Karina menarik napas pelan, menatap sekeliling, ia tidak memiliki banyak pengalaman hidup diluar jangkauan kedua orang tua nya, ia mencoba kabur dari kehidupannya, keluar dari zona nyaman untuk menemukan ketenangan karena statusnya yang terlalu membuat malu dirinya sendiri.
Ia tidak minta dilahirkan, namun ia bisa apa saat harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa ia bukanlah anak ayahnya, bahkan lebih gilanya anak sahabat ayah dan ibunya. Apa ada hal lebih gila lagi di dunia ini? Kini Karina paham kenapa ia tidak boleh bermain dengan cinta karena semua hal gila berawal dari cinta.
Helaan napas terdengar parau, Karina menatap sebuah penginapan kecil yang berada di luar kota, ia tidak tau mau kemana, ia memutuskan untuk menginap lebih dulu semalam sembari mencari tau tentang ayah kandungnya yang entah berada dimana. Kota tempat ia menetap adalah kota dimana ibu, ayah dan sahabat mereka pernah bersekolah.
"Aku pasti bisa, tenang Karina...tenang...semua akan baik-baik saja..."
Sementara di kediaman keluarga Karina. Sang ibu sudah menangis karena tak mendapati putrinya di kamar, lemari nya hampir kosor dan beberapa tas menghilang. Mereka menyadari Karina sudah tak di rumah saat akan sarapan bersama.
Sementara Jeno mulai panik, ucapan gadis itu bukanlah gertakan semata, kemana Karina pergi, gadis manja itu bahkaan tidak bisa mencuci bajunya sendiri, kemana ia kabur dengan kemampuan bertahan hidup hanya hanya beberapa persen.
Jeno mengepalkan tangannya, ia mencoba menghubungi Karina, semua teman-temannya bahkan mengerahkan semua kawannya untuk menemukan Karina di kampus, di tempat gadis itu suka berbelanja atau di tempat les, semua nihil, Karina menghilang bak di telan bumi.
Polisi sudah dikerahkan untuk menemukan gadis itu, semua orang mencoba melacak Karina dari cctv hingga melacak ponselnya, atm yang ia pakai dan segalanya. Namun nihil, Karina ternyata bisa bermain sebersih itu, tidak ada cctv yang menangkap kepergiannya, gadis itu sudah mengambil semua uang di atm yang ia punya bahkan sudah tidak mengaktifkan ponselnya sejak kemarin.
"Kau kemana, Karina..."
Disaat semua orang mulai frustasi mencarinya, Karina tengah sibuk mencari tau mengenai ayahnya, ia akan mendatangi almamater orang tuanya untuk mengetahui asal-usul sang ayah. Dimana laki-laki brengsek itu berada sekarang, sekali saja Karina ingin meninjunya karena sudah membuatnya lahir ke dunia dengan masalah sepelik ini. Namun sebelum memukul Ayahnya, Karina harus menyelesaikan masalah pertama setelah ia bermain kabur-kaburan, yaitu...ia tidak tau caranya memasak nasi tanpa rice cooker.
"Matilah...bagaimana aku akan makan." Ujar Karina mengelus perutnya, dengan langkah gontai ia membuka jendela penginapan yang berada di lantai dua, ia menatap pemandangan kota itu.
"Apa aku bisa menemukan makanan enak di sekitar sini? Tapi kalau aku tersesat bagaimana...huhh~ aku lelah." Ujar Karina lalu membaringkan dirinya, menatap ke langit-langit, tiba-tiba ia merindukan ibunya. Airmata nya mengalir tanpa ia sadari, dengan cepat ia mengusap dengan lengannya.
"Aku bisa mandiri, pasti bisa. Semangat Karina!!"
***
Jeno mengitari banyak tempat untuk menemukan Karina, namun nihil gadis itu tidak ia temukan, namun ia mendapat petunjuk dari ayahnya mungkin Karina akan mencari ayah kandungnya, dan tempat pertama yang mungkin gadis itu kunjungi adalah kota dimana ayah, ibu Karina dan sahabat mereka memulai kisah rumit mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
