24. Changes

589 69 18
                                        






Sudah dua minggu berlalu sejak pertemuan keluarga itu. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Karina. Ia tidak mengerti sejak kapan semuanya berubah, atau apakah perubahan itu sebenarnya sudah terjadi jauh sebelumnya dan ia terlalu sibuk menyangkalnya.

Pagi itu, matahari belum terlalu tinggi saat Karina tiba di ruang sarapan. Ia mengenakan kemeja putih bersih dan rok krem panjang. Rambutnya dikuncir setengah, rapi seperti biasa. Winter sudah duduk di meja, sibuk dengan ponselnya. Di seberang, Jeno menyesap kopi sambil membaca sesuatu di iPadnya. Wajahnya tenang, namun terlalu datar, seperti dinding putih yang tidak memberi petunjuk tentang apa pun.

"Selamat pagi," ucap Karina, mencoba terdengar ceria.

Winter menoleh dan tersenyum kecil. "Pagi, Rin."

Namun Jeno hanya bergumam pelan tanpa menoleh. Suara gumam itu bahkan nyaris tenggelam oleh gesekan sendok di piringnya. Karina pura-pura tidak terganggu. Ia duduk di kursinya seperti biasa, menuang teh ke cangkirnya sendiri, sesuatu yang biasanya tidak ia lakukan jika Jeno ada di ruangan. Biasanya, Jeno-lah yang akan mempersiapkan cangkirnya, menyendokkan madu, bahkan meniupkan uap panas jika ia terlalu pelan menyeruputnya.

Tapi pagi ini, tidak ada tatapan. Tidak ada senyum. Tidak ada percakapan ringan tentang cuaca atau kegiatan hari ini. Jeno seperti tidak melihatnya.

"Apakah kau akan pergi ke kantor siang ini?" tanya Karina hati-hati.

Jeno tidak segera menjawab. Ia membereskan barangnya, meneguk sisa kopinya, lalu mengangguk sedikit.

"Ya. Ada rapat," jawabnya singkat.

"Apakah... Claudia akan datang juga?" tanyanya lagi, dengan suara yang ia paksa tetap netral.

Jeno menoleh sebentar, dan untuk sesaat Karina melihat matanya, mata yang dulu selalu lembut ketika memandangnya, kini tampak dingin. Seperti kaca yang membiaskan bayangan, bukan menampilkan wajah yang sesungguhnya.

"Dia bagian dari tim, tentu dia akan datang," ucapnya, lalu berdiri tanpa menambahkan apa-apa.

Karina hanya mengangguk. Dadanya terasa sesak. Ia tidak bisa lagi membaca Jeno. Tidak bisa menebak apakah lelaki itu sedang marah, sedang sibuk, atau... sudah benar-benar berubah.

Hari-hari berlalu dalam keheningan yang memekakkan. Jeno tidak lagi menghubunginya atau sekedar mengirimi nya pesan. Tidak lagi mengingatkan untuk makan. Tidak lagi bertanya apakah ia baik-baik saja.

Yang paling menyakitkan bukanlah sikap dingin itu. Tapi perasaan asing yang tiba-tiba menyusup di antara mereka. Jeno masih tinggal di rumah yang sama. Mereka masih duduk di meja makan yang sama. Tapi rasanya seperti ada tembok tak kasat mata yang memisahkan.

Dan Karina mulai membencinya, bukan Jeno, tapi perasaan kehilangan ini. Kehilangan tanpa pernah benar-benar memiliki.

Suatu sore, Karina memberanikan diri masuk ke balkon belakang. Tempat itu dulu milik mereka, tempat ia dan Jeno biasa duduk berdua sambil menonton langit berubah warna. Tapi saat itu, hanya Jeno yang ada di sana, berdiri dengan ponsel di tangan, mendengarkan seseorang di ujung sana dengan ekspresi serius.

"Ya. Aku bisa bantu urus presentasinya," katanya. "Tidak masalah, Claudia. Sampai besok."

Claudia lagi.

Crazy Girl vs Cold BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang