liar. Pagarnya pun sedikit terbuka, benar-benar tak diurus dan dijaga.

Rumah itulah yang dulunya merupakan tempat di mana Armand dan Sarah tinggal selama pernikahan mereka.

Baron membuka ponselnya. Ia mengirim pesan pada nomor tak dikenal.

"Pagarnya terbuka. Apakah ada orang lain di dalam? "

Tak butuh waktu lama, sosok di seberang telepon menjawab, "Saya sudah memastikan bahwa tak ada orang lain di tempat ini."

Baron kembali mengendarai motornya melewati pagar yang sedikit terbuka. Pria itu berhenti pada garasi luas di samping rumah. Terdapat sebuah mobil sederhana yang telah terparkir di sana.

Pria itu memastikan maskernya terpasang dengan baik. Ia mengetatkan jaket yang dipakainya, lalu membenahi sarung tangannya yang sedikit terlipat.

Sorotnya jatuh pada pintu samping garasi yang terbuka. Dapat dilihat bagian dalam rumah begitu gelap. Pasti sangat pengap dan tak nyaman. Namun, kondisi itu cukup bagus untuk menyamarkan dirinya.

Baron melewati pintu itu. Ia langsung masuk pada area ruang tengah dan meneliti sudut-sudut ruangan. Perabotan mewah masih ada di setiap sisi, tapi dengan kondisi yang benar-benar usang. Hidungnya benar-benar diserang oleh bau yang menyakitkan.

Suara ketukan sepatu datang dari arah tangga. Baron segera berbalik. Di sanalah sosok berbalut seragam khas seorang staf kebersihan turun dengan tergesa-gesa. Ia tampak seperti seorang pria yang sedikit lebih tua dari Armand. Setelah melewati undakan terakhir, ia berdiri tepat di hadapan Baron dengan wajah yang tertunduk.

"Maafkan saya, Tuan."

Baron tak menjawab. Kening pria itu mengernyit. Ia belum mendapatkan konteks pembicaraan ini.

Ferdinand merendahkan tubuhnya. Ia berlutut di hadapan Baron. Kepalanya jatuh begitu dalam. Kedua tangannya terkepal dengan gemetar. "Saya mohon, Tuan. Maafkan saya."

Ferdinand mengangkat kepalanya. Dapat Baron lihat netranya yang cokelat gelap tenggelam oleh rasa takut. "Saya sungguh tak bermaksud membuat Nona Sarah kabur malam itu. Saya hanya berusaha membantunya," jelasnya.

"Saya menerima pesan berisi surat pemecatan dari Anda tak lama setelahnya. Semenjak itu, saya tak pernah menemui Anda, bahkan untuk sekadar meminta maaf," lirihnya, "Saya tidak berani, Tuan .... Saya memilih untuk meninggalkan semuanya dan menjauhi segala hal yang berurusan dengan Anda," lanjutnya dengan suara terputus-putus.

"Maaf. Maafkan pengkhianatan saya ...," ujarnya tercekat, "atas tindakan yang bukan kehendak Anda."

Sorot Ferdinand jatuh melewati sepasang kaki dari pria bermasker hitam di hadapannya. Di belakang orang yang ia yakini adalah Armand, sosok lain yang tenggelam dalam gelap tengah mendekat dengan hati-hati. Jejak langkahnya begitu samar, begitu sunyi, sampai Baron tak menyadari keberadaannya.

Wajah Ferdinand menegang ketika sosok itu mengeluarkan sebuah pisau lipat bermata tajam dari jaket hitamnya yang tebal. Ia mengangkat jemarinya di udara, bersiap menancapkan benda itu di leher Baron.

Bug!

Ferdinand tersungkur di atas marmer berdebu. Baron membogem rahangnya dengan kuat. Pria itu meraih kerah kemeja Ferdinand kasar.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang