22

1K 61 28
                                        

Armand meneliti sosok itu. Perempuan berantakan yang berlindung di sudut ranjang. Wajahnya sembap. Bibirnya terus gemetar sementara ia terisak hebat. Jemarinya yang berdarah meremas gaun di antara pangkal pahanya. Ia menekuk kakinya sejauh mungkin dari tepi ranjang--tempat di mana Armand duduk.

Pria itu mengepalkan tangannya. Untuk beberapa saat merasakan gumpalan bola api seolah terperangkap di antara ruas jemari kakunya. Sangat membebani, menyiksa, dan menyakitkan. Lantas pandangannya yang kosong terangkat, menerima getir dari manik madu yang kini berusaha membalas tatapannya dengan nada gemetar. Ia menghitung butir demi butir air mata yang bermuara di dagu Sarah. Semakin banyak dan semakin deras.

Armand mendengar banyaknya kalimat yang berusaha Sarah sampaikan melalui isak tangisnya. Namun, wanita itu memilih diam dan melahap luka-lukanya tanpa kata.

Entah mengapa ... hal itu terasa membosankan.

Memuakkan.

Armand tercekat oleh benaknya sendiri. Ia segera mengusap wajah dengan kasar. Melonggarkan ikatan dasi, meraup udara yang tersisa. Armand menyadari satu hal: ia berada dalam situasi di mana dirinya tidak sanggup menatap Sarah.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia bangkit dari ranjang dengan persaan tak pasti. Prasangka yang tidak nyaman membebani sudut batinnya. Langkahnya yang kali ini meragu membawa tubuh itu melewati ambang pintu. Ia berjalan di tengah lorong yang gelap dengan benang abu-abu di kepalanya. Di ujung lorong yang membawa pada sebuah lift, tampak Geri sedang berjaga.

Geri membungkukkan tubuhnya. Ia menegur sopan, "Selamat malam, Tuan."

"Tolong bawa Sarah kembali. Aku pergi lebih dulu," perintah Armand, menjaga suaranya tetap terdengar stabil. "Lalu ...," ujarnya menggantung, membuat Geri mengernyit samar.

"Lalu berikan obat tidur? Saya akan melakukannya seperti terakhir kali," tebak Geri, sudah terbiasa dengan berbagai titah sang majikan.

"Tidak perlu obat tidur. Berikan saja teh mawar," timpal Armand, "Sarah akan merasa tenang dan tertidur begitu meminumnya. Dia sedang kelelahan," lanjutnya dengan sorot yang perlahan jatuh pada jemarinya.

Geri memasang wajah bingung sebab perintah kali ini sedikit berbeda dari yang sudah-sudah. Ia cukup segan untuk mencari tahu, tapi akhirnya tetap bertanya, "Bagaimana jika di tengah perjalanan ia terbangun, Tuan?"

"Tidak akan."

Geri mengangguk ragu. "Apakah itu tidak terlalu berisiko, Tuan?"

Armand mengernyit tak suka. Ia terkekeh sumbang, "Apa kau baru saja berkata bahwa aku tidak mempertimbangkannya?" ucap Armand sinis, "Bahkan jika ia memintamu putar balik untuk membeli sebuket mawar, biarkan saja, Geri!" sentaknya kesal.

Geri menunduk patuh. "Baik, Tuan."

Armand memasuki lift. Ia membenahi letak dasinya. Sebelum pintu benar-benar tertutup, pria itu berpesan, "Bereskan kekacauan di kamar itu. Pastikan Sarah keluar dalam keadaan baik. Jangan sampai membuat orang lain merasa curiga."

"Saya mengerti."

Ketika Armand tak terlihat lagi dalam pandangannya, Geri mundur tiga langkah. Lantas dengan gesit, tubuhnya berbalik. Suara sepatu pantofelnya yang terburu-buru terdengar nyaring di sepanjang lorong yang sepi itu.

***

Begitu sampai di kamar yang luar biasa megah itu, Geri tak menemukan siapa pun. Ia menyusuri balkon dan melihat banyak pecahan kaca serta jejak darah di atas lantai. Pria itu tak bereaksi berlebihan atas pemandangan mencurigakan tersebut. Ia lantas memasuki kamar utama. Di sana terdapat sebuah ranjang berantakan dengan pekat merah di beberapa titik. Lagi, Geri hanya menganggapnya sebagai angin lalu yang tidak menyeramkan. Ia akan segera membereskan semua itu tanpa sisa, tapi kali ini Sarahlah yang harus ia pastikan pertama kali.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang