Jeno telah memberitau orang rumah bahwa ia sudah menemukan Karina dan akan membawanya pulang namun tidak dalam beberapa hari ini karena Karina ingin beristirahat sejenak di tempat lain selain di rumah. Jeno mengabulkan namun ia menyewa hotel yang memiliki fasilitas lebih baik agar gadis itu tidak sakit lagi. Namun perdebatannya dengan Karina soal mencari ayahnya masih berlanjut.
Wanita itu ingin mencari ayahnya sendiri sementara Jeno merasa bahwa hal itu tidak perlu dan tidak akan mengubah keadaan. Jeno kekeh mengatakan kalau Karina harus kembali ke rumah dan hidup seperti dulu walau semua agak sedikit berubah karena ada kehadiran Winter.
Berbicara soal adiknya itu, Winter tidak protes saat ia mencari Karina. Sesaat setelah Karina kabur, ia dan Winter diintrogasi ayah mereka dan ayah mereka mengetahui fakta soal apa yang ingin mereka lakukan pada Karina. Setelah meluruskan kesalahpahaman soal masa lalu. Winter mulai menerima keadaan bahwa ayah dan ibu mereka berpisah karena kehendak mereka berdua. Dan ayah mereka sudah meminta maaf karena semua perlakuan tidak menyenangkan di masa lalu terutama karena tidak pernah menjadi seorang ayah untuk kedua anaknya.
"Perutmu masih sakit?" Tanya Jeno saat melihat Karina tampak termenung di atas tempat tidur.
Karina menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa Karina?"
Karina menatap Jeno lamat, "Aku hanya sedang bingung bagaimana mungkin aku berakhir disini denganmu. Harusnya bukan seperti ini, kita seharusnya tidak seperti ini."
"Seperti apa maksudmu Karina."
"Kita tidak seharusnya berada disatu tempat yang sama dengan perasaan yang sama dan keadaan yang sama. Kau dan aku, kita seharusnya bertengkar, saling membenci dan menjauh satu sama lain."
Jeno menatap ke arah berbeda mencoba mencerna maksud Karina, namun ia tau ucapan Karina benar, harusnya mereka menjadi musuh yang saling membenci dan menghancurkakn namun Jeno tidak akan pernah bisa, membenci Karina? Kebohongan besar macam apa itu.
"Aku tidak mau. Kita tidak harus seperti itu, yang memegang kendali atas situasi dan suasana hati kita adalah kita sendiri, jadi aku tidak ingin melakukan hal itu Karina.
"Kau sudah melakukannya Jeno, bertahun-tahun, tapi kau kalah karena terjebak dalam permainan mu sendiri."
"Ya, aku tau, aku bodoh untuk itu tapi aku tidak menyesal. Aku mencintaimu."
"Berhenti mengucapkan omong kosong Lee Jeno."
"That's not a shit Karina. I love you, I do."
Karina membuang wajahnya, ia tidak ingin menatap Jeno namun wajahnya tertarik pelan menghadap ke arah Jeno yang entah kapan sudah duduk di tempat tidur.
"Aku minta maaf, aku minta maaf untuk semuanya, aku mencintaimu, aku benar-benar mencintaimu. Jadi kalau kau tidak ingin kembali, setidaknya kau harus pergi denganku."
Bibir Karina kelu, matanya bergetar dengan airmata yang mulai tergenang, ia tidak sekuat orang lain, masalah yang menimpahnya bertubi-tubi membuatnya lelah, jujur ia ingin mengiyakan keinginan Jeno agar ia tidak harus memikirkan segalanya sendiri.
"Aku lelah..." ujar Karina mulai menangis, entahlah, sejak lahir ia tidak pernah dihadapkan dengan permasalahan sebesar ini. Ia tidak pernah memiliki ekspektasi tentang masalah yang akan menimpahnya saat ini. Ia hanya punya ibu, dan ayah yang ia sayangi ternyata bukanlah ayah kanduungnya. Padahal dibanding ibunya, ia lebih dekat dengan sang ayah.
Jeno memeluk pujaan hatinya, mengelus punggung gadis yang berusaha tegar dan kuat walau ia tau pundaknya sangat rapuh. Hidup Karina berubah, dan ia yang merubahnya, Jeno menyesal, ia menyesal harus terus melihat airmata menetes dari mata indah sang kekasih. Ia ingin Karina yang ceria seperti dulu namun untuk mengembalikannya, Jeno ragu, apa ia bisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
