29. Lost

620 71 5
                                        






Sore itu, cahaya matahari mulai meredup perlahan, menyusup masuk melalui tirai ruang tengah villa yang terbuka sebagian. Di ruang tengah yang luas dan nyaman, lima orang duduk melingkar di atas karpet tebal, dengan bantal-bantal berserakan sebagai sandaran. Botol kaca kosong diletakkan di tengah lingkaran, mengilap terkena cahaya lampu gantung di atas mereka.

Karina duduk bersila, bersandar santai pada bantal besar dengan segelas soda di tangan. Di sampingnya, Kafi duduk cukup dekat, kadang menyenggol bahunya saat tertawa. Jeno duduk di seberang, tampak tenang dari luar namun pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari Karina. Claudia duduk di sebelah Jeno, sementara Jaden terlihat paling santai di antara semuanya.

"Baik," ujar Jaden sambil menggosokkan kedua telapak tangannya, "siapapun yang kena botol harus pilih truth or dare. Jangan pengecut, ya."

Karina tertawa pelan. "Kita lihat siapa yang duluan kena."

Jaden memutar botol. Semua mata memperhatikan ujung botol yang berputar cepat, lalu melambat... dan akhirnya berhenti menunjuk pada, Claudia.

Claudia menaikkan alis anggun. "Truth."

Jaden menyeringai. "Oke. Siapa yang terakhir kali kau cium?"

Claudia menoleh pelan pada Jeno dan tersenyum simpul. "Sepertinya kau tahu jawabannya." Ujar Claudia pada Jaden sengaja menatap Jeno karena Jeno memarahi mereka tadi pagi karena berciuman tak tau tempat.

Namun seseorang berpikir berbeda. Karina hanya memutar bola matanya dan meneguk minuman mengira kalau itu Jeno.

Giliran selanjutnya, Kafi memutar botol, dan kali ini berhenti tepat di arah Karina. Sontak suasana langsung berubah.

"Truth or dare, Karina?" tanya Kafi sambil tersenyum, matanya tak lepas dari wajah gadis itu.

Karina menggigit bibir bawahnya pelan, lalu menjawab, "Truth."

Kafi sedikit mencondongkan tubuhnya. "Apakah kau menyukai seseorang... dari lingkaran ini?"

Suasana hening sepersekian detik.

Karina menatapnya, lalu membuang pandangan ke arah gelasnya. Senyum tipis terbit di bibirnya. "Mungkin."

"Siapa?" tanya Jaden cepat.

"Eh, itu bukan bagian dari pertanyaan," sela Karina sambil tertawa kecil. "Pertanyaannya hanya ‘apakah’, bukan ‘siapa’."

Tawa meledak. Tapi Jeno hanya diam. Tatapannya mengeras saat melihat Kafi yang menatap Karina dengan cara yang terlalu jelas, terlalu penuh harap.

Botol kembali diputar. Kali ini, ujungnya menunjuk ke arah Jeno.

"Truth or dare?" tanya Claudia, suaranya lembut.

"Truth." ucap Jeno cepat, nadanya hampir seperti tantangan.

Claudia melirik ke Kafi lalu ke Karina, seperti memikirkan sesuatu yang licik. "Aku ingin kau untuk mengatakan jujur... siapa yang kau cemburui saat ini."

Suasana langsung sunyi. Bahkan Karina mendongak pelan, menatap Jeno dari balik rambutnya yang tergerai.

Jeno tertawa kecil, namun tidak sampai ke matanya. Ia menatap Claudia sebentar, lalu akhirnya pandangannya beralih ke arah Karina.

"Seseorang yang duduk terlalu dekat dengan orang yang... tidak seharusnya."

Karina menegang, dan semua orang tampak sedikit kaget. Claudia tersenyum tipis, sementara Kafi terlihat canggung.

"Whoa, itu... berat," komentar Jaden, mencoba mencairkan suasana.

Permainan berlanjut, tapi suasana tak pernah benar-benar kembali cair. Jeno tak bicara banyak setelah itu. Karina beberapa kali mencuri pandang ke arah Jeno, namun lelaki itu hanya berpura-pura menatap ke layar televisi.

Crazy Girl vs Cold BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang