Bagian 33

6.3K 371 103
                                        

Hening menyelimuti suasana perjalanan mereka. Arka memperhatikan adiknya yang hanya menatap ke luar jendela mobil dengan pandangan kosong. Setelah membawa Aska pergi tadi, dia memutuskan untuk kembali ke rumah. Suasana hatinya sangat tidak baik malam ini. Adiknya terlalu banyak menerima rasa sakit. Dia marah pada dirinya sendiri, bahkan dulu dia adalah penyumbang terbesar rasa sakit itu. Bodoh sekali.

Arka memberhentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi. Menoleh mengusap pelan bahu adiknya "Kaa...", panggilnya berusaha mengalihkan perhatian Aska.

Si empu menoleh, masih dengan tatapan sama. Tatapan itu, Arka tidak bisa mendefinisikan arti tatapan itu. Tidak ada kehidupan, kosong.

"Gue minta maaf..." tidak ada kata lain yang bisa dia ucapkan selain kata maaf. Hatinya sakit melihat keadaan adiknya sekarang. Dia adalah manusia paling bodoh yang dibutakan oleh rasa dendam yang tak beralasan. Aska selama ini sendirian, bertahan dengan segala kebencian yang dia terima dari orang orang sekitar bahkan orang orang terdekat.

Aska memilin ujung jaketnya untuk mengurangi sesak yang terus bersarang di dadanya. Jujur, hatinya terlalu sakit mendengar perkataan samuel, kendati pun yang dikatakan omnya itu adalah benar.

"Gue gak papa, lo gak salah apa apa kak..." ujarnya lirih menguatkan hatinya. Benar, kakaknya tidak salah apapun. Dialah yang salah disini. Hadirnya lah yang seharusnya disalahkan. Kalau dia tidak mengiyakan ajakan kakaknya untuk bergabung dengan keluarga ini, mungkin mereka menikmati malam mereka dengan tawa bahagia, tidak seperti sekarang. Semuanya kacau hanya karena hadirnya.

Mengalihkan pandangannya kedepan, Aska hanya tidak bisa berlama lama menatap manik penuh khawatir kakaknya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan. Dia itu kuat, kejadian seperti ini sudah sering dialaminya, meskipun rasa sakit itu tetap sama. Terlalu menyakitkan.

Arka mengusak wajahnya kasar, menatap jalanan sepi di depan. Adiknya terlalu pandai menutupi semuanya. Mungkin kesendirian selama ini yang membuatnya menjadi kuat seperti sekarang.

Hening beberapa saat sebelum Arka kembali bersuara "Lo tau kan? Gue kakak lo Ka..." Arka berujar lirih tanpa mengalihkan pandangan dari depan. "Tolong bagi gue rasa sakit lo. Apa yang lo rasain. Sejahat apa yang lo terima. Gue bakal selalu di belakang lo sekarang dek.." ujarnya menahan getaran suaranya.

Beralih ke samping menatap adiknya, Arka kembali bersuara yakin "Tolong jangan simpan sendiri lagi Kaa... gue udah jadi kakak yang buruk banget dulu sampai gak tau kalau adek gue sebegitu rapuhnya sendirian"

Aska tersentak saat tubuhnya ditarik dan kehangatan dekapan sang kakaklah yang dia rasakan. Tanpa sadar air mata yang sudah sejak tadi dia tahan tumpah sudah membasahi kaos yang Arka kenakan. Tidak ada isakan, hanya air mata yang menjadi saksi kerapuhan sang adik.

Aska tidak bohong, rasanya hangat sekali. Hatinya juga menghangat mendengar penuturan sang kakak. Tapi disisi lain, dia takut. Takut kehangatan seperti tidak berlangsung lama. Apakah dia boleh merasakan ini? Apakah Tuhan sudah mengizinkannya untuk bahagia barang sejenak?

Harapan hangatnya kembali dipatahkan saat kalimat Samuel kembali terngiang di kepalanya. Sontak dia melepaskan paksa pelukan sang kakak. Bibirnya digigit kuat menahan gejolak aneh di dadanya. Menggeleng pelan dengan gelisah, tangannya kembali mencengkram erat ujung jaketnya. Dia sudah berjanji dengan oma dan samuel untuk membiarkan kakaknya menjemput kebahagiaan tanpa dirinya. Dan dia akan menghilang dari mereka sejauh jauhnya.

Aska yang melihat adiknya gelisah sambil bergumam tidak jelas tersebut lantas panik. Beralih menggenggam tanggan yang sudah gemetar itu.

"Kaa.. Kenapa?" tanyanya lembut. Berusaha tenang meskipun dia juga dilanda panik setengah mati. Adiknya tiba tiba seperti ini. Dia kaget, tentu.

ASKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang