"Sedikit lagi pintunya terlihat, Sarah."
Ketika Sarah mengintip ke depan, wanita itu tak melihat ciri apa pun tentang jalan keluar. Yang terpampang di depan matanya masih sama seperti terakhir kali Sarah mencoba menerka-nerka--hanya pekat seiras jelaga. Di dalam hatinya Sarah menertawakan kebodohannya. Bukankah Armand memang penipu andal?
Lantas langkah Armand berhenti tanpa kata. Meninggalkan suara ketukan nyaring terakhir dari alas kakinya. Tanpa aba-aba, lorong gelap di hadapan mereka terbelah begitu saja. Guratan-guratan cahaya menyiasati dirinya untuk menusuk-nusuk melalui jalan yang terbuka. Sarah benar-benar merasa tertipu dua kali begitu menyadari sepasang pintu baja sepekat obsidian di hadapan mereka bergerak saling menjauh.
Udara yang kini menyapa ruang parunya terasa baru, segar dan membawa pesan dari tanah dan daun-daun yang dimabuk cinta. Wanita itu menyipitkan matanya ketika menyadari bahwa seumur hidupnya ia masih dapat merasakan binar lembut sang baskara. Di luar lorong ini--dapat Sarah lihat--tertera sebuah jalan setapak memanjang yang rutenya hanya lurus dan ujungnya tak tertebak akan berakhir di mana. Sementara di sekelilingnya tertanam jajaran pohon-pohon besar berdaun hijau nan lebat. Jika mata Sarah menyapu ke arah barat dan timur, semua hal yang ia temukan hanya paparan hijau tak berujung.
Sarah terlalu fokus akan apa yang sudah lama tak dirinya nikmati dan lihat, sampai-sampai ia baru menyadari bahwa Armand sedang berbincang dengan seseorang. Sosok pemuda berbalut jas formal berperawakan tegak yang agaknya pernah Sarah temui beberapa saat lalu, tapi sayangnya ia telah lupa. Butuh beberapa saat bagi Sarah untuk mengingat bahwa pria yang kini berdiri siaga di samping pintu baja itu adalah Geri.
Sarah tak menangkap apa pun dari dialog yang telah berakhir. Seperti biasa, akhirnya Geri memberikan hormat dengan tubuhnya menunduk singkat. Lantas ketika Armand melanjutkan perjalanannya mengikuti jalan setapak, Geri mengekor di belakang mereka.
Dalam beberapa saat, suasana hening menyekap mereka semua dalam tensi yang serius. Tak ada yang berbicara, sampai suara embusan napas nyaris saja terdengar. Derap langkah Armand dan Geri yang kian lama kian menggema menjadi salah satu sumber bising dengan dampak tak berarti. Serangga-serangga hutan yang menyatu dengan lumut dan berbiak di ranting pohon turut bersiul-siul syahdu.
Di tengah senyap itu, sebetulnya kepala Sarah sudah berisik. Ia sibuk dengan pikirannya, menerka-nerka ada apa di ujung jalan yang membentang begitu jauh ini. Akankah suatu hal yang baik atau justru versi lain dari sebuah tempat yang Armand sebut 'neraka'.
Sarah mengunci pandangannya pada wajah Armand. Tajam dan dingin dengan bahasa yang begitu sukar Sarah maknai. Mendapati pemandangan yang menurutnya mengerikan, Sarah melempar sorotnya ke belakang. Tak sengaja ia menatap Geri yang rupanya tengah memerhatikannya. Namun, Geri tidak berpaling setelahnya. Pemuda itu malah membalas tatapan Sarah dengan segudang pesan melewati irisnya. Ia terlihat seperti ... sendu?
Sarah sempat kebingungan dengan suasana canggung itu, lantas buru-buru ia beralih. Entah ide dari mana, tapi bibirnya secara otomatis berujar, "Armand."
Pria yang dipanggil hanya berdeham, sebelah alisnya terangkat singkat. Namun, ia sama sekali tidak mencoba untuk menatap Sarah. Armand hanya sibuk melanjutkan langkahnya tanpa berniat untuk menunda.
Telunjuk wanita itu mengarah ke depan. "Di sana ada apa?" ujarnya, melontarkan pertanyaan yang sengaja ia buat.
"Tidak ada."
Sarah menunggu beberapa saat. Dalam benaknya, mungkin Armand akan segera melanjutkan perkataannya. Namun, nyatanya yang terjadi selanjutnya hanya hening tanpa tepi. Armand benar-benar meninggalkan Sarah dengan jawaban yang tidak memuaskan. Wanita itu akhirnya hanya bisa terombang-ambing dalam spekulasi terburuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomansSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
