Baron menarik napas dalam. Pria itu menenangkan dirinya. Dengan kaku, tangannya menekan kenop pintu. Ia masuk mengendap-endap.
Matanya langsung jatuh pada Sarah. Wanita itu sedang terlelap di atas ranjang. Tampaknya belakangan ini Sarah terlihat lebih baik. Ia sudah sehat dan tidak begitu sering melamun. Beberapa kali Baron bicara santai dengannya. Hal itu tentu saja sebab Sarah merasa aman tanpa kehadiran Armand di sekitarnya.
Baron meraih kunci yang menggantung di sisi dalam lubang kunci kamar Sarah. Ia segera memasukannya dengan rapi ke dalam saku rompi. Bisa berbahaya jika Armand mengetahui bahwa selama dirinya tak berada di wastu, Baron membiarkan Sarah memegang kunci kamar.
Suara deruman mobil dari arah garasi samping terdengar. Baron yang sempat melamun seakan terpukul. Pria itu meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan hati-hati.
Baron meneruni anak tangga dengan cepat. Jejak langkahnya menapak marmer sebelum ia berdiri di hadapan pintu utama yang menjulang megah. Ia memutar kunci, menarik pintu, dan di sanalah sorotnya bertemu dengan sepasang legum yang terlihat ... lelah.
Sang paruh baya merendahkan tubuhnya. "Selamat datang kembali, Tuan Armand."
Armand mengangguk singkat, lalu melewati Baron dengan wajah datar yang terlihat sayu. Pria itu langsung menaiki anak tangga tanpa bicara apa pun. Baron hanya bisa mengikuti Armand dari belakang. Namun, ia mengernyit heran kala mendapati Armand melalui pintu kamar Sarah begitu saja. Tak sedikit pun melirik ke sana.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya, barulah Armand berhenti. Ia melepas jas kerjanya dan memberikannya pada Baron. Hal serupa ia lakukan pada dasinya.
"Tuan, apa Anda ingin saya menyiapkan air hangat untuk mandi?"
"Tak perlu."
"Saya sudah menyiapkan makanan untuk Anda, Tuan."
"Aku tidak akan makan. Simpan saja," timpal Armand, "Pergilah," lanjutnya memerintah.
Baron mengangguk. Ia berlalu tanpa suara setelah membungkukkan badannya sejenak.
***
Setelah membersihkan diri, Armand berbaring di atas ranjangnya yang megah. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan bantal yang menyangga kepala. Ia berusaha memejamkan matanya erat hingga alisnya ikut terlipat. Ia sudah berpindah posisi berkali-kali, tapi matanya tetap tak bisa terlelap.
"Sial!" umpatnya geram.
Ini tepat tengah malam. Sungguh ia lelah. Pekerjaan yang padat membuatnya kehilangan tenaga. Namun, sesuatu menahannya. Ia bahkan tak bisa tidur untuk menuntaskan lemas tubuhnya.
Ia ... butuh sesuatu.
Armand kembali menegakkan tubuhnya. Pria itu menyambar ponsel, cigarette case perak, dan lighter-nya dari atas nakas. Setelahnya, ia bangkit dan membalut kakinya dengan sandal rumah polos.
Ia keluar dari kamar. Baru saja Armand hendak melangkah, pergerakannya terpaksa ia urungkan ketika mendapati pintu kamar sebelah berbunyi. Sorotnya langsung terkunci pada sosok perempuan berbalut gaun tidur satin sebatas paha yang baru saja keluar dari sana.
Sarah benar-benar apa yang dibutuhkan Armand.
Armand hendak melangkah cepat, mencengkeram tangannya, menyudutkannya ke dinding, tapi ... langkahnya tertahan entah karena apa.
Wanita itu mengusap matanya perlahan. Jemari lentik datang untuk menutup bibir tipisnya kala ia menguap. Sarah tak meneliti sekitar. Ia berbalik dan mulai menuruni anak tangga.
Ketika Sarah sudah sejauh lima undakan, barulah Armand mengikuti. Sebuah jejak yang begitu sunyi, begitu tak mengusik, sampai Sarah tak menyadari bahwa Armand sudah ada di belakangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomanceSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
