Karina berdecak kesal, pasalnya ia duduk di depan bersama supir pribadi ayah mereka sementara Jeno dengan Claudia di belakang, ia sudah seperti pembantu mereka saja. Karina bahkan menggerakkan mulutnya 'nyenyenyenyenye' setiap Jeno berbicara dengan Claudia, mereka bicara sangat formal seperti pegawai dan bos. Tidak mencerminkan orang yang sedang menjalin hubungan sama sekali.
Setelah sampai, mereka kini diberikan kamar masing-masing, ia dan Jeno kamarnya bersebelahan sementara Claudia memiliki kamar di lantai dua berseblahan dengan temannya yang entah siapa namanya. Karina lupa.
"Kemas barangmu, setelah itu kita makan siang bersama, aku ingin mengenalkanmu dengan Jaden dan beberapa teman Claudia."
Karina berdecak, "Aku lelah, aku mau tidur saja."
Jeno menatap saudari tiri nya itu dengan tatapan tajam, "Makan Karina. Setelah itu kau boleh tidur."
Karina kembali berdecak sambil memanyunkan bibirnya, "Ya ya ya, terserah kau saja. Minggir." Ujar Karina mendorong Jeno ke samping lalu memasuki kamarnya dan membanting pintu.
Setelah selesai berberes, Karina menatap beberapa orang yang berada di tempat itu, ada 3 orang laki-laki termasuk Jeno dan 1 perempuan yaotu Claudia sendiri. Oh Karina benci ini.
"Karina ayo kesini." Ujar Claudia
Karina berjalan dengan wajah yang dipaksakan sekali untuk tersenyum, ia berkenalan dengan 2 laki-laki yang bernama Jaden dan Kafi.
Mereka duduk mengelilingi meja makan besar yang dipenuhi berbagai hidangan mewah. Aroma masakan menggugah selera memenuhi ruangan, tetapi Karina hanya memainkan sendoknya, tampak malas. Claudia duduk di sebelah Jeno, sementara Karina kebagian duduk di antara Jaden dan Kafi, yang dari tadi melirik ke arahnya dengan senyum penuh arti.
"Karina, kau suka ayam panggang?" tanya Kafi sembari menyodorkan piring berisi potongan ayam yang tampak menggoda.
Karina menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. "Tidak terlalu. Tapi terima kasih."
"Wah, sayang sekali. Padahal ini salah satu menu andalanku. Mungkin kalau aku yang masak, kau akan berubah pikiran." Suara Kafi terdengar penuh percaya diri, membuat Jaden tertawa kecil.
Karina menoleh lagi, kali ini dengan senyum lebih tulus. "Kau bisa memasak?"
"Tentu. Ibuku selalu bilang, laki-laki yang baik harus bisa memasak agar tidak bergantung pada orang lain." jawab Kafi santai, lalu menatap Karina dengan pandangan bersahabat yang agak terlalu lama.
"Menarik." Karina menjawab sambil mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak datang, ia tampak benar-benar terlibat dalam percakapan.
Sementara itu, Jeno hanya menatap sendoknya, wajahnya mulai mengeras. Ia menyendok nasi dengan tenaga berlebihan, membuat suara sendok dan piring beradu cukup nyaring.
"Tenang saja, Jen. Tidak perlu berkelahi dengan nasimu sendiri," sindir Jaden, menggoda.
Claudia tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana, "Mungkin Jeno lapar sekali."
Namun Karina menangkap perubahan ekspresi saudara tirinya itu. Ia sedikit melirik ke arah Jeno, lalu kembali menoleh ke Kafi.
"Jadi, kau berasal dari sini??" tanya Karina, kali ini dengan nada yang lebih hangat.
"Ya, tapi tidak di pusat kota. Lebih ke pinggiran. Tapi aku sering ke kota untuk urusan pekerjaan. Kau sendiri?"
Karina mengangguk ringan. "Aku di pusat kota sih. Tapi lebih sering di rumah daripada ke mana-mana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
