11. Serpihan Kecil Dari Pengharapan

1.9K 169 11
                                        

Sejak awal, Gilang memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pemendam. Apa yang ia rasa akan ia simpan. Jika tak dipaksa takkan pernah ia ceritakan. Baginya, keluh adalah haram, maka dari itu ia selalu mencari pelampiasan.

Dulu, saat usianya masih sangat muda, belum mengenal kerasnya dunia, anak itu akan berlari ke kamar kakaknya untuk minta dinyanyikan sebuah lagu bersama alunan gitar. Memang tidak bisa menghilangkan rasa sakit di lengannya setelah dicubit Bella, atau rasa pedih di hatinya setelah disalahkan Leo. Setidaknya, dengan alunan yang dihiasi suara merdu Biru bisa membawa dirinya cepat menuju alam mimpi dan melupakan semuanya.

Berulang kali saat Biru pulang dari kegiatan sekolah malam hari, ia mendapati Gilang yang duduk meringkuk di teras rumah, dikunci di gudang, atau menangis di halaman dalam keadaan basah kuyup.

Setiap kali ditanya, jawaban yang Biru dapati hanya berupa gelengan. Hal itu membuat Biru frustasi. Setiap hari, selalu ada luka baru di tubuh adiknya. Luka bekas dicubit, luka lebam di punggung, sampai luka goresan di sekitar mata. Biru tak tahu apa yang telah mereka lakukan terhadap Gilang, dan hal itu membuat rasa sesal di dadanya semakin brutal. Biru hanya ingin melindungi adiknya, itu saja.



Biru membuang napas kasar. Niatnya ke rumah sakit hanya untuk mengobati luka-luka di tubuh anak itu, malah dihadapkan dengan dua diagnosis lain. Biru tak pernah membayangkan bahwa tahap memendam yang Gilang lakukan akan mencapai titik ini. Gilang tak pernah mengeluhkan rasa sakit, tak pernah menceritakan rasa sedih. Dulu, level pemendam yang Gilang lakukan mungkin hanya berupa sakit setelah dicubit atau ditampar ayah, menutupinya hanya dengan gelengan kepala. Namun, saat ini, Gilang sudah sangat keterlaluan. Anak itu bahkan tak pernah mengeluhkan jika selama ini ia sering memuntahkan darah segar dari perutnya. Anak nakal itu juga telah menutupi bahwa selama lebih dari 2 minggu lamanya ia sering melakukan latihan menari diam-diam. Biru bahkan tak akan tahu bahwa Gilang kembali mengikuti kompetisi menari itu jika bukan Shabin yang memberi kabar.

Sekali lagi, Biru kembali ditampar oleh kenyataan bahwa dirinya belum menjadi sosok pelindung yang baik untuk Gilang.

Diagnosa pertama adalah hepatomegali, yaitu komplikasi baru dari Thalassemia di tubuh Gilang. Dimana bagian hatinya mengalami pembesaran, disebabkan oleh mengonsumsi obat-obatan diluar anjuran dokter, serta fisik yang terus-terusan dipaksa bekerja.

Biru terbungkam, menatap kertas di tangannya dengan tangan bergetar.

"Lo gak tau, selama ini adik lo sering mengonsumsi obat penenang dalam dosis tinggi?"

Biru menggeleng dalam kebungkaman, akalnya terlalu sulit menerima semua ini.

"Pada pengidap thalassemia, produksi sel darah merah yang gak normal dapat memicu kondisi eritropoiesis ekstramedular, yaitu ketika sel darah merah dihasilkan oleh organ tubuh lain, seperti hati." Biru mendengarkan penjelasan mendetail yang Saga sampaikan, walaupun sebenarnya ia tak begitu paham, Biru menangkap intinya disini adalah, penyakit baru tumbuh disebabkan oleh produksi sel darah merah Gilang yang tak normal dan imun tubuh yang menurun.

"Dan ini juga bisa disebabkan oleh pengonsumsian obat-obatan dalam dosis tinggi tanpa anjuran dokter. L Dan diagnosa ini juga menjadi penyebab utama kenapa tadi malam adik lo muntah darah."

"Apa selama ini lo gak pernah membatasi apa yang dia makan? Lo tau 'kan, pengidap penyakit ini gak bisa sembarangan mengonsumsi bahan makanan tertentu?"

Lagi-lagi, Biru bungkam. Manik kembar itu hanya menatap nanar pada tulisan di kertas yang ia pegang.

"Gue gak mau liat air mata lo disini, karena hal itu gak bakal mengubah apapun."

REDAMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang