22. Spend the Time

562 51 5
                                        

Dengan langkah ringan dan senyum yang merekah di wajahnya, Karina berlari kecil memasuki area festival yang semarak. Udara sore dipenuhi aroma manis dari jajanan tradisional yang dijajakan di sepanjang jalan, sementara dentuman musik dan tawa pengunjung menciptakan suasana hangat yang tak terlupakan. Lampion-lampion mulai dinyalakan, menggantung di atas kepala mereka, memberi kesan magis pada langit yang mulai memerah senja.

Di samping Karina, Jeno berjalan menyusul dengan langkah santai, menatap gadis itu dengan penuh kehangatan. Senyum Karina seolah menjadi pusat cahaya dalam keramaian itu, dan saat ia menunjuk ke arah sebuah area di mana pertunjukan tari yang akan segera dimulai, matanya bersinar penuh semangat.

Setelah berdebatan sengit, Jeno mengalah, ia mengalah dan akan pulang bersama sang kekasih, walau ia tidak tau akhir nya akan bagaimana, ia menuruti keinginan Karina. Wanita yang ia cintai.

"Nono, sepertinya di sana akan menyenangkan," ujarnya sambil menggandeng tangan Jeno tanpa ragu.

Mereka berjalan bersama menuju tempat itu, menyelip di antara kerumunan orang yang bersorak dan tertawa. Saat tiba, mereka mendapati sekelompok penari dengan pakaian yang berwarna-warni mulai bersiap. Musik mengalun pelan, perlahan mengundang semua pasang mata untuk menonton. Karina berdiri terpaku, terpesona oleh gerakan anggun dan ekspresi khidmat para penari. Jeno, di sampingnya, meliriknya sesekali, baginya, pemandangan terindah bukanlah tariannya, melainkan Karina yang menikmati setiap detik pertunjukkan itu. Ia ingin mengingat wajah ceria itu dalam ingatannya selamanya.

"Cantik." Gumam Jeno yang mendapat senyuman dari Karina

Keduanya tampak menikmati waktu mereka, untuk yang terakhir kali sebagai sepasang kekasih.

Setelah pertunjukan usai dan tepuk tangan membahana, mereka melanjutkan langkah, mencicipi berbagai hidangan khas festival. Karina memilih es serut, sementara Jeno membeli sate gurita panggang yang tengah viral. Mereka duduk di bangku kayu panjang, berbagi makanan dan cerita. Kadang mereka tertawa lepas, kadang terdiam menikmati kehangatan satu sama lain.

"Kamu harus panggil aku kak, Nono."

"Kita cuma beda 10 hari."

"Eittt, walaupun 10 hari, yang minum susu lebih dulu kan aku."

Jeno terkekeh, ia mengusap sudut bibir Karina yang dipenuhi sirup beka es serutnya, "Masih tetap sama," ujar Jeno pada kebiasaan Karina yang makan es seperti anak kecil.

"Nono, nanti...seandainya...ini seandainya ya...kalau aku memilih mencari Ayahku. Aku titip Mama ku ya."

Jeno menggelengkan kepalanya, "Kamu pergi, aku juga pergi."

Karina mendengus, "Aku kabur."

"Aku cari kamu kebelahan dunia manapun. Sampai ketemu."

"Kalau ketemu? Kamu akan bawa aku pulang lagi kayak sekarang?"

"Kalau ketemu setelah kamu kabur lagi, aku akan membawa mu semakin jauh, hidup denganku, terperangkap bersamaku."

Karina tertawa, "Kayak di film-film aja kamu. Udah ah, yuk keliling."

Di salah satu sudut festival, mereka menemukan stan permainan tradisional. Karina antusias mencoba permainan melempar gelang ke botol. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya ia berhasil mengenai satu botol dan mendapatkan boneka kecil berbentuk beruang.

"Untuk kamu ya adik kecil." ujar Karina, menyerahkan boneka itu kepada Jeno sambil tertawa kecil.

Jeno menerimanya, tapi tak langsung mengambil. Ia menatap Karina sebentar, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.

"Terima kasih, kakak Kayin."

Karina tertawa malu, pipinya memerah. Mereka kembali menyusuri festival, berjalan perlahan di bawah cahaya lampion yang kini menyala terang.

Menjelang malam, sebuah pertunjukan kembang api mulai menghiasi langit. Karina dan Jeno berhenti di pinggir taman kecil, tempat yang agak sepi dari kerumunan. Saat kembang api meletup dan menyebarkan cahaya warna-warni di langit, Karina menyandarkan kepalanya di bahu Jeno, diam-diam merasa bahwa hari itu adalah hari yang akan ia kenang lama.

Di tengah suara gemuruh kembang api dan tawa yang terus bersahutan, hanya ada satu hal yang paling mereka rasakan dengan pasti, bahwa di antara keramaian dan warna-warni dunia, mereka menemukan kenyamanan satu sama lain.

***

Waktu berlalu, malam ini adalah malam terakhi mereka sebagai sepasang kekasih. Besok, mereka akan pulang dan Jeno sudah berjanji untuk menjadi saudara Karina, demi ayah dan ibu mereka.

Keduanya menatap ke arah jendela, memperhatikan langit tanpa bintang, sangat gelap gulita, entah kemana para bintang, apa mungkin mereka tau kalau kedua hati kini tengah gunda gulana berharap waktu tak berjalan dan mereka bisa terus saling mendekap seperti malam ini.

"Terlalu gelap, bintang tidak terlihat, mungkin akan hujan." Komentar Karina yang dibalas gumaman oleh Jeno.

Ia hanya diam mendekap sang kekasih dari belakang, "Hmmm mungkin akan hujan." Gumam Jeno mengiyakan.

Mereka tidak tau harus mengatakan apa, mereka bingung harus mengatakan apa saat waktu terus berputar dan akan memisahkan mereka esok hari.

"Apa kita harus melakukan semua ini?" Tanya Jeno lagi

"Hmmm harus."

"Menyakiti diri kita sendiri demi orang lain?"

"Ibuku dan Ayah mu bukan orang lain."

Jeno mengeratkan dekapannya, "Aku tidak bisa...."

Jeno masih memeluk Karina dari belakang, dagunya bersandar di bahunya.

"Aku tidak tahu harus bagaimana besok," ucap Jeno pelan, nyaris seperti gumaman. "Tapi malam ini… bolehkah jadi malam terakhir kita?."

Karina mengangguk pelan, tanpa menoleh. Ia bisa merasakan dada Jeno naik-turun, menahan banyak hal yang tak bisa ia ucapkan.

Jeno melepaskan pelukannya, lalu membalik tubuh Karina agar berhadapan dengannya. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada air mata, hanya sorot mata yang menyimpan banyak kesedihan.

"Temani aku malam ini… sepenuhnya," ucap Jeno, suaranya serak. "Aku ingin mengingatmu seperti ini… sebagai cintaku."

Karina tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, mengangkat tangan dan menyentuh wajah Jeno. Lembut. Seolah dengan satu sentuhan itu, ia ingin mengatakan, 'Iya, aku bersamamu… malam ini dan selamanya dalam ingatan'

Jeno membungkuk, mencium bibir Karina dengan penuh rasa. Tidak tergesa. Tidak terburu-buru. Hanya ingin menyatu, sebelum semuanya hilang. Jeno mengulum pelan bibir atas dan bawah Karina, mencoba meresapi rasa yang mungkin tidak akan bisa ia rasakan lagi.

Jeno memperdalam cumbuannya kala merasakan bahwa Karina membalas ciumannya, memanggut bersama seakan tidak puas dengan semua itu. Lama bercumbu, Jeno menarik diri, kilat matanya menandakan bahwa ia tidak menginginkan Karina menjadi miliknya.

Jeno mendekatkan kembali wajahnya, "Mundur selagi bisa, Karina." Ujar Jeno memperingati wanita yang esok akan menjadi saudarinya itu.

Jeno mengira Karina akan mundur, namun yang terjadi sebaliknya, wanita itu menarik wajahnya lalu menyatukan kembali bibir mereka, memanggut secara acak mencoba menghancurkan keraguannya. Jeno membalas, ia menarik tubuh Karina agar terus menempel padanya, ia membalas ciuman itu, memanggut bibir sang kekasih dengan seduktif.

Tak lama, Jeno melesakkan lidahnya, mengajak Karina bermain lebih jauh, lebih intim dan lebih berani. Wanitanya menyambut dengan sangat baik, Jeno tersenyum dalam cumbuan mereka yang mulai menggila.

Jeno membawa Karina berjalan seraya terus bercumbu mesra, kepala mereka terus bergerak ke kanan dan kiri melumat satu sama lain lebih dalam hingga Jeno menarik diri lalu mendorong pelan sang pujaan hati ke tempa tidur.

Mereka melepas satu per satu penghalang di antara mereka, dengan gerak yang tenang, dengan hati yang rapuh namun yakin. Tak ada keraguan, karena keduanya tahu malam ini bukan hanya tentang nafsu, melainkan tentang rasa cinta satu sama lain yang hanya bisa mereka hubungan untuk terakhir kali.
.
.
.
Part Lengkap di Karyakarsa

Happy reading...

Crazy Girl vs Cold BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang