Tubuh kaku itu meringkuk di bawah meja makan, hanya bergeming. Kedua telapak tangan Sarah masih erat menutup telinganya--seperti enggan mendengar apa pun. Bola mata bulatnya melempar sorot kosong pada jam dinding. Pukul 02.45. Tak ada siapa-siapa. Hanya keheningan yang melata di setiap sudut ruangan.
Sekujur raga Sarah mulai gemetar dengan napas tersengal. Kelopak matanya sayu, dipenuhi lelah yang menggantung. Ia ingin terlelap, membiarkan daksanya tenggelam dalam gelap. Namun, sesuatu yang mengancam seakan mencengkeramnya erat, menahan setiap detak jantung.
Suara pintu terbuka. Sarah menyaksikan sepasang sepatu pantofel menapak jejak di atas marmer. Derap langkah sekokoh ini hanya dimiliki oleh satu orang: pria yang mampu membuat Sarah terjerembap ke dalam terowongan luka tak bertepi.
Sarah menyeret tubuhnya mundur ketika Armand berpijak tepat di tepi meja makan. Wanita itu sempat terkesiap saat sang pria membawa tubuhnya untuk berlutut. Ia mengunci Sarah dengan sorotnya yang terlihat layu dan semburat kemerahan tipis di wajah. Armand terlihat tidak biasa. Semenjak dirinya terjebak oleh siasat keji pria itu, tak pernah sekali pun dirinya menyaksikan air wajah Armand setenang saat ini.
"Sarah, aku mengantuk," ujarnya rendah, lembut, tapi sesuatu yang dominan tetap meluncur bersama dengan kalimatnya.
Sarah mengernyit, tak tahu harus menanggapi bagaimana. Sebelum sempat berpikir lebih jauh, sebuah cebikan kesal lolos dari bibir Armand. Lalu, dalam sekejap, tangan pria itu melingkar di lehernya--terlalu tiba-tiba untuk dihindari. Mata Sarah membulat, dadanya menegang.
Sontak, Sarah memberontak. Apakah maksud kalimat 'aku mengantuk' adalah rambu-rambu dari aksi pembunuhan? Sarah sampai gila memikirkannya. Wanita itu mencengkeram tangan Armand yang kini mencekal lehernya. Sekuat yang dirinya bisa, Sarah mencoba melepaskan.
Wanita itu membolakan matanya saat lilitan Armand justru kian mengetat. Iris matanya gemetar menyaksikan Armand yang memandangnya dengan siluet bulan sabit di bibir pria itu, menyeramkan. Sarah sempat tak percaya, tapi kenyataan bahwa napasnya telah tersengal membawanya pada fakta bahwa bisa saja hidupnya benar-benar selesai saat ini.
"Sarah, apa kau bisa sedikit lebih santai terhadapku?" ujar Armand tanpa sedikit pun gejolak emosi. Namun, ada gertakan samar di ujung kalimatnya, bersamaan dengan tindakannya yang menepis jemari Sarah menjauh.
Sarah menatap pria itu takut. Namun, sejurus kemudian wanita itu menyadari satu hal. Cekikannya melonggar, bahkan ia tak merasa tercekik. Tepat ketika Sarah berhenti melawan, Armand melemahkan kuasanya.
Sang wanita tak bisa berbuat apa-apa ketika Armand mengulurkan tangan kian dalam dan menarik tengkuknya perlahan. Sangat hati-hati, tak sedikit pun menyakiti. Ia membawa tubuh Sarah keluar dari persembunyiannya yang muram di bawah meja makan. Pria itu akhirnya mengangkat pinggang Sarah dan membawa tubuh ringkih itu untuk duduk di salah satu kursi.
Armand sedikit merapikan gaun tidur Sarah yang tersingkap sampai ke pahanya. Pria itu melepas sepasang sepatu yang telah menggores kakinya bertubi-tubi. Sempat ia menyeka beberapa bekas luka dan bercak darah yang belum tertangani, membiarkan sebagian dari jemarinya menerima pekat itu.
Lantas, sorot mendungnya kembali naik. Mengunci iris madu milik Sarah dalam gurat abu-abu. Di situsi seringan ini pun, Sarah melemparkan pesan waspada melalui bisikan matanya. Armand membiarkan itu terjadi, hanya membalasnya dengan kekehan ringan.
"Jujur saja, kepalaku sedikit berat. Aku mencari tempat tidur, tapi aku ingat aku menyimpanmu di sini," ungkap pria itu. Ketenangan semu menahan degup jantungnya.
Sarah menyeret tubuhnya mundur saat Armand hendak mengistirahatkan kepala di pahanya. Pria itu sudah cukup sabar, sehingga tanpa banyak bicara, ia hanya menarik kaki kursi Sarah untuk mendekat. Lantas, tanpa izin apa pun yang lebih merepotkan, Armand menaruh kepalanya di sana. Menjadikan paha Sarah sebagai bantalan dan membiarkan sebagian tubuhnya berbaring di permukaan marmer yang sejuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomanceSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
