36.

177 15 6
                                        

Tiga hari setelah Theo tumbang akibat dipukuli habis-habisan oleh orang orang suruhan Agraham Malverick, dia masih terbaring di ranjang rumah sakit. Luka-luka serius memenuhi tubuhnya, nyaris membuatnya kehilangan nyawa jika bukan karena Jane—wanita yang diam-diam mengorbankan dirinya untuk melawan ayahnya sendiri.

Suasana di ruang pasien terasa sunyi. Hanya bunyi alat medis yang sesekali berbunyi, menunjukkan bahwa nyawa Theo masih bertahan. Jenna, yang duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat seolah takut kehilangan. Tidurnya tak nyenyak, tetapi dia enggan melepaskan tangan suaminya.

Namun, di luar rumah sakit, dunia sedang berguncang dengan sebuah berita besar.

"Detektif…”panggil jay sambil membuka kecil pintu ruangan Juna dengan perlahan. Suara nya memekik takut mengatakan maksud dari kedatangan nya saat itu.
“ada apa?” tanya sang detektif penasaran. 

“e..ini..kurasa ada sedikit masalah” ujar jay lagi. .

“jangan bertele tele jay,cepatlah! Dan kenapa kau terus menghindari mataku?” juna mulai kesal pada junior nya itu.

“berjanjilah kau tidak akan mengamuk atau membuat keributan semacam itu ya.” Dengan santainya detektif tampan itu mengangguk mengiyakan,di wajah jay terlihat ada sedikit ketenangan sehingga ia pun menyambung ucapan nya, “ Kepala kepolisian tiba-tiba memutuskan untuk memindahkan kasus ini ke tangan tim senior karena katanya mereka lebih berpengalaman.”

BRAKKKKK
Juna bangun dari kursinya dengan marah. “k-kau sudah berjanji tidak akan marah detektif!!” seru jay merengek. Namun siapa lah pria didepannya itu. Ia langsung berjalan melewati jay untuk pergi ke suatu tempat tanpa memikirkan janji nya lagi. “astaga apa yang kuharapkan dari pria sepertinya” jay mengeluh pasrah sembari mengejar sang senior dari belakang.

Juna tidak terima kerja keras nya di rebut begitu saja setelah apa yang ia dan tim nya alami selama ini. Dengan kasarnya ia mendobrak pintu masuk ke ruangan atasannya dengan kemarahan yang membara.

Juna langsung membanting dokumen ke meja atasan nya dengan nafas yang terengah engah.
“tenanglah dan duduk dulu sambil minum teh” ujar seorang detektif senior yang akan mengambil alih kasus tersebut berada disana. Tentu saja juna tidak menggubris hal itu sementara jay disamping nya sibuk memaksa untuk keluar.

"apa maksud semua ini pak?” tanya detektif itu dengan nada rendah. Sang kepala tertawa kecil sambil melihat kearahnya. “kau sudah bekerja keras selama ini detektif juna,apa yang dirimu dan putriku kerjakan sangat kuhargai,karena itu kau boleh istirahat dulu”

“anda bilang istirahat? Saya baru bisa beristirahat jika kasus ini selesai”
“karena itulah duduk dan lihat saja bagaimana para detektif senior menyelesaikan nya”

Juna tertawa kecil,ia tau apa yang ingin mereka lakukan setelah ini,apa lagi dengan fakta ia bertemu dengan Theo Malverick diruangan komisaris beberapa hari yang lalu. Dengan hati yang sudah dipenuhi amarah kemudian ia meledak "Apa-apaan ini?! Kami sudah bekerja keras mengumpulkan bukti, dan sekarang kasus ini malah dipindahkan begitu saja?! Ini permainan politik, kan?! Karena nama Malverick ada di dalamnya, kan?!"

“CUKUP!!!!” bentak sang kepala polisi marah membuat juna terdiam. Sadar akan ketidaksabarannya, pria itu lalu menghela napas panjang. Dengan suara rendah, namun dingin pria tua itu berkata" Dengar, Juna. Dunia ini tidak adil bagi mereka yang tidak punya kuasa. Kau tahu Agraham Malverick sedang mencalonkan diri sebagai walikota, bukan? Jika kita menyentuhnya sekarang, itu akan merugikan kita semua."

Juna menggertakkan giginya, suaranya  penuh dengan amarah.
"Jadi, kita harus membiarkan keadilan diinjak-injak hanya demi kepentingan politik?! Ini bukan sistem hukum, ini sistem korupsi!"

Brown eyeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang