Jeno menarik napas pelan, sudah berkali-kali ia mengatakan kepada Karina agar berhenti bekerja sebagai crew yang entah apa dan bergabung dengannya di perusahaan Ayah mereka namun wanita itu tidak mau mendengarkannya, alhasil hari ini Jeno dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana wanita itu kelelahan hingga tertidur di ruang tamu keluarga mereka.
Ia mendekati Karina lalu menepuk pipi wanita itu pelan.
"Karina. Bangun. Tidur di kamarmu."
Karina bergumam dengan mata yang masuh tertutup. "Aku masih mengantuk, Ayah." Gumamnya lirih lalu kembali terlelap.
Jeno berdecak, "Aku bukan ayah. Hei. Bangun."
Karina tidak bangung, dengan terpaksa Jeno menggendong wanita itu ke kamarnya, saat sudah membaringkan Karina wanita itu menahan lehernya sambil bergumam, "Nono..." gumam Karina
Jeno menghela napas pelan, lalu menjawab dengan gumaman , "Hmmm."
Karina membuka matanya sayu, "Jangan jahat ya." Ujar Karina lalu kembali terlelap.
Jeno menurunkan tubuhnya lalu memeluk sang pujaan hati, "Maaf." Ujarnya lalu mencium kening Karina.
Sejenak ia memandangi wajah tertidur sang pujaan hati agak lama sebelum memutuskan berjalan keluar melalui pintu kamar Karina. Namun saat sampai pintu ia terhenti, bukannya membuka pintu, Jeno malah mengunci pintu lalu kembali ke arah tempat tidur Karina. Ia mengambil posisi di samping sang kakak tiri lalu menarik wanita itu dalam dekapannya. Erat.
Karina bergerak dalam tidurnya ikut memeluk Jeno dengan erat.
Jeno menarik wajah Karina lalu mengecup bibir wanita itu lama, ia mengelus wajah Karina sambil terus memandangi wajah sang pujaan hati.
Jeno masih memeluk Karina dalam diam. Hembusan napas saudarinya terdengar lembut dan berirama, pertanda tubuh itu benar-benar telah dikuasai rasa lelah yang luar biasa. Dalam dekapan hangat itu, Jeno merasakan betapa rapuhnya sosok yang selama ini tampak begitu keras kepala di hadapannya. Karina, yang selalu tampak kuat dan bersikeras mengurus kehidupannya sendiri, ternyata juga manusia biasa yang bisa lelah, bisa rapuh, dan butuh tempat untuk bersandar.
Sambil memandangi wajah Karina yang tenang dalam tidurnya, Jeno mengembuskan napas panjang. Ada perasaan yang sulit ia ungkapkan. Campuran antara sesal, sayang, dan keinginan untuk melindungi. Ia merasa bersalah. Teramat bersalah.
Suara hatinya mulai berbicara, pelan namun tegas, seolah mencari ruang untuk dikeluarkan setelah sekian lama terpendam.
"Maafkan aku, Karina…" ucapnya lirih, seolah berharap angin malam yang berhembus dari sela jendela akan menyampaikan permohonan itu kepada gadis yang kini terlelap dalam pelukannya. "Aku terlalu sering bersikap keras. Aku menuntutmu untuk menjadi seseorang yang bukan dirimu. Aku memaksa, mengomel, bahkan kadang berkata kasar, hanya karena aku takut. Takut kehilanganmu. Takut melihatmu jauh dariku dan terluka di dunia yang keras ini."
Jeno menundukkan kepala, menyandarkan dahinya ke pelipis Karina. "Aku menilai jalan hidupmu salah, hanya karena tidak sesuai dengan apa yang kupikir benar. Padahal, kau berjuang dengan caramu sendiri. Kau bekerja keras bukan karena kau keras kepala. Tapi karena kau tahu apa yang kau cintai, dan kau tidak ingin bergantung pada siapa pun."
Ia terdiam sejenak. Suasana kamar begitu sunyi hingga bunyi detik jam di dinding terdengar nyaring. Namun di dalam dada Jeno, riuh pikiran dan perasaan tak bisa lagi ia redam.
"Aku tidak ingin menjadi bayangan ayah dalam hidupmu," lanjutnya. "Aku ingin menjadi seseorang yang bisa kau percaya, bukan seseorang yang hanya memerintah dan menghakimi. Aku ingin jadi rumah bagimu, Karina. Tempatmu kembali ketika dunia membuatmu lelah. Tapi semua....sangat sulit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
