Ferdinand menepuk pundak Sarah beberapa kali. "Nona, saya harus kembali ke ibu kota. Masa cuti saya telah selesai."
Sarah menatap Ferdinand ragu. "Kapan kau akan ke mari?"
"Setiap pekan. Hari Minggu."
Sarah menarik ujung kemeja yang Ferdinand gunakan. Wanita itu membawanya ke teras rumah. Ia sedikit mengintip ke celah pintu. "Aku agak ...." Sarah menelan ucapannya.
Ini memasuki minggu kedua sejak Sarah sampai di tempat itu. Semakin lama berada di sana, Sarah rasanya semakin gusar. Ada beberapa kebiasaan Ingrid yang cukup membuat Sarah khawatir akan dirinya sendiri. Namun, ketika Ferdinand sudah menunggu kalimatnya, Sarah tak bisa terus terang.
"Baiklah, Ferdinand," ujar perempuan itu akhirnya.
Ferdinand mengangguk. "Sampai nanti."
Pria itu memasuki mobil sederhananya. Ia melambai pada Sarah sebelum menaikkan jendela. Tak lama, mobil tersebut tertelan di tikungan.
Sarah tersentak ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya. "Dia sudah pergi?"
"Ya," timpalnya. Sarah bergeser beberapa langkah, berusaha menjauhkan dirinya dari jangkauan Ingrid.
"Kapan katanya akan kembali?"
"Hari Minggu."
Ingrid mengangguk. Sarah segera memasuki rumah diikuti olehnya. Perempuan itu langsung duduk di sofa dan sibuk dengan ponsel. Ketika Sarah hendak menuju kamar, Ingrid menahannya.
"Sarah."
Sang wanita menoleh. "Ada apa?"
"Ambilkan rokok di kamarku."
Sarah mengangguk kaku. Ia merasa agak keberatan, tapi pada akhirnya hanya menyetujui tanpa bantahan apa pun. Bagaimanapun, Ferdinand telah membantunya di rumah ini.
Sarah membuka pintu kamar Ingrid. Ia mundur selangkah begitu hidungnya diserang oleh bau tembakau yang menyengat. Selain itu, ranjang di kamar tersebut tak tertata. Dalaman wanita dan pria berserakan di mana saja.
Sarah menuju nakas untuk meraih sekotak rokok, tapi ia dibuat nyaris muntah oleh keberadaan alat kontrasepsi bekas yang dibiarkan begitu saja.
Sarah segera meninggalkan ruangan. Ia memberikan rokok pada Ingrid. Melihat perempuan itu memantiknya, Sarah secara inisiatif mematikan penyejuk udara dan membuka jendela di dekat pintu.
Ingrid berdecak. "Apa yang kaulakukan?"
Sarah menoleh singkat. "Ini harus dibuka saat kau sedang merokok. Jika tidak, udaranya akan menjadi tidak sehat."
"Hentikan. Aku tidak peduli itu sehat atau tidak," protes Ingrid. Nadanya menusuk.
Sarah membeku mendengar itu. Ia segera menjauhkan tangannya dari jendela.
"Kau tak lihat cuaca panas? Nyalakan penyejuknya," perintah Ingrid ketus.
Sarah hanya bisa membalasnya dengan anggukan kaku. "Baiklah."
Sarah menyelesaikannya sesuai dengan keinginan Ingrid. Gertakan itu cukup membuatnya menciut. Ia segera masuk ke kamar dan bersandar di balik pintu.
Menyadari Sarah sudah tak berada di sekitar, Ingrid membuka daftar kontak di ponsel. Begitu menemukan nama yang dicari, ia mulai mengetikkan pesan.
Ferdinand sudah pergi. Ke marilah.
Dalam detik yang sama, pesannya dibaca.
***
Bukankah kita harus mencari tahu keberadaannya?
Setidaknya mengetahui apa dia baik-baik saja, Tuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomanceSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
