Pintu lift terbuka dengan desisan lembut, nyaris seperti bisikan maut.
Tulisan digital di atasnya menyala merah: LANTAI 58—PRESIDENTIAL FLOOR.
Lantai tertinggi. Tempat di mana dunia berhenti bernapas. Jauh dari keramaian lobi, jauh dari manusia biasa. Di sinilah ruang-ruang disegel oleh keheningan yang mematikan dan rahasia yang tak terucapkan.
Armand menggenggam jemari Sarah dengan erat, mencengkeramnya seperti seekor predator menjerat mangsanya, sementara Sarah berusaha melepaskan diri dengan putus asa. Namun, pria itu menyeretnya tanpa ampun hingga akhirnya mereka berdiri di atas karpet tebal berwarna gading. Di belakang mereka, pintu lift menutup pelan, memutuskan satu-satunya jalan keluar.
Lorong di depan mereka sunyi—terlalu sunyi. Tak terdengar suara televisi di balik pintu kamar, tak ada jejak langkah petugas hotel yang lalu-lalang. Hanya lampu-lampu gantung panjang yang memancarkan cahaya redup, menjuntai seperti obor yang terbuat dari kesunyian di antara dinding marmer dingin.
Dan lorong itu terasa ... terlalu panjang, terlalu hening. Tak ada suara selain dengung samar pendingin ruangan dan detak tumit yang berbisik ragu-ragu menyentuh lantai.
Lampu-lampu di langit-langit berpendar lembut, tapi seiring langkah Armand, satu per satu cahaya itu padam. Tangannya menjulur ke sakelar panel di dinding.
Klik.
Satu cahaya padam, melahap sudut lorong dalam kegelapan.
Mereka melangkah lagi.
Klik.
Lampu kedua padam. Lorong itu tenggelam ke dalam remang yang semakin pekat, mengisap harapan.
Sarah menelan ludah, tangannya terkepal dalam genggaman Armand, tak mampu kabur, tak berani bertanya. Ia mencoba memperlambat langkah, tapi jemari itu menariknya maju—kasar, mutlak, tanpa ampun.
Klik.
Satu lampu lagi padam.
Kegelapan mulai menggerayangi, merayap di belakang mereka, mengekori dengan intensi dingin, seolah ingin memastikan tidak ada jalan kembali.
Langkah Armand tenang, tanpa kata, tanpa ragu. Seolah ini sudah menjadi ritualnya.
Sesekali Sarah melirik ke belakang. Setengah lorong sudah lenyap dalam gelita. Tak ada suara pintu yang terbuka, tak ada tanya dari staf, tak seorang pun. Seolah lantai ini hanya milik mereka dan kegelapan.
Akhirnya, mereka sampai di ujung lorong.
Di sana berdiri sebuah pintu tunggal—tanpa nomor, tanpa cahaya yang menyambut. Armand berhenti. Mengeluarkan kartu akses dari saku jasnya, menempelkan pada pemindai di samping pintu.
Pintu tidak terbuka segera.
Untuk pertama kalinya sejak mereka turun dari lift, ia menoleh ke arah Sarah. Ekspresinya datar, tapi matanya tajam menusuk, menimbang ketakutan yang bersembunyi di balik wajah Sarah yang sembap dan basah.
"Masuk."
Sarah terhenti tepat di ambang pintu.
Tangannya dingin membeku. Napasnya pendek dan terputus-putus. Tubuhnya bergetar halus, seperti benang yang direnggangkan sampai nyaris putus. Matanya berkilat, tapi tak jatuh setetes air pun—seolah raganya terlalu takut untuk menangis.
Armand sudah melangkah masuk satu kaki. Ia menoleh, dan saat tatapan mereka bertemu, lutut Sarah nyaris tak sanggup menopang tubuhnya.
"Aku akan menunggu di luar," gumamnya, hampir tak terdengar, lebih seperti bisikan tersedak dari tenggorokan yang tercekat daripada kalimat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomansaSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
