23. Sibling

520 61 7
                                        

Cahaya pagi perlahan menembus celah tirai, membelai wajah Karina yang masih tertidur di pelukan Jeno. Udara kamar dingin, tapi tubuh mereka masih hangat karena semalam… mereka saling menjadi tempat berlindung.

Jeno membuka mata lebih dulu. Ia tak langsung bergerak, hanya menatap wajah Karina yang tampak damai dalam tidurnya. Jemarinya dengan ragu menyusuri helai rambut gadis itu, lalu berhenti di pipinya. Dalam hati ia berkata andai waktu bisa berhenti di sini.

Karina menggeliat kecil, membuka mata. Pandangan mereka bertemu. Hening.

"Hari ini kita pulang," gumam Karina pelan, seolah mengingatkan diri sendiri, ia tersenyum getir.

Jeno mengangguk. Ia tidak menjawab. Ia hanya menarik Karina lebih dekat, memeluknya sekali lagi sekuat yang ia bisa, seolah ingin menyimpan kehangatan itu ke dalam dadanya selamanya.

"Aku tidak ingin bangun," gumam Jeno. "Kalau aku bangun, semuanya selesai."

Karina menyentuh wajahnya dengan lembut. "Tapi kita harus bangun, Jeno."

Jeno menghela napas panjang. "Aku takut... kalau aku melihat mu nanti di rumah, aku akan lupa kalau kamu bukan milikku lagi."

Karina tersenyum tipis, lalu menempelkan keningnya ke dahi Jeno. "Aku juga takut... kalau suatu hari kita jadi terlalu biasa, aku juga takut semua menghilang, cintamu, cintaku."

Mereka berdiam lagi. Tak ada kata, hanya waktu yang terus mendesak mereka untuk pergi dari momen ini.

Setelah beberapa menit, Karina perlahan bangkit, membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap ke luar jendela. Langit mulai biru, tapi hatinya masih kelabu.

"Ayo mandi, siap-siap. Kita pulang."

Jeno hanya memandangi punggung Karina. Ia tahu, mulai detik ini, ia tak bisa lagi memeluknya tanpa alasan. Tak bisa lagi tidur di sampingnya tanpa rasa bersalah.  Dan di pagi yang sunyi itu, mereka bangun... bukan hanya dari tidur, tapi dari mimpi yang tak lagi bisa mereka pertahankan.

***

Karina memeluk ibunya saat sampai di rumah, wanita itu menangis meminta maaf atas segala hal yang terjadi, tentang kebohongan dan segalanya. Karina hanya diam, ia tidak marah pada sang ibu atau ayahnya, tapi ia marah pada takdir bahwa ia harus menerima semua kenyataan yang ada. Semua tidak akan lagi sama, bahkan saat ia menatap ayahnya, memeluk laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu, semua berbeda.

"Nak, Ayah ingin berbicara."

Karina mengangguk, ia mengikuti ayahnya melewati Jeno yang hanya diam mematung juga Winter dan ibunya. Karina tau semua tidak akan sama.

"Karina..."

"Ayah, maaf karena membuat kegaduhan."

"Tidak nak, Ayah yang harusnya minta maaf, tentang semua itu."

Karina menutup matanya, "Aku tau semua adalah fakta, aku tidak marah padamu ayah, aku malah ingin berterima kasih karena sudah melakukan banyak hal untuk ku dan ibu."

"Nak. Ayah minta maaf, semua memang benar, tapi ikatan darah tidak bisa menghilangkan rasa sayang ayah padamu, kau anak ayah, putri kebangaan ayah. Jadi tolong, tetaplah disini bersama ayah, nak."

Karina mengangguk, ia memeluk ayahnya. Semua benar, walau ia tidak memiliki ikatan darah dengan ayahnya tapi ikatan batin mereka tidak bisa dipisahkan, ia menyayangi ayahnya begitu juga sebaliknya.

Crazy Girl vs Cold BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang