18

844 60 7
                                        

Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, lorong panjang menyambut mereka dengan karpet merah yang lembut di bawah langkah. Cahaya keemasan menetes dari chandelier, sementara aroma mawar putih dan cendana melayang samar di udara. Tertaut di pendengaran alunan musik klasik yang mengalir lembut dari kejauhan. Suara biola menggema seperti bisikan masa lalu--halus, tapi tajam.

Sarah melangkah keluar, tapi sejenak tubuhnya terasa berat. Langkahnya goyah sepersekian detik sebelum ia paksa maju lagi. Tangannya yang menggandeng Armand sempat menjadi kaku.

Armand melirik ke samping. Tak berkata apa pun. Hanya mengangkat sebelah alis dan menyunggingkan senyum miring. Entah menyadari, entah tak peduli, entah diuntungkan.

Tanpa memperlambat langkah, ia menarik kasar tangan Sarah, memaksanya terus berjalan. Ballroom menanti di ujung lorong.

Begitu pintu ballroom terbuka, alunan cello dan biola yang tadinya sayup kini menyeruak lebih nyata--mengisi ruang dengan melodi klasik yang bersih dan dalam. Suara gesekan senar menyusup ke sela-sela dada, membungkus udara dengan nostalgia yang dingin.

Beberapa tamu di dekat pintu menoleh. Sejenak, percakapan mereka meredup--berganti bisik-bisik tajam yang tersamar dalam alunan musik.

"Itu Tuan Muda Ghareshaka ... akhirnya muncul juga. Dan sepertinya setelah satu tahun, sudah tak sendiri lagi."

"Nona Sofia, ya? Pilihan yang ... menyegarkan. Ia tak pernah terdengar sama sekali di media. Walau begitu, ia terlihat anggun, tenang. Tidak seperti--"

"--yang terdahulu? Ah. Kabarnya menghilang selama 7 bulan, lalu tiba-tiba mengajukan cerai? Sungguh tak beretika."

"Tapi tentu, Tuan Ghareshaka tahu cara menjaga reputasi. Lihat bagaimana ia berdiri malam ini ... seolah tak pernah disentuh skandal."

Sarah mendengarnya. Bukan kata per kata, tapi nadanya. Tekanan di suaranya. Ketika tawa samar bersumber dari belakang, ia menggigit bibir bawahnya, tak yakin ejekan itu ditujukan ke siapa. Namun, tubuhnya tahu lebih dulu--tengkuknya terasa panas dan dingin sekaligus.

Dari gelagat dan ujarannya, mereka mencintai Sofia. Semua kebencian itu dikirim untuk Sarah--perempuan yang kini bersembunyi di balik nama sang dewi.

Jemarinya yang semula menyentuh lengan Armand dengan ringan kini mencengkeram sedikit lebih erat. Pundaknya menegang, dan langkahnya melambat meski tak berhenti. Pandangannya tertumbuk pada sumber suara musik, mata membesar sejenak seperti menyadari sesuatu yang lama terkubur. Ia menarik napas perlahan, dalam, seolah perlu membungkam sesuatu yang riuh di dalam dirinya sendiri.

Sarah benar-benar diserang di semua kelemahannya. Tentang dirinya yang menerima banyak kebencian, juga perihal keengganannya menikmati musik klasik. Tentunya, Armand yang mengatur semuanya. Membebani Sarah dengan resah, tapi juga pria itu yang melindunginya. Melekatkan nyawanya di balik nama Sofia adalah bentuk pertolongan paling membunuh yang Sarah dapatkan darinya.

Armand menoleh, tak luput menangkap perubahan itu. Tatapannya meneliti Sarah dengan serius dan tajam, lalu kembali menatap ke depan, seolah tak terjadi apa-apa.

Seorang staf pria bertopeng perak menyambut mereka dengan anggukan sopan. "Selamat malam Tuan Ghareshaka, Nona Sofia. Mohon tunjukkan kartu akses Anda."

Setelah memastikan, ia membungkuk sedikit. "Saya akan mengantar Anda menuju ballroom utama. Anda dijadwalkan di meja utama sektor kanan, barisan depan."

Armand hanya mengangguk. Ia membawa Sarah mengikuti langkah staf yang bergerak di jalur utama ballroom--jalan lebar yang membelah rapi di antara deretan meja bundar, semuanya tertutup taplak putih berenda dan dihiasi kristal yang berkilau diterpa lampu gantung.

Cursed LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang