24

742 46 12
                                        

"ARGH!"

Baron menggeram hebat. Tengkuknya dicakar keras oleh kuku-kuku Sarah yang tampaknya begitu tajam. Dengan segera, pria itu melepaskan dekapannya dari Sarah dan menjauhkan tubuhnya. Ia menyeka kulit tengkuknya. Matanya bahkan sampai membola mengetahui bahwa bekas cakaran itu meninggalkan darah.

Baron mengernyit tak percaya. "Nona ...."

Sang wanita tak menjawab apa pun. Air matanya masih berjatuhan begitu intens. Tubuhnya gemetar. Kedua tangan itu memeluk perut ratanya erat--seolah sesuatu perlu dilindungi di dalam dirinya.

Baron menggeleng kaku. Ia menyadari hal itu. Menyadari betapa kacau dan berantakannya Sarah. "Nona, kau benar-benar tak beres," ujarnya rendah, menatap lekat pada kedua tangan Sarah.

Sorot Baron menyapu sekitar. Pria itu mencoba mencari tahu pemicu dari tindakan Sarah saat ini. Begitu menyadari ruangan yang terlihat samar, ia segera menekan sakelar. Lampu yang menggantung megah di langit-langit seketika memancarkan cahaya hangat.

Namun, tunggu. Ketika Baron memastikan kondisi Sarah, perempuan itu tampak tak berubah. Ketakutannya masih terpancar dari setiap bagian tubuhnya, tapi yang paling jelas terlihat adalah matanya. Iris madu itu terus menatap ke arah Baron dengan selaksa rasa takut, amarah, dan gusar.

Pria itu kembali mengingat. Ketika pertama kali ia memasuki ruangan ini, hanya ada satu nama yang Sarah ucapkan dengan begitu gentar: Armand.

Baron segera meneliti tubuhnya. Pria itu sudah melepas maskernya. Ia segera membuka ritsleting jaket dan melemparkannya jauh-jauh ke sudut ruangan. Kedua sarung tangannya pun ia lepas dan singkirkan ke tempat yang sama. Baron mengangkat kedua tangan kosongnya di udara.

"Anda aman, Nona."

Sorot mata Sarah mulai berubah. Tangisannya pelan-pelan mereda. Walau begitu, sikap kedua tangannya yang tak berubah menunjukkan kewaspadaannya terhadap Baron.

Baron berjalan setenang mungkin. Ia mendekat ke arah Sarah. Ketika sang wanita mundur selangkah, Baron berhenti sejenak. Setelah menyadari bahwa Sarah tak membahayakan dirinya, barulah Baron menarik salah satu bangku.

"Nona, duduklah."

Ada sedikit getir di sudut batinnya ketika Baron melihat Sarah mendekat dengan takut. Raga ringkih perempuan itu perlahan mengambil posisi duduk di sana. Posturnya terlihat sangat tegang, seolah ia menaruh curiga besar pada Baron yang kini berlutut di hadapannya bahkan dengan tangan kosong.

"Tarik napas, Nona."

Baron mengangguk lega mendapati Sarah yang menuruti perkataannya. Wanita itu mulai mengatur napasnya. Terlihat bahu sempitnya bergerak lebih tenang.

"Bagus. Sekarang, coba lihat tanganmu."

Baron hendak meraih tautan tangan Sarah di atas perutnya, tapi kaki wanita itu lebih dulu menarik bangku sehingga mundur beberapa senti. Ia mengeratkan dekapan tangannya di sana. Gerakan itu menegaskan bahwa Sarah keberatan dengan usulan Baron.

Baron tersentak menyaksikan itu. "Nona, ini saya, Baron," ujarnya, "Saat ini kau berada di ruang makan. Saya pastikan bahwa kau aman sekarang," lanjut Baron, nada bicaranya begitu tenang, berusaha membuat Sarah percaya.

Sarah merenung mendengar kalimat itu. Matanya mengikuti pergerakan tangan Baron yang kini meraih jemarinya. Ia benar-benar menyaksikan bagaimana Baron bertingkah, seakan-akan sedikit saja kesalahan akan langsung membuatnya celaka. Namun, terlepas dari itu, Sarah tak melawan.

Baron membuka telapak tangan Sarah. Dengan lembut, telunjuknya menyusuri garis-garis halus yang tercetak samar di sana. "Nona, perhatikanlah. Apa kaulihat sesuatu di tanganmu?"

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang