Melelahkan? Tentu saja, itulah namanya hidup dan sepertinya Karina baru merasakan hidup di umur yang sudah memasuki seperempat abad, saat masalah datang bertubi dan ia rasanya ingin menyerah, namun ia sadar bahwa ia hidup. Memiliki masalah, merasakan banyak perasaan, kehilangan dirinya sendiri bahkan harus mengalah dan menerima cemooh. Tapi inilah hidup, kalau hidupnya berjalan seperti Karina beberapa tahun lalu mungkin ia akan menemukan masalah-masalah lain yang lebih pelik.
Jadi syukuri saja, entah yang datang itu masalah atau apapun itu.
Karina menatap dirinya dicermin, ia mencoba tersenyum, menatap dirinya yang hilang entah kemana, dirinya yang dulu sangat ceria dan selalu positif. Mungkin, ia hanya harus menemukan kembali dirinya dan menghadapi semua masalah yang ada dengan penuh kepercayaan diri. Sudah cukup menjadi seperti yang diinginkan orang lain. Ia akan menjadi Karina, wanita cantik, ceria dan selalu positif.
Ruang makan pagi ini tampak sama seperti biasanya. Karina berjalan dengan penuh percaya diri, wajahnya berseri dengan senyum merekah indah menatap semua orang di meja makan.
"Pagi Ayah, Ibu, Jeno, Winter." Ujar Karina dengan riang yang langsung mencuri perhatian semua orang di meja makan.
"Sepertinya kau bahagia sekali hari ini," sapa Winter
Karina mengangguk, "Harus bahagia biar bisa hidup tenang. Btw, mau ikut tidak? Aku jadi crew di acara amal, ada artis yang datang, artis kesukaanmu, aku ada tiket gratis 1, pake saja."
"Benerkah?"
Karina mengangguk sambil mengambil lauk, "Iya, mau ikut? Tapi kalau kau tidak sibuk sih." Ujar Karina lagi
"Tidak tidak, aku tidak sibuk, mau ikuttt."
Karina mengangguk, "Ya ya, siap-siap setelah ini."
Karina tersenyum saat melihat Winter excited, sementara Ibu dan Ayah mereka hanya terkekeh kecil. Namun ada Jeno yang menatapnya dengan wajah entah itu marah, kesal, bingung, entah Karina tidak ingin tau.
"Hari ini pulang jam berapa sayang?" Tanya sang ibu
"Hmm mungkin sore bu, karena ada evaluasi yang mungkin lebih lama nanti. Kalau Winter selesai konser mungkin bisa langsung pulang."
Winter menggelengkan kepalanya, "Aku menunggu mu saja."
"Yakin?"
"Hmm, aku tidak sibuk hari ini, lagipula aku akan bosan kalau pulang lebih cepat."
Karina mengangguk membiarkan adik tirinya itu mengikutinya sampai acara selesai. Toh ia juga tidak akan pulang malam. Karina merasa semakin hari ia malah semakin akrab dengan Winter namun menjadi semakin jauh dengan Jeno. Winter yang dulu tidak menyukainya kini lebih lengket padanya.
Karina tidak ingin terlalu percaya diri tapi kadang Winter mengikutinya melakukan sesuatu yang menurutnya seru, bercerita soal keluh kesahnya saat kuliah, bahkan hubungan asmaranya, lalu kalau anak itu takut, dia akan ke kamar Karina untuk meminta tidur bersama. Karina tidak keberatan melakukan semua itu, toh ia juga tidak punya saudari jadi ia sudah menganggap Winter sebagai adiknya.
Tapi Jeno...
Sudahlah...
Setelah sarapan, Karina menunggu Winter di ruang tengah sambil memainkan ponselnya hingga Jeno datang ke arahnya. Ia mencoba untuk cuek dan biasa saja tapi ucapan laki-laki itu berhasil membuatnya kesal.
"Kau masih ingin bermain-main rupanya."
Karina menghela napas pelan, namun ia mencoba untuk abai.
"Kau akan terus seperti ini? Menjadi tidak berguna begini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
Fiksi PenggemarKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
