20. Berdebat

651 69 11
                                        

Malam telah sepenuhnya menelan langit ketika Karina dan Jeno akhirnya tiba di penginapan. Suasana kota mulai lengang, hanya terdengar suara serangga malam dan sisa rintik hujan yang menetes dari pepohonan. Karina membuka pintu kamar penginapannya dengan perasaan campur aduk. Namun baru saja mereka melangkah masuk, atmosfer mendadak berubah.

Pintu belum sempat tertutup dengan sempurna, Jeno berdiri tegak di tengah kamar. Tatapannya tajam, seperti guru yang mendapati siswanya membolos tanpa alasan yang jelas.

"Kau sudah gila, Karina?" suaranya meninggi, penuh nada khawatir yang tertahan. "Kabur dari rumah? Seorang diri? Ke kota yang asing pula?! Apa kau pikir hidupmu ini drama?!"

Karina yang tengah meletakkan tasnya di atas tempat tidur, hanya mendesah pelan lalu duduk dengan mulut sedikit mengerucut. "Baru juga masuk kamar, sudah disidang..."

"Ini bukan sidang! Ini luapan kekhawatiranku yang kutahan sejak kemarin! Aku mencarimu ke mana-mana, Karina! Kau bahkan tidak tahu cara memasak memasak air."

Karina menunduk, menyembunyikan rasa bersalah yang perlahan muncul. Namun, tetap saja bibirnya masih maju sedikit, seolah merasa dirinya tidak sepenuhnya salah. "Hei, aku yang harusnya marah ya, kau yang memberitau soal ayahku, aku yang harusnya marah, kenapa kau yang marah sekarang, lagipula aku hanya ingin mencari tahu siapa ayah kandungku..."

Jeno menghela napas panjang, lalu menarik kursi dan duduk di hadapan Karina. Suaranya kini lebih tenang namun tegas. "Aku mengerti keinginanmu, Karina. Tapi bukan seperti ini caranya. Kau bisa bicara kepadaku, kepada ibumu. Jangan kau hadapi semuanya seorang diri."

"Ck, seperti kau tidak punya rencana jahat saja padaku, ini kan yang kau mau? Kenapa pula aku harus bicara padamu dan ibuku? Huh, kau itu...jangan ceramahi aku ya, aku ini lebih tua darimu, aku masih marah dan hei, aku bisa masak air, yang tidak bisa itu nasi kalau tidak ada rice cooker saja."

Jeno menghela napas pelan, ingatkan ia kalau yang ada di hadapannya adalah mantan kekasihnya yang manja, cerewet dan agak sedikit sulit diatur.

"Aku minta maaf untuk itu, aku tau kau marah dan pasti menyakitkan untukmu karena tau fakta itu. Tapi jangan melakukan hal seperti ini lagi, kabur dari rumah bukanlah solusi, Karina." Ujar Jeno lebih tenang mencoba berbicara lebih serius dengan Karina.

Karina diam sejenak, kemudian mengangkat wajahnya yang mulai berkaca-kaca. "Aku malu. Selama ini aku bangga menjadi anak Ayah. Tapi kenyataannya? Aku hanyalah hasil dari pengkhianatan. Anak dari sahabat yang melukai sahabatnya sendiri. Aku bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya ayahku..."

Suaranya mulai bergetar, dan air mata mengalir pelan di pipinya. Ia segera menyekanya dengan punggung tangan. "Kupikir jika aku pergi, aku akan menemukan jawaban. Tapi ternyata, ayah kandungku telah lama pindah ke luar negeri. Tidak ada yang bisa aku temukan, semua sia-sia, dan untuk kembalipun aku tidak ingin, aku memutuskan untuk pergi jadi aku tidak ingin kembali dan membuat ibuku malu dengan tingkahku."

Jeno memandangi wajah Karina dengan sorot mata lembut. Ia beranjak dari kursinya, lalu berdiri di hadapan Karina, mengangkat dagu gadis itu dengan hati-hati.

"Kau bukan anak dari cinta yang salah, Karina. Kau adalah hasil dari cinta yang rumit. Tapi itu bukan kesalahanmu. Kau tetaplah Karina yang kukenal, keras kepala, manja, dan ya tidak tahu cara memasak nasi tanpa rice cooker."

Karina mendesah pelan, meskipun air mata masih mengalir, mulutnya sudah membentuk senyuman kecil. "Salah satu dari sifat itu jelas bukanlah pujian. Aku akan bisa memasak kalau tinggal sendiri lebih lama." Ujar Karina

"Yang mana yang bukan pujian? Tidak tahu cara memasak nasi?" ujar Jeno, tersenyum geli, membuat Karina menahan tawa meski dadanya masih sesak.

Jeno duduk di samping Karina, menarik tangan gadis itu, memperlihatkan bintik merah, "Kau baru semalam tidur disini tapi tanganmu sudah berbintik merah, ini gigitan nyamuk, lalu di dagumu ruam mereka karena kau garuk, airnya tidak akan cocok, kau tidak sakit perut? Kau bahkan tidak bisa makan makanan sembarangan. Kau bilang hidup mandiri? Jangan bermimpi, pulang, kalau tidak aku yang akan menyeretmu pulang."

Crazy Girl vs Cold BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang