28

463 35 8
                                        

Armand mendorong pintu kaca buram di hadapannya. Pria itu menyimpan tas kerja di atas sofa. Perhatiannya langsung teralihkan pada side table di dekatnya. Sebuah vas bunga berisi beberapa tangkai mawar tertata rapi di atas sana.

"Mereka mulai mengering," komentarnya. Jemari kokohnya meneliti setiap kelopak mawar yang berjatuhan.

"Kapan kau akan datang dan memperbaikinya?"

Armand melanjutkan langkahnya. Ia melewati meja kerjanya yang tampak rapi dan berdiri tepat di depan jendela panorama. Langit dini hari terlihat masih gelap. Lampu jalan di sepanjang trotoar kerap menyala.

***

"Aku mengantuk, kapan kita akan pulang?" rajuk Sarah. Jemari wanita itu bermain-main dengan gugusan mawar pada vas bunga.

Armand masih berkutat dengan pekerjaannya. "Apa kau sudah selesai dengan bungamu?"

Sarah mengangguk lesu. "Aku sudah selesai menatanya sejak tadi."

Armand mengalihkan atensinya dari laptop di depan wajah. Pria itu melempar pandang pada seorang wanita muda yang kini duduk lesu di atas sofa dengan wajah tertekuk. "Sebentar--"

"Ini jam 11 malam!" gertaknya dengan wajah horor.

Armand terkekeh halus. "Berbalinglah di situ, Sarah. Sofanya cukup nyaman untuk tidur."

Sarah menatap Armand tajam. Sang pria mengernyit mendapat sorot itu. "Tak usah sok galak. Matamu sudah sayu."

Sarah mencebik. "Tidak. Aku tak mau ...," lirihnya lelah.

Armand melepas kacamatanya. Pria itu membuang napas jengah. Ia melonggarkan ikatan dasi, lantas membuka tangannya lebar. "Baiklah, datang padaku."

Sarah seketika tersenyum semringah. Perempuan itu segera bangkit dari sofa dan berlari kecil menghampiri Armand. Ia memosisikan dirinya dengan nyaman di pangkuan pria itu.

"Apa sih yang kau kerjakan?"

Ketika Sarah berusaha melihat laptop, Armand membawa wajah wanita itu ke dadanya. "Percuma. Kau tak akan paham," lerainya seraya mengelus surai Sarah.

Armand menekan tombol pada remot kontrol. Pencahayaan utama seketika padam. Pria itu lantas menyalakan task light di sudut meja kerja. Ia mengatur arah cahaya agar tidak menyorot Sarah.

"Masih terlalu silau?"

Tak ada jawaban. Sarah sudah jatuh dalam lelap. Armand menyadari napasnya yang begitu ringan dan teratur.

Armand membuka ponselnya. Ia mencuri beberapa potret dari wanita yang tengah tertidur itu. "Lihatlah perempuan ini ...," ujarnya seraya menggeleng.

Armand memperbesar bagian bibir Sarah yang sedikit terbuka. Ia terkekeh kecil menatap layar ponselnya sebelum mendaratkan bibirnya di bibir Sarah. Sang wanita melenguh singkat, saat itulah Armand mengusap kerutan di dahinya agar ia kembali rileks.

"Sht ..., jangan terbangun," bisiknya.

***

Armand mendekati meja kerjanya. Pria itu menarik laci samping. Ia meraih sebuah bingkai putih sederhana berisi foto asal dari seorang perempuan bersurai legam yang sibuk terlelap.

"Kau pernah ada di tempat ini, Sarah," gumam Armand.

Armand kembali menyimpannya. Namun, matanya sedikit menyipit kala mendapati pantulan cahaya redup dari sebuah benda di dalam laci. Pria itu meraih sebuah cincin dari dalam sana. Cincin pernikahannya dengan Sarah, yang tak pernah Armand ingin singkirkan sama sekali.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk."

"Ini parfum Anda, Tuan."

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang