Di ruang tamu kecil dekat taman belakang, Karina duduk berhadapan dengan ibunya. Udara terasa berat, dan suara jangkrik malam terdengar sayup dari luar jendela yang terbuka sedikit.
Ibu Karina menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca, namun tetap menjaga sikap tenangnya. "Karina...Maafkan ibu..."
Karina menggigit bibirnya sejenak, lalu memberanikan diri menatap wajah ibunya. "Bu… aku yang minta maaf karena tidak pernah benar-benar jujur sebelumnya, aku terus membohongi diri tapi bu...maaf aku benar-benar tidak bisa lagi melakukan hal itu, semua sangat sulit. Aku tahu ini mengejutkan dan mungkin Ibu kecewa padaku."
"Ibu tidak tahu harus berkata apa nak… kalian tidak tumbuh di rumah yang sama seperti saudara, kalian sudah saling mengenal jauh sebelum ini…Jadi semua terasa sangat menbingungkan, dan semua salah ibu nak." suara sang ibu bergetar, mencoba menahan emosi.
Karina menunduk" Aku mencoba melupakan hubungan kami dan mencoba menjadi saudara.... Tapi kami tidak pernah merasa seperti saudara. Kami memang tinggal serumah, tapi aku dan Jeno tidak sedarah, tidak pernah merasa seperti adik-kakak. Aku pun sempat menyangkal perasaanku sendiri…Tapi semakin aku mencoba menjauh, semakin aku sadar bahwa perasaan ini nyata. Maaf ibu."
Ibunya menatap putrinya dengan wajah sedih,"Ini salah ibu karena tidak mempedulikan perasaanmu dan memaksa kalian menjadi saudara. Kenapa tidak bilang sejak lama, sayang?"
Karina menatap ibunya dengan mata berkaca, "Aku takut... aku takut membuat Ibu kecewa, takut merusak keluarga yang sudah Ibu bangun dengan susah payah bersama Ayah. Tapi Jeno yang mendorong aku untuk jujur. Ia bilang hubungan kami tak bisa terus seperti ini, diam-diam dan menyakitkan, kami akan saling melukai karena terus berpura-pura." jelas Karina dengan suara lirih.
Sang ibu memalingkan wajahnya sejenak, menghela napas panjang. "Kau tahu kenapa ini berat untuk Ibu, nak? Karena kau adalah segalanya bagi ibu, Karina. Dan ibu tidak ingin melihatmu disakiti, apalagi oleh situasi serumit ini. Ini bukan tentang sedarah atau tidak. Ini tentang bagaimana orang akan memandang kalian, tentang bagaimana dunia melihatnya."
Karina menunduk, air matanya menetes. "Aku siap menanggung semua risikonya, Bu. Aku hanya ingin Ibu tahu bahwa Jeno mencintaiku dengan tulus. Dia memperjuangkanku, hubungan kami."
Beberapa saat sang ibu terdiam. Lalu dengan pelan ia meraih tangan Karina dan menggenggamnya erat.
"Ibu butuh waktu untuk memahami semuanya, Karina. Ibu butuh waktu untuk memutuskan semua ini, tapi satu yang harus kau tahu… ibu tidak akan pernah berhenti menjadi ibumu, dan ibu hanya ingin yang terbaik untukmu."
Karina langsung memeluk ibunya erat, menangis di bahunya. "Ibu...maaf."
Sang ibu menepuk punggung putrinya perlahan. "Kita hadapi ini bersama… Tapi janji pada ibu, jangan pernah sembunyikan hal sepenting ini lagi. Mengerti?"
Karina mengangguk dalam pelukan hangat itu, merasa beban di dadanya perlahan-lahan mulai terangkat.
***
Jeno tahu, ayahnya belum benar-benar berkata banyak, ia hanya diam dengan wajah keras dan mata yang tajam menahan amarah. Tapi Jeno tahu, keheningan itu lebih menusuk daripada kemarahan. Dan itulah yang paling ia takutkan.
Dengan napas dalam-dalam, Jeno mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.
Tok… tok…
"Masuk," suara dari dalam terdengar dalam nada datar.
Jeno membuka pintu dan melangkah masuk, menutupnya kembali dengan hati-hati. Ayahnya sedang duduk di kursi baca dekat jendela, tanpa menatap anak lelakinya. Tangannya menggenggam buku yang belum terbuka, dan wajahnya terlihat lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
