Keseharian Karina kini agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kini ia tinggal berdua dengan suaminya di sebuah rumah yang terpisah dari rumah kedua orang tua mereka. Jeno memilih untuk tinggal agak jauh dari orang tua mereka karena ia tidak ingin Ayah nya merecoki Karina. Laki-laki tua itu masih tidak terima anaknya menikah dengan Jeno padahal yang anak kandung nya adalah Jeno, malah Karina yang dikhawatirnya. Jeno tidak habis pikir.
Setelah tinggal selama 2 bulan lebih berdua, banyak hal yang menjadi rutinitas baru, contohnya pagi sekali kini Karina harus bangun untuk membuatkan Jeno sarapan, lalu ia bersiap mengantar suami untuk pergi bekerja sementara ia tinggal di rumah saja, ia memutuskan untuk tinggal di rumah dan belajar memasak agar lebih banyak lagi makanan yang bisa ia masak untuk suaminya. Ia juga mulai belajar pastry dan ingin berbisnis dari rumah.
Itu lebih baik daripada ia memaksakan diri bekerja di luar dan akan membuat Jeno juga Ayahnya khawatir. Karina bersyukur, kini hidupnya menemui titik terang ia bahagia bersama sang suami juga bahagia karena keluarga nya masih utuh.
Pagi itu udara masih lembab oleh embun. Matahari bahkan belum muncul sepenuhnya ketika Karina terbangun dari tidurnya dengan rasa tidak nyaman di perut. Ia menggeliat perlahan, mencoba kembali tidur, tapi rasa mual yang kuat tak bisa ia tahan. Ia segera bangkit dan berlari ke kamar mandi, membungkuk di atas kloset dan memuntahkan apa yang terasa seperti seluruh isi perutnya, meskipun nyatanya hanya liur dan sedikit asam lambung.
Tubuhnya gemetar, dingin keringat mengucur dari pelipis, dan kepala terasa sangat berat.
Suara langkah cepat terdengar mendekat. Pintu kamar mandi terbuka perlahan dan muncul wajah cemas Jeno, rambutnya masih berantakan, jelas baru saja terbangun.
"Karina?" suaranya lirih, tetapi jelas panik. "Kau baik-baik saja, sayang? Astaga, kau sangat pucat!"
Karina tidak menjawab, hanya meringis dan mencoba bangkit. Tangannya lemas. Melihat itu, Jeno segera menghampiri dan memapah tubuh istrinya dengan hati-hati.
"Aku akan membawamu ke tempat tidur dulu, lalu kita ke rumah sakit. Oke?" katanya dengan suara tegas namun lembut.
Karina hanya mengangguk pelan, menunduk sambil menahan rasa mual lagi. Jeno memapahnya keluar kamar mandi, memdudukannya perlahan di atas kasur, lalu dengan cepat mengenakan jaket, ia langsung mengantar istrinya ke rumah sakit terdekat.
Jeno khawatir kalau Karina mulai menjadi pendiam karena itu artinya istrinya benar-benar sedang tidak nyaman dan sakit.
Di rumah sakit, setelah serangkaian pemeriksaan dan tes darah, dokter perempuan paruh baya dengan wajah hangat masuk ke ruangan sambil membawa hasil tes.
"Selamat," ucapnya sambil tersenyum. "Istri anda sedang hamil. Usianya kira-kira lima minggu."
Ruangan itu mendadak senyap. Waktu seperti berhenti beberapa detik. Jeno menoleh pelan ke arah Karina yang masih terbaring lemah, lalu matanya kembali menatap dokter.
"H-hamil?" tanyanya, nyaris berbisik.
Senyum dokter mengembang. "Iya. Pusing, mual di pagi hari, dan sedikit kelelahan, itu wajar pada awal kehamilan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisinya cukup baik, hanya saja ia butuh istirahat dan perhatian ekstra."
Karina, yang mendengar ucapan itu, membuka matanya pelan. Pandangannya bertemu dengan Jeno yang kini duduk di sampingnya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Pria itu menggenggam tangan istrinya erat, lembut, seperti takut menyakitinya.
"Sayang...Kita akan punya anak, Karina…" bisik Jeno, suaranya bergetar penuh haru. "Kita… akan jadi orang tua."
Tangis pelan meleleh dari sudut mata Karina. Ia tersenyum, sangat lemah tapi juga sangat tulus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Girl vs Cold Boy
FanfictionKarina Yoo adalah definisi gadis ekstrovert yang tidak terkalahkan, ia adalah gadis periang, ceria, selalu berpikir positif. Tidak pernah ada kata galau dalam kamus hidupnya. Namun Karina sangat sering merajuk karena kekasihnya. Bersanding dengan ku...
