32. To be honest

573 64 5
                                        





Hari ini adalah hari paling melelahkan untuk Karina, ia menjadi crew yang mengisi event besar dan ternyata semua tidak semudah yang ia pikirkan, ia harus berlari kesana kemari mempersiapkan acara, bahkan hingga acara selesaipun mereka masih harus evaluasi dan mendapatkan amukan karena acara hampir saja gagal karena persiapan yang tidak memadai. Bukan salah mereka sebenarnya, tapi begitulah, apa yang bisa diharapkan dari pekerjaan yang hanya menjadi crew seperti ini. Mereka akan dimarahi walau semua tidak sepenuhnya salah mereka.

Karina menggerutu menceritakan semuanya pada Jeno yang malam ini menjemputnya. Dan respon Jeno sedikit membuatnya lebih baik.

"Bekerja memang seperti itu Karina, kalau semua berjalan baik maka kau tidak akan bisa belajar. Dari hal-hal seperti ini lah kau harus belajar bahwa tidak semua hal bisa terjadi sesuai rencana, akan ada beberapa kendala dan kau harus bisa melewati semua itu dan mencari solusi untuk kendala itu."

Karina memanyunkan bibirnya, "Ya kau benar, tapi huhhh mentalku tidak sekuat itu mendengar semua sumpah serapah dan cercaan ketua. Menyebalkan, aku ingin menangis saja."

Jeno tersenyum, ia mengusak rambut Karina dengan sebelah tangannya sambil fokus menyetir. "Kau sudah melakukan yang terbaik, kau hebat karena sudah melewati hari ini."

Karina menarik tangan Jeno untuk ia genggam, "Terima kasih ya adik."

Jeno tertawa, "Sama-sama, Kakak Kayin. "

Setelah sampai di rumah, Jeno dan Karina memasuki kamar mereka masing-masing, semua orang sepertinya sudah tidur karena waktu menunjukkan jam 12 malam.

Karina membersihkan diri dan bersiap untuk tidur, namun ia merasa agak kesepian sendiri, dengan langkah pelan, ia melangkah keluar dari kamarnya, ia berniat ke kamar Jeno namun ia berteriak saat melihat winter keluar dari kamarnya dengan rambut seperti singa.

"Ah!!! Yak!! Kau mengangetkanku!!"

Winter menatap Karina dengan wajah bantalnya, "Kau mau kemana?" Tanya Winter

Karina tergugup, "Hah? Oh mau ke..hmm ke dapur, mengambil minum."

Winter mengangguk, lalu berjalan ke arah kamar Jeno. Karina yang melihat hal itu melotot, "Yak, kau mau kemana?"

"Hm? Ke kamar Oppa ku. Aku mimpi buruk, aku mau tidur dengan Oppa ku." Ujar Winter yang membuat Karina mendelik.

"Kau sudah besar, kenapa masih tidur dengan Oppa mu?."

"Memangnya kenapa? Kau cemburu ya karena tidak bisa tidur dengan Oppa ku."

"Tidak ya! Mana ada!"

Winter menatap Karina dengan tatapan selidik, "Jangan-jangan, kau mau menyelinap ke kamar Oppa ku, dia kan baru putus dengan tunangannya, kau mau ambil kesempatan ya?"

"Heh! Kau kira laki-laki Oppa mu saja? Aku akan ke dapur tau!"

"Eihh aku tidak percaya."

"Terserah kau saja."

Lama berdebat, pintu kamar Jeno terbuka, ia bingung melihat Karina dan Winter ada di depan kamarnya.

"Kalian sedang apa?" Tanya Jeno

Winter berjalan ke arah Jeno lalu memeluk kakaknya, setelah itu ia menjulurkan lidahnya pada Karina, "Oppa aku mimpi buruk, aku tidur denganmu ya?"

Jeno balas memeluk adiknya, "Iya."

Karina mendengus, ia menatap tajam ke arah Winter.

"Dia mau ikut Oppa." Ujar Winter menunjuk Karina

"Hei!! Tidak ya!"

Crazy Girl vs Cold BoyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang