Suasana ruang ganti menjadi sangat haru, Karina tampil cantik dengan gaun pilihan nya dan sang ibu. Karina menatap dirinya di cermin, ia takjub karena melihat wajahnya yang berseri dan bercahaya dengan make up tipis dan gaun pengantin yang indah. Karina tersenyum pada ibunya yang juga menatap pantulan dirinya. Ia memeluk ibunya erat merasa terharu, lalu tak lama ayahnya juga ikut masuk bersama Dad nya. Karina memeluk kedua laki-laki yang berharga dalam hidupnya.
"Cantik, putriku sangat cantik." Ujar sang Ayah namun sang sahabat mendelik.
"Dia putriku."
"Ck, aku yang membesarkannya jadi dia juga putriku."
"Yak kau..."
"Ayah, Dad, please, kalau kalian terus bertengkar aku akan berjalan di altar dengan Ibu saja."
Sang ibu ikut berdecak lalu memberi gesture ingin memukul kedua laki-laki yang membuat hidupnya penuh drama. Keduanya langsung kicep membuat Karina tertawa kecil, ia mendekati kedua ayahnya lalu memeluk keduanya bergantian.
"Terima kasih sudah menjadi Ayahku." Ujar Karina pada kedua ayahnya. Ia lalu menggandeng keduanya bersiap saat para crew meminta mereka bersiap karena acara akan segera di mulai.
"Ibu akan menunggu diluar sana, kalau mereka bertengkar lagi, injak saja kaki mereka." Wejangan sang ibu. Karina mengangguk patuh sambil terkekeh.
Acara sudah dimulai. Musik lembut mengalun dari sudut ruangan, menghiasi suasana dengan kehangatan dan haru. Para tamu berdiri, menoleh ke arah pintu utama yang perlahan dibuka. Karina muncul di ambang pintu, didampingi oleh dua pria di sisi kanan dan kirinya Ayah kandung dan ayah yang selama ini menjadi sosok ayah baginya. Gaun putih yang elegan melambai lembut mengikuti langkahnya, dan sorot matanya langsung tertuju pada Jeno yang berdiri di altar dengan wajah tegang dan mata berbinar.
Jeno terpaku. Seketika dunia seolah berhenti berputar. Yang ia lihat hanya Karina yang kini berjalan perlahan menghampirinya, sosok perempuan yang telah melewati badai bersama, yang kini akan menjadi istrinya.
Setelah langkah panjang itu selesai, kedua ayah Karina menyerahkan tangannya kepada Jeno. Tatapan mereka menegaskan satu hal
"Jagalah putri kami"
Jeno mengangguk lalu memunduk dengan penuh hormat sebelum menggenggam tangan Karina erat.
Jeno tersenyum menatap sang kekasih, "Cantik." Ujar nya yang membuat Karina tersipu.
Prosesi pemberkatan berlangsung hikmat, keduanya mengucap janji setia sehidup semati dengan penuh haru. Berjanji akan menjalani kehidupan mereka dengan penuh kebahagiaan dihadapan semua orang juga di hadapan tuhan.
Saat prosesi pemberkatan cinta selesai, Jeno membuka kerudung tipis di wajah Karina, lalu mengecup keningnya penuh kasih.
"Mulai hari ini, kau resmi jadi istriku," bisik Jeno.
Karina tersenyum sambil menahan air mata. "Dan kau, suamiku."
Setelah itu, mereka berjalan beriringan meninggalkan altar, disambut bunga-bunga yang ditaburkan para tamu. Ayah, Dad, dan Ibu Karina berdiri di ujung lorong sambil tersenyum penuh kebanggaan, disana juga ada Winter yang menatap kakaknya penuh haru, ia bahkan meneteskan airmata.
Hari itu, bukan hanya tentang dua insan yang bersatu. Tapi tentang sebuah keluarga yang utuh walau dibentuk dengan cara yang tidak biasa, namun cinta mereka luar biasa.
Hari itu adalah hari spesial bagi keduanya, mereka telah mengikat takdir bersama di hadapan tuhan. Berjanji sehidup semati bersama.
"Aku mencintaimu." Ujar Jeno
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
