"Tuan Armand, Nona Sarah sudah siap."
Suara Baron menggema di ruangan megah itu, membuat Armand segera membalikkan badan. Namun, langkahnya terhenti. Pandangannya membeku, terpaku pada sosok di atas tangga. Ia sedikit mendongak, seolah takut kehilangan tiap detik dari pemandangan yang menakjubkan itu.
Di anak tangga pertama, Sarah berdiri. Anggun, seakan waktu menyapanya dengan penuh hormat. Gaun panjang bergaya Victorian, berwarna crimson pekat dan detail bordir hitam, membalut tubuhnya dengan kemewahan yang nyaris tak nyata. Potongan off-shoulder dan korset yang menonjolkan siluet tubuhnya menambah kesan misterius yang menggoda. Separuh wajah wanita itu tersembunyi di balik topeng hitam-merah berhias renda dan bulu, menjadikannya teka-teki yang ingin segera Armand pecahkan.
Menyadari Armand yang menyorotnya tanpa cela, gemuruh jantung Sarah berteriak hebat. Wanita itu menunduk dan melanjutkan langkahnya dengan hati-hati. Di balik sarung tangan hitam sebatas siku yang ia gunakan, jemarinya sudah berkeringat gusar.
Sarah sempat melirik singkat pada Armand, tapi hanya beberapa detik sebelum pandangannya kembali jatuh pada heels hitam yang digunakan. Armand tampil memukau dalam balutan jas tailcoat crimson gelap yang berkilau lembut di bawah cahaya chandelier, dengan potongan tegas dan bordiran hitam di bahu serta dada yang menyerupai ukiran bangsawan. Di baliknya, vest hitam berkerah tinggi dan kancing perak menambah kesan klasik, berpadu dengan celana panjang hitam yang rapi dan sepatu kulit mengilap. Sebuah topeng hitam polos menutupi sebagian wajahnya, tapi tak mampu meredam nyala tatapannya saat melihat Sarah.
Sarah membeku di anak tangga terakhir, ketika jemari pria itu yang berbalut sarung tangan hitam terulur persis di hadapannya. Ia mencoba membaca sebuah senyum tipis sarat akan makna yang terpatri di wajah Armand. Namun, sorot sang pria tiba-tiba mengeras, seperti memaksa. Ia terlihat tak senang menunggu Sarah menyiapkan keputusannya. Lantas, tak ada pilihan lain bagi Sarah kecuali dengan menautkan tangannya. Menyapu debu ragu, gusar, takut dan gelisah dari sudut batinnya.
Armand menyibak anak rambut Sarah yang jatuh di pelipis, lalu membisikkan kata-kata di dekat telinganya, "Malam ini kau adalah pasanganku."
Sarah menunduk. Ada yang menyesak di tenggorokannya, membuatnya sulit bernapas. "Aku tidak mau pergi," katanya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Ketakutan menyelubungi wajahnya--ia tahu betul betapa Armand membenci penolakan.
Pria itu mengernyit, lalu menanggapinya dengan senyum tipis dan nada santai, "Wah ... aku tersinggung," ucapnya dramatis, mengejek seolah ucapan Sarah adalah lelucon.
Sarah memilin jemarinya, gelisah. Akhirnya, ia mengangkat kepala, matanya menatap legam malam sang pria. "Aku tidak cocok dengan tempat itu."
Armand terdiam sejenak, napasnya tertahan. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan mata Sarah--memerah, seakan nyaris pecah. Dengan gerakan lembut, ia melepas topeng dari wajah wanita itu. Seketika, ia bungkam. Sarah sudah tampak berantakan bahkan sebelum Armand sempat mengacaukannya. Rias wajahnya luntur, menyisakan garis-garis tangis di ujung mata.
Ia menoleh ke arah Baron, memberi isyarat dengan alis. Baron membungkuk sedikit. "Nona menolak bantuan saya untuk mengenakan gaunnya, Tuan. Saya tetap membantunya, tapi ia melawan dan menangis," lapornya hati-hati.
Armand terkekeh kecil, entah karena geli atau kesal. Tangannya bergerak meraih sapu tangan dari balik saku jas dan menyeka wajah sang wanita. "Apa yang kaupikirkan? Seperti Baron akan mencelakaimu?"
Pria itu kembali memasangkan topeng Sarah. Ia merendahkan tubuhnya, mengunci wajah wanita itu dengan ekspresi serius. "Temani aku malam ini. Jangan bicara dengan siapa pun. Jangan lakukan apa pun tanpa izin dariku. Jangan tunjukkan wajahmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cursed Love
RomanceSarah ditawan oleh mantan suaminya--Armand. Namun, sosok itu telah berubah. Ia tidak relevan dengan Armand yang dulu Sarah kenal. Kini, pria berperawakan tinggi dan tegap itu menjadi jelmaan iblis yang kejam dan tak berperasaan, seperti tengah menyi...
