Hari sudah menjelang sore saat Gilang jatuh terduduk di aspal, napasnya pendek tak beraturan. Pelipis dan pangkal hidungnya berdarah sebab terhempas tadi.
Jalanan itu cukup ramai oleh beberapa anak muda yang entah ingin melihat matahari terbenam atau cuma sekedar menmosting foto estetik ala-ala senja. Beberapa ada yang datang untuk melihat keadaan Gilang.
Mobil yang menyerempetnya tadi sudah pergi melesat jauh.
Seorang pemuda yang mungkin berusia sebaya dengan Biru lantas memapah Gilang untuk duduk di trotoar. Tubuh Gilang gemetar hebat, ia masih mencerna tentang kejadian yang menimpanya barusan. Nyeri yang terasa dan suara benturan kepalanya masih terngiang, dan itu sukses membuat rasa sakitnya kini semakin terasa.
Dan rasa sakit itu berhasil membuat Gilang lengah dari perasaan sakit saat memergoki Biru tengah dimaki-maki oleh seseorang. Gilang terkejut, tentu. Ia tak pernah tahu fakta bahwa Biru berhutang ratusan juta untuk biaya hidup serta pengobatannya. Saking terkejut-nya, ia berusaha lari menjauh dan tidak melihat sekitar hingga diserempet sebuah mobil yang sedang melaju kencang.
Rasa nyeri menjalar seketika di dadanya. Saat itu juga air matanya tak mampu ia bendung lagi. Tak peduli orang-orang yang berkerumun di sana akan mengira cengeng, Gilang tak peduli. Ia hanya ingin perasaan sakit dan kecewanya tersalurkan.
***
Pemuda itu duduk di sofa ruang keluarga dengan tangan yang tak henti bergetar. Suara-suara di kepalanya mulai melesat masuk sedikit demi sedikit. Menggerogoti setiap inci kewarasan yang ia miliki.
"Ke rumah sakit, ya?" bujuk Biru setelah membersihkan luka-luka di tubuh adiknya dengan cairan pembersih luka. Tatapan matanya tampak khawatir, bergerak gelisah, mengabsen setiap sudut wajah adiknya.
Gilang menghirup dan membuang napasnya berkali-kali. Persis seperti apa yang psikiater katakan jika suara-suara di kepalanya kembali bermunculan. Ia bahkan tak sanggup untuk melihat tepat ke wajah kakaknya. Wajah itu terlalu sakit untuk Gilang lihat. Pengorbanan Biru berhasil membuat hatinya terluka.
"Ayo ke rumah sakit." Tangan Biru yang mencoba meraih lengannya secara tak sengaja ia tepis.
"Nggak," jawab Gilang ketus, "Aku gak apa-apa."
Alis Biru menukik dengan dahi berkerut, "Gak apa-apa gimana? Udah gemeteran gitu badan lu," Sanggah Biru tak terima. Ia melihat luka-luka goresan di dahi, pelipis, serta beberapa bagian di kaki dan tangan anak itu saja sudah ngilu. Dan ... tumben sekali anak itu menolak ajakan Biru.
Sebulir cairan bening menyerupai kristal lagi-lagi lolos dari matanya, buru-buru Gilang mengusap wajahnya dan membuang pandangan ke lain arah. Meskipun berkali-kali Biru berkata, ia ingin Gilang menceritakan segala masalah yang ia hadapi, ia melakukannya, Gilang tak pernah menutupi apa-apa lagi dari kakaknya itu. Namun, kenapa Biru tak pernah melakukan hal yang sama padanya? Pemuda itu tak pernah menceritakan keresahan dan masalah yang ia lalui dan dipendam sendiri. Soal hutang ratusan juta itu Gilang sama sekali tak tahu. Ia pikir semua biaya hidup dan pengobatannya selama ini benar-benar dari hasil kerja keras Biru, tapi ternyata salah, dan itu membuat batin Gilang serasa tercabik ribuan kali.
"Lain kali kalau mau nyeberang jalan itu hati-hati, ya. Lagian tadi lo pergi ke mana? Kenapa gak bilang-bilang?"
Setetes air mata Gilang menitik begitu saja saat kepalanya ia tolehkan, dan itu tertangkap indera penglihatan Biru. Jantung Biru mencelos jatuh ke telapak kaki saat manik bulat dengan hiasan bulu mata panjang itu memerah menumpahkan telaganya. Tangan Biru terulur menyentuh pundak sang adik dengan lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
REDAM
Ficção Adolescente"Kalau sebaik-baik takdir adalah kehidupan, dan sebaik-baik tujuan adalah mati di usia muda. Maka aku akan memilih opsi kedua." [ON GOING] Warn! Kekerasan, blood, bullying, depression, suicide! Child abuse! #1 choibeomgyu #1 tomorrowxtogether
