Ferdinand mendengar deruman motor menjauhi pekarangan rumah. Baron sudah meninggalkan tempat itu. Ia menyandarkan punggung kakunya ke dinding. Tatapannya mengarah pada langit-langit, sebelum berlabuh di kamar utama.
Selayang pandang melintasi benaknya. Itu menyesakkan. Sudut matanya mulai berair.
"Ferdinand ...."
Suara berat itu memanggilnya dengan nada rendah. Ferdinand menjatuhkan sorotnya pada salah satu bilik yang gelap. Sosok tinggi tegap yang bersembunyi dalam remang masih berpaku di dalam sana.
"Kita mendapatkannya?"
Ferdinand mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengetat. Ia menarik napas, menetralkan suaranya terlebih dulu sebelum menjawab, "Kau mendapatkannya."
Kekehan sumbang tiba-tiba mengudara. Setiap potong suaranya menusuk gendang telinga Ferdinand dengan cara yang begitu menyiksa.
"Kau benar-benar ... adik yang patuh, Ferdinand."
***
Armand baru saja selesai membersihkan dirinya. Sekarang sudah menginjak tengah malam. Seperti dua malam sebelumnya, ia akan meninggalkan kamar dan menuju area teras untuk menyaksikan Sarah.
Baru saja Armand menutup pintu kamarnya, dirinya mendapati pintu kamar Sarah terbuka. Wanita itu keluar dengan gaun tidur satin sebatas paha. Ia menggenggam sebuah gelas kosong di tangan kiri.
Armand mengangkat sebelah alisnya heran. "Baron lupa menaruh pitcher?" gumamnya.
Sarah menuju ruang makan, lantas kembali ke kamar dengan gelas yang penuh. Di sisi lain, sang pria akan mengamati Sarah menyisir rambutnya melalui teras rumah dan mencuri beberapa foto.
Lagi-lagi, pertunjukan selesai. Sarah telah mematikan lampu kamar dan menutup jendela. Pria itu melirik ponselnya, pukul 01.00.
Armand segera menuju kamarnya. Ia menekan kenop pintu, tapi detik berikutnya memilih melepaskan. Pria itu merasa sebuah desakan nyata menariknya untuk mendekat. Langkahnya berpaling tepat ke arah kamar Sarah.
Armand menekan kenopnya perlahan, lalu masuk dengan langkah yang begitu senyap. Ia berjalan mengitari kamar, menjamah setiap sudutnya, menikmati harum mawar menggoda hidungnya.
Pria itu meraih sisir burgundi yang tergeletak di meja rias. Lantas, tubuhnya berbaring hati-hati di atas ranjang, tepat di samping Sarah yang terlelap ke arahnya.
Armand memosisikan tubuhnya agar menghadap Sarah. Ia menyimpan telunjuknya di depan hidung wanita itu. "Napasmu tenang sekali," bisiknya.
Jemarinya mulai bergerak. Ia meraih surai legum Sarah dan mulai menyisirnya. "Sejak kapan ini tumbuh menjadi sepanjang punggung?" tanyanya entah pada siapa, "Saat pertama kali kita bertemu lagi, kurasa ini sebatas pundakmu."
"Sarah ...," panggilnya samar, "Aku tak pernah tahu aku akan kehilanganmu malam itu," tuturnya rendah. Mata tajamnya seketika melemah.
Armand mengusak saku piamanya. Telunjuk kasar pria itu menyusuri leher jenjang Sarah. Ia menghentikan pergerakannya sejenak ketika wanita itu mengernyitkan kening. "Sht ..., jangan terbangun," ucapnya pelan, "atau kau akan menangis begitu melihatku," gumamnya. Sudut bibirnya tersenyum pahit.
Setelah memastikan Sarah kembali terlelap, Armand melanjutkan sapuan halusnya hingga menjamah tengkuk wanita itu. Ia mengusap rambut lembut Sarah di sekitar tengkuknya.
Ctik!
"Aku ingin tidur bersamamu. Satu jam tak memuaskanku, tapi itu tak masalah."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomanceSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
