Armand mengendarai mobil sekitar 30 menit sebelum memarkirkannya di samping trotoar sepi. Ia melihat sebuah papan menjulang di depan sana bertuliskan "Jl. Cendrawasih".
Tatapannya jatuh pada sebuah rumah sederhana di seberang jalan. Catnya mulai mengelupas. Sebuah pagar kecil tertutup rapat. Di baliknya, terdapat sebidang taman bunga sempit yang diisi pot berjajar. Itu adalah tempat Sarah tinggal semenjak ia bercerai dengan Armand dan meninggalkan ibu kota.
Armand turun dari mobil diikuti oleh Marry. Wanita itu berjalan lebih dulu dan membuka gerbang. Mereka sampai di depan pintu rumah. Marry mengetuknya tiga kali. Tak lama, tirai jendela di samping pintu tersingkap. Sosok perempuan paruh baya seusia Marry mengintip dari sana. Wajahnya menegang menyadari keberadaan Armand.
Segera, Ashley memutar kunci. Ia membungkukkan tubuhnya sejenak sebelum berucap, "Selamat datang, Tuan Armand." Suaranya tercekat. Ia masih tak percaya.
Armand hanya mengangguk singkat. Pria itu berjalan memasuki rumah tanpa melepas sepatunya. Ia langsung dihadapkan pada ruang tengah yang diisi oleh jajaran sofa sederhana. Jemarinya terulur pada sebuah vas bunga di atas meja konsol. Mawar merah mekar di sana.
"Kau tak pernah telat menggantinya, Ashley," ujar Armand, melirik singkat pada sang perempuan.
"Ya, Tuan."
Ketika Armand hendak berjalan lebih jauh, pria itu menahan langkahnya. "Tak ada sandal rumah?" tanyanya, menyorot Marry.
Marry meringis kecil. "Kebiasaan di sini sedikit berbeda, Tuan," jelasnya.
Armand mengangkat sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Kami tidak mengenakan alas kaki di dalam rumah."
Armand memasang wajah bingung sebelum ia menyadari bahwa Marry dan Ashley memang bertelanjang kaki.
"Bahkan sandal rumah?" ulang Armand memastikan.
"Bahkan sandal rumah," tekan Marry.
Armand berdecak. Ia melepas sepatunya jengah dan menyimpan di sudut dinding. "Kautahu kenapa itu dinamakan sandal rumah?" sungut pria itu, "karena itu digunakan di dalam rumah!"
"Untung aku memakai kaus kaki, tapi tetap saja ini tak nyaman," beonya lagi, hanya dibalas senyum canggung dari kedua wanita itu.
Armand melangkah lebih dalam. Hanya terdapat sebuah kamar di sisi kanan dan dapur kecil di ujung ruang. Ia membuka pintu itu, lalu seketika mundur selangkah dengan wajah terkejut.
"Satu kamar dan tiga orang penghuni?" komentarnya horor. Sorotnya menatap tajam pada tiga ekor kucing bertubuh gembul yang terlelap di depan pintu.
"Ini milik Sarah?"
Marry mengangguk di belakang punggung Armand. "Ya, Tuan. Mereka sangat sehat."
Armand membuang napas lelah. "Haruskah kita berbisik-bisik karena para tuan sedang terlelap?"
Ashley terkekeh pelan sebelum ia tersadar telah menertawakan siapa. "Tapi ... mereka adalah nona, Tuan."
Armand berdeham singkat. Ia kembali menutup pintu. "Baiklah."
"Tuan, saya telah menyiapkan makan malam. Kiranya Anda berkenan," tutur Ashley ketika mereka berjalan menuju dapur.
Armand menyorot sebuah meja makan bundar berukuran kecil, apalagi jika dibandingkan dengan meja makannya di wastu. Tiga kursi kayu mengelilinginya. Armand menariknya, lantas Marry dan Ashley melakukan hal yang sama.
Marry tahu Armand tak begitu suka percakapan penting di atas meja makan. Ketika sesi itu terjadi, mereka hanya membahas topik sederhana. Barulah saat selesai makan, Marry kembali bertanya pada Armand perihal maksud ucapannya di kios bunga Sarah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomansaSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
