32. Ngengat dan Capung

646 45 14
                                        

Suatu hari, capung berkata kepada ngengat yang mengarah ke api. "Kamu tahu api adalah jebakan yang dibuat oleh manusia. Kamu hidup tidak hanya satu hari sepertiku, kenapa kamu melemparkan dirimu ke api padahal kamu tahu akan mati?"

Ngegat berkata, "Apinya terlalu indah untuk tidak kuhampiri. Tidak ada keindahan tanpa rasa sakit."


Kata-kata itu menusuk relung hati Gilang. Ia pernah membacanya di suatu tempat. Kalimat yang selalu mengingatkannya pada Biru, yang rela melemparkan diri ke dalam api disaat ia memiliki kesempatan lebih lama untuk hidup.

Gilang menggenggam erat selembar kertas kecil di tangannya sampai remuk. Keadaan ini mengapa begitu sulit? Gilang tahu bukan hanya dirinya yang memiliki masalah ---Biru pun sama.

Remaja dengan rambut yang telah memanjang melampaui daun telinga itu kembali menyimpan kertas yang telah remuk tadi ke dalam paper bag saat mendengar suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya. Namun, langkah itu tak lagi terdengar, suara Biru pun tak kunjung menggema ... mengapa Biru tak memanggilnya?

Kemudian langkah itu menjauh, semakin kecil lalu hilang. Beriringan dengan itu, terdengar suara mesin mobil berhenti dari depan kediaman mereka. Berhenti tapi suara mesinnya tetap hidup. Gilang mencoba untuk abai, tapi, suara pintu cafe --yang sudah tutup-- terbuka kembali menyita antensi Gilang sepenuhnya. 'Siapa yang bertamu selarut ini?'




---








Seumur-umur, Dean tidak pernah berpikir akan berada di dalam situasi ini. Terasingkan dalam lautan manusia yang memandangnya dengan hina. Berat memang, tapi yang cowok itu harus lakukan hanyalah tetap melangkah dan mengabaikan semua tatapan serta bisik-bisik samar yang terdengar di sepanjang langkahnya.

Dean membawa nampan berisi makanan sambil memutar pandang ke seluruh penjuru kantin. Semua tempat duduk tampak penuh─ada beberapa yang satu atau dua kursinya kosong─tapi Dean tidak memiliki mental yang cukup kuat untuk bergabung.


"Duduk di sini aja, yang itu kosong."

Sontak Dean menoleh ketika salah satu pengunjung kantin yang duduk di meja yang tepat berada di samping kanannya menyeletuk. Sejenak, ia ragu. Rasanya agak tidak tahu diri bergabung duduk bersama teman-teman Gilang. Ya, suara tadi milik Shabin yang duduk sendirian di sana. Dean tahu, diantara ketiga teman Gilang, Shabin adalah pribadi yang paling transparan. Namun, tetap saja, ia sungkan. Walau bagaimana pun, Dean adalah salah satu penyebab penderitaan Gilang.

Melihat ke sekitar, meja-meja kantin masih sangat penuh, mau tak mau Dean duduk sesuai permintaan Shabin tadi.

"O- oke ...," gumamnya. Lalu menarik kursi dan mendudukinya.

Cowok itu mengaduk mie instannya tanpa tenaga. Ia masih tidak percaya bahwa hidupnya yang semula berlimpah perhatian dan kasih sayang berubah 180 derajat. Menjadi seorang pecundang yang terasingkan.

Awalnya, mereka makan dalam diam, Shabin sibuk memakan gorengan sambil membolak-balik kertas soal, sedang Dean fokus menyantap mie instannya dengan pikiran penuh. Menyalahkan keadaan yang membuat hidupnya menjadi kian kacau seperti sekarang. Bisa dikatakan Dean telah kehilangan segalanya. Ayahnya selalu sibuk mencari informasi tentang keberadaan Gilang dan Biru dengan beberapa orang suruhannya, Hanif menjauhinya, dikucilkan, dikeluarkan dari team dance sekolah, Ayah dan Bunda yang kehilangan keharmonisan dalam rumah tangga, serta cacian dan hinaan yang tak henti merundungnya setiap hari.

Penuh oleh isi pikiran, Dean sampai tidak menyadari bahwa ada seseorang yang duduk di samping kursinya.

Shabin sontak mengalihkan fokus dari kertas soal kepada seseorang yang datang dan duduk di hadapannya itu. "Lo sendirian aja? Mana Sena?" Cowok itu mengintip ke balakang punggung Jaka, tapi dibalas dengkusan oleh cowok itu.

REDAMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang