25. Tired

745 85 17
                                        



Karina menghela napas berkali-kali, ia menatap dokumen-dokumen beasiswa nya yang mungkin akan terbengkalai, ia tampak berpikir, apa yang bisa ia lakukan sendiri? Sejak dulu, ia selalu hidup bergantung pada orang lain, bahkan hingga saat ini yang membuatnya kesulitan menentukan tujuan hidupnya. Karina sudah ditawari oleh ayahnya untuk bekerja seperti Jeno namun ia menolak karena merasa itu bukanlah bidangnya. Namun hingga setahun berlalu, ia masih saja begini, masih sama, tidak melakukan apapun bahkan menjadi pengangguran yang dibiayai oleh ayah yang mirisnya bukan ayah kandungnya.

Ia ingin terbang jauh namun ia merasa sayapnya tidak lah kuat untuk itu. Kadang ia sulit memikirkan masa depannya padahal usianya sudah tidak mudah bukan usia untuk bermain lagi. Ia harusnya bisa menghidupi dirinya sendiri atau lepas dari ayah dan ibunya. Namun Karina tidak pernah memikirkan semua itu, ia terlalu takut, ia takut keluar dari zona nyaman yang ternyata juga menyiksanya.

Pagi ini, Karina memutuskan untuk menemui seorang teman yang mungkin bisa membantunya mencari pekerjaan. Ia tidak ingin hanya makan, tidur, menghabiskan waktu sia-sia memikirkan nasibnya yang tidak jelas apalagi perasaannya yang sudah tidak bertuan.

"Mau kemana?" Tanya Winter melihat Karina sudah berpenampilan rapi. Ucaoan Winter menarik perhatian semua orang di meja makan termasuk Jeno.

"Ah, aku ada pertemuan dengan temanku."

"Untuk apa?" Tanya Winter lagi

"Itu bukan urusanmu ya, anak kecil, sudah makan saja." Ujar Karina yang membuat Winter mendengus.

"Aku ikut."

Karina mendelik, "Yak! Tidak boleh."

"Kau pasti akan belanja ke mall kan? Ayo, aku juga mau, aku bosan dengan skripsi sialanku ini."

Karina mendecak. "Aku tidak akan ke mall ya Winter, aku ada pertemuan penting dengan temanku."

"Pokoknya aku ikut!"

Karina berdecak kesal, "Kau akan bosan, aku akan membicarakan pekerjaan disana, jadi diam saja di rumah." Ujar Karina lagi yang semakin membuat Winter heboh.

"Kau akan bekerja!! Serius!! Dimana! Kerja apa?!"

Karina ingin menjahit mulut adik tirinya ini, ia mencubit paha Winter karena membuat gaduh di meja makan, gadis itu meringis kesal namun terdiam saat suara ayah mereka terdengar.

"Kau akan bekerja, Karina?"

Karina menghela napas pelan,"Aku hanya akan membicarakan pekerjaan dengan temanku, aku belum akan melakukannya ayah."

"Kau bisa bekerja di perusahaan ayah, kenapa harus bersusah payah mencari keluar, nak?"

Karina baru saja akan membuka suara sebelum ucapan Jeno membuatnya kesak bukan main, "Berhentilah bermain-main dan mulailah serius, kau bukan anak kecil lagi." Ujar Jeno santai

"Yang bilang aku akan bermain siapa?" Ujar Karina membuat suasana menegang.

Winter menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya. Ayah mereka hanya menatap Karina lama, seolah ingin mengatakan sesuatu namun menahan diri. Sementara itu, Jeno kembali fokus ke ponselnya, seakan ucapannya tadi tidak berarti apa-apa.

Karina menahan air mata yang nyaris jatuh. Ia tahu dirinya memang banyak kekurangan, tapi bukan berarti ia tidak mencoba. Dengan langkah cepat, ia mengambil tasnya lalu berkata pelan, "Aku pergi dulu."

Tidak ada yang berusaha menahan. Bahkan Winter yang biasanya rewel, hanya diam dan membiarkannya pergi.

Langit di luar sedikit mendung. Udara terasa berat, sama seperti suasana hatinya. Karina berjalan menuju halte, lebih memilih naik bus daripada membawa mobil keluarga. Ia merasa tidak pantas duduk nyaman di balik kemudi sementara hidupnya sendiri berantakan.

Crazy Girl vs Cold BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang