Chapter 37
************
Kehilangan jati diri
Pagi itu, langit cerah seolah menyambut hari dengan kehangatan. Namun, tidak semua orang bisa menikmatinya. Seorang detektif masih mengurung diri di dalam kamarnya, menolak untuk keluar.
Di balik pintu, seorang ibu berdiri dengan wajah penuh kecemasan. Sudah sejak kemarin putrinya belum makan. Ia mengetuk pintu berkali-kali sambil memanggil, berharap mendapat jawaban. Namun, seperti biasa, keheninganlah yang menyambutnya.
---
Sementara itu, di kantor polisi, Jay baru saja turun dari mobilnya ketika matanya menangkap sosok seniornya, Juna, berjalan keluar dengan sebuah kotak berisi barang-barang pribadi. Ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa ragu, Jay segera menghampiri dan menghentikan langkah pria itu.
"Anda mau ke mana membawa semua barang ini?" tanyanya curiga.
Juna mendengus, lalu mendorong Jay ke samping. "Bukan urusanmu!"
Jay menyipitkan mata. "Jangan bilang kau dipecat?"
Langkah Juna terhenti. Ia menoleh ke arah juniornya yang tampak sengaja mengucapkan kata-kata itu. "Kau tidak bisa ya membiarkanku hidup tenang? Di manakah letak ketenteraman itu, Tuhan?" keluhnya.
Jay tersenyum dan berjalan di samping sang senior. "Jadi, ada apa dengan barang-barang ini?" tanyanya lagi.
Juna menghela napas panjang. "Hanya barang usang yang memenuhi ruanganku."
"Kau tahu, detektif? Sepertinya Ranty kehilangan jati dirinya sejak kematian gadis pelajar itu," ujar Jay dengan nada serius.
Juna mengangguk. Tidak ada yang bisa menyangkalnya. Keceriaan Ranty yang biasanya berisik kini jarang terlihat. Detektif yang dulu selalu sigap dan tanggap dalam memecahkan teka-teki mendadak kehilangan kemampuannya.
"Aku kasihan padanya… punya ayah seperti Pak Kepala pasti berat," gumam Jay.
Tanpa peringatan, Juna langsung meninju pelan mulut juniornya. "Jaga ucapanmu."
Jay mengusap bibirnya dan berbisik, "Maaf."
"Apa pun itu, aku harus menemui Ranty nanti. Dia adalah rekan yang berguna," ujar Juna sebelum mempercepat langkahnya.
Jay melongo. "Apa maksudnya itu? Apa aku tidak berguna untukmu???"
"HEYYYY!!!" teriaknya kesal.
Tapi Juna sudah terlalu jauh. Pria itu hanya tersenyum tipis sebelum masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Jay dengan kekesalan yang tak terbalas.
Di rumah, sang ibu masih berdiri di depan kamar Ranty, mencoba membujuk putrinya untuk makan.
"Ranty… keluarlah, Nak. Setidaknya makan tiga sendok saja," pintanya lembut. "Jangan terlalu dipikirkan. Ayahmu memang begitu."
Di dalam kamar, Ranty membuka matanya yang berat. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap langit-langit yang tak berubah. Suara ibunya masih terdengar, sama seperti tiga hari terakhir.
"Letakkan saja di meja, Ibu," jawabnya malas dari balik pintu.
Sang ibu menghela napas, lalu berkata tegas, "Keluar sekarang, atau pintu ini Ibu hancurkan!"
Kesal, Ranty akhirnya bangkit dari ranjang. Bagaimana pun,ia tetaplah seorang putri yang takut jika ibunya marah. Meski tubuhnya terasa berat, pikirannya masih berantakan. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, ia mengerutkan kening.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brown eye
Mystery / ThrillerDunia baik baik saja Tapi tidak dengan duniaku... Memiliki wajah yang serupa dengan pembunuh adalah salah ku. "Kau boleh membenciku, memaki ku atau menyumpahi ku seumur hidup mu,tapi satu hal yang inginku katakan. Perasaan ku itu tulus" -Theo Malver...
