Kisah cinta yang rumit memang sangat membuat kedua orang yang kini tengah menikmati waktu berdua itu kelelahan secara fisik juga mental. Kemustahilan yang mereka upayakan memberi hasil yang baik. Keduanya berhasil menempuh segala badai hingga akhirnya bisa bersama.
Karina sejak sampai di tempat mereka untuk honeymoon terus tersenyum cerah, wanita itu bercerita banyak hal soal tempat yang ingin ia kunjungi juga soal masa depan mereka. Jeno bagian menyimak, ia mengaminkan saja apa yang wanita kesayangannya itu sampaikan. Ia berharap tuhan membiarkan mereka hidup bersama selamanya hingga maut menjemput.
"Sayang, ayo cepat!! lihat!! Woah sunset nya cantik, ayo dinner di bawah pohon itu nanti malam, ya ya?"
"Iya, kita buat reservasi dulu, sayang."
Karina menggandeng tangan Jeno dan menariknya pelan menuruni jalan setapak berpasir yang mengarah ke tepi pantai. Angin laut menerpa rambutnya yang terurai, mata wanita itu bersinar penuh semangat seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
Jeno tertawa kecil melihat tingkahnya. "Pelan-pelan, nanti jatuh."
"Aku tidak akan jatuh, selama kamu genggam tanganku." ucap Karina sambil menoleh, senyumnya lebar, tulus, dan hangat.
Jeno berhenti sejenak, membuat Karina ikut berhenti. Ia menggenggam tangan Karina lebih erat, lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku berjanji, aku akan selalu genggam tanganmu. Apa pun yang terjadi nanti," bisiknya lembut.
Karina menatapnya, matanya mulai berkaca. "Aku tahu. Aku percaya padamu."
Angin laut kembali berhembus, kali ini membawa harum laut dan wangi bunga dari taman kecil di belakang mereka. Matahari mulai menyentuh ujung laut, menciptakan semburat oranye keemasan di langit.
Mereka duduk berdua di atas tikar kecil yang sudah disiapkan oleh staf resort, tepat di bawah pohon besar yang tadi ditunjuk Karina. Sebuah meja makan kecil dihias lilin dan kelopak bunga, menghadap langsung ke laut.
"Wah… ini romantis sekali," gumam Karina, matanya berbinar-binar. Ia memeluk lengan Jeno erat-erat. "Terima kasih sudah mau berjuang bersamaku sampai sejauh ini…"
Jeno menoleh, menyentuh pipinya pelan. "Perjuangan kita belum selesai, tapi selama kau di sisiku, aku tidak akan pernah takut pada apa pun."
Karina menunduk, lalu mengangguk. Ada air mata jatuh perlahan di pipinya, air mata bahagia. Mereka pun bersulang dengan gelas berisi jus mangga segar, menatap matahari yang perlahan tenggelam, seolah alam pun merayakan akhir dari luka panjang mereka dan awal dari kebahagiaan baru yang layak mereka miliki.
Angin malam membelai lembut kulit Karina yang mengenakan gaun putih tipis. Di hadapannya, lilin-lilin kecil berkerlap-kerlip di atas meja makan. Jeno sedang menuangkan minuman ke gelas Karina, lalu menatapnya dengan senyum lelah tapi bahagia.
Mereka sudah selesai makan malam. Kini hanya ada suara debur ombak dan alunan lagu jazz pelan dari speaker kecil di pojok tikar.
Karina menyandarkan kepala di bahu Jeno.
"Tau tidak, kadang aku masih merasa takut," ucap Karina tiba-tiba, suaranya kecil, hampir kalah oleh angin.
Jeno menoleh, mengusap bahunya. "Takut apa?"
"Kalau suatu saat kamu akan lelah padaku. Lalu dengan hubungan ini. Aku tahu kita sudah sejauh ini. Tapi kadang, aku takut kalau aku terlalu banyak menuntut, terlalu banyak bicara, terlalu cerewet..."
Jeno terdiam. Ia menarik napas dalam, lalu meraih tangan Karina, menggenggamnya erat.
"Aku mencintai mu apa adanya, aku mencintai kecerewetanmu, aku mencintai tingkah mu yang di luar nalar, yang manja dan semua yang ada pada dirimu, aku mencintai semuanya, Karina. I really do, sejak aku memulai semuanya, dan terjebak pada permainanku sendiri, aku sadar aku mencintai mu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
